
Penulis: Alfrits Semen | Minahasa Utara
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sulawesi Utara kini tidak hanya menyentuh persoalan gizi tetapi telah menjadi mesin penggerak ekonomi rakyat yang berputar lebih dari Rp6,4 miliar setiap hari. Dana itu mengalir langsung ke tangan ribuan warga miskin ekstrem yang kini memiliki penghasilan tetap dari 180 SPPG yang beroperasi di seluruh Sulut.
Fakta ini diungkap langsung oleh Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya, dalam Rapat Konsolidasi Pelaksanaan MBG bersama kepala SPPG, yayasan, dan mitra di Sulawesi Utara, Jumat (8/5/2026) di Minahasa Utara.
MBG Sulawesi Utara: Bukan Bantuan, tapi Stimulus Ekonomi Lokal
Sony menegaskan cara pandang terhadap program MBG di Sulut harus bergeser. Ini bukan sekadar program pangan gratis, melainkan kebijakan strategis yang dirancang untuk menggerakkan ekonomi dari lapisan paling bawah masyarakat.
“Orientasinya bukan profit, tetapi meningkatkan asupan gizi, memperbaiki gizi masyarakat, sekaligus meningkatkan ekonomi di berbagai lapisan,” tegasnya.
Ia menggambarkan aliran dana MBG seperti hujan yang meresap ke tanah dari pusat menyebar ke seluruh Indonesia, hingga menyentuh ekonomi terkecil di desa dan kelurahan.
“Kalau saya analogikan, uang pemerintah itu seperti butiran air hujan yang mengalir dari atas langsung ke sel-sel di bawah, dari Aceh sampai Papua, dari desa sampai metropolitan,” ujar Sony.
Data MBG Sulut: Angka yang Membuktikan Dampak Nyata
Di Sulawesi Utara, 180 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini aktif beroperasi. Berikut gambaran dampak ekonominya per hari:

Secara nasional, dana MBG mengalir Rp1 triliun per hari, dengan Rp122 miliar per hari diserap sekitar 1,2 juta relawan SPPG di seluruh Indonesia.
Warga Miskin Ekstrem Desil 1-2 Kini Punya Penghasilan Tetap
Dari 7.819 tenaga kerja yang bekerja di SPPG Sulut, sebagian besar berasal dari keluarga miskin hingga miskin ekstrem desil 1 dan desil 2, kelompok yang selama ini nyaris tidak terjangkau lapangan kerja formal.
Sektor usaha rakyat yang ikut menikmati aliran dana MBG Sulut meliputi pedagang beras, penjual ikan, sayur, buah, telur, hingga daging ayam, semuanya mitra lokal yang sehari-hari beroperasi di pasar-pasar tradisional Sulawesi Utara.
“Betul-betul menghidupkan dan memutarkan perekonomian masyarakat di tingkat bawah,” jelas Sony.
Evaluasi Ketat: 18 SPPG di Sulut Sempat Disuspensi BGN
Konsolidasi ini sekaligus menjadi forum evaluasi. Sony mengungkap sekitar 18 SPPG di Sulawesi Utara sempat dikenai suspensi sementara akibat pelanggaran dan ketidaksesuaian standar operasional.
“Kalau ada sarana-prasarana yang tidak sesuai spesifikasi, baik pelanggaran minor maupun mayor, maka dilakukan suspend dan diberikan kesempatan melakukan perbaikan,” ujarnya.
BGN juga menyoroti satu insiden pada Januari lalu di Sulut yang dipicu tidak dijalankannya SOP produksi MBG.
Pengawasan kini diperketat melalui sistem monitoring digital real-time yang mampu memantau kehadiran kepala SPPG di setiap wilayah.
“Kita bisa monitor apabila ada kepala SPPG yang tidak masuk atau tidak bekerja,” tandasnya.
Seluruh relawan SPPG dipersyaratkan minimal berusia 18 tahun, memiliki surat keterangan kesehatan, dan dinilai layak bekerja.
