
Penulis: Tim Redaksi
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Sulawesi Utara menjadi provinsi dengan persentase tertinggi anak muda usia 15–24 tahun yang tidak sedang sekolah, bekerja maupun mengikuti pelatihan pada tahun 2025.
Apa Itu NEET dan Mengapa Jadi Sorotan?
Dalam tabel resmi BPS, angka tersebut mencapai 29,52 persen. Indikator ini dikenal dengan istilah NEET (Not in Education, Employment, or Training), yakni kelompok usia muda yang berada di luar pendidikan, pekerjaan dan pelatihan keterampilan.
Artinya, hampir tiga dari sepuluh anak muda di Sulawesi Utara tercatat tidak sedang menempuh pendidikan, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan.
Sulawesi Utara berada di posisi teratas secara nasional, diikuti Maluku 28,49 persen, Papua 26,34 persen dan Maluku Utara 25,65 persen. Angka Sulut juga jauh di atas rata-rata nasional.
Data tersebut memunculkan perhatian serius di tengah momentum bonus demografi Indonesia, ketika generasi muda diharapkan menjadi penggerak utama produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.
Ferry Sangian Soroti Pentingnya Pelatihan Entrepreneur
Pemerhati dunia pendidikan, Ferry Jones Sangian, S.Sos, MAP, menilai kondisi tersebut perlu disikapi bersama melalui pendekatan pendidikan keterampilan dan pemberdayaan anak muda.
“Menyikapi data anak muda usia produktif di Sulut yang tidak memiliki aktivitas positif dan produktif, menurut saya komunitas anak muda di lembaga agama bisa memfasilitasi pelatihan entrepreneur bagi anak muda,” ujar Ferry.
Menurutnya, pemerintah juga perlu menghadirkan program pelatihan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.
“Pemerintah bisa memfasilitasi anak-anak muda Sulut dengan pelatihan keterampilan berupa life skill atau kecakapan hidup dengan memperhatikan kebutuhan pasar,” katanya.
Ia menilai pelatihan berbasis kebutuhan pasar penting agar generasi muda tidak hanya bergantung pada lapangan pekerjaan formal, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha secara mandiri.
Selain keterbatasan lapangan kerja, tingginya angka anak muda di luar sekolah dan dunia kerja juga dinilai dipengaruhi akses pelatihan yang belum merata, tantangan ekonomi keluarga, hingga ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri.
Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal perlunya kolaborasi pemerintah daerah, dunia pendidikan, lembaga keagamaan dan sektor industri dalam memperluas akses pelatihan, pendampingan dan peluang kerja bagi generasi muda di Sulawesi Utara.
Lihat juga:
- Prajogo Pangestu Orang Terkaya Indonesia Mei 2026 Versi Forbes, Kekayaan Rp 362 Triliun
- Ekonomi Sulut Tumbuh 5,54 Persen, Pariwisata Melejit hingga 20 Persen Lebih
- Ekonomi Sulawesi Utara 2025 Melaju 5,66 Persen, Bitung dan Manado Jadi Perhatian
- Ini Daerah dengan Kontribusi PDRB Terbesar di Sulawesi Utara 2025
- MBG Sulawesi Utara Putar Rp6,4 Miliar Sehari, Ribuan Warga Miskin Punya Penghasilan
- Provinsi Paling Bahagia di Indonesia: Sulawesi Utara Peringkat 5, Jawa Nihil
