
DI tengah forum yang mempertemukan daerah-daerah dari kawasan konflik dunia, Joune Ganda datang membawa pesan berbeda: perdamaian tidak lahir setelah konflik terjadi, tetapi dibangun jauh sebelum krisis muncul.
Oleh: Alfrits Semen
Tangier kala itu tidak sedang membicarakan pariwisata.
Tidak pula investasi.
Di salah satu forum paling bergengsi bagi pemerintah daerah dunia, isu yang mengemuka justru jauh lebih mendasar: perdamaian.
Para pemimpin lokal dari berbagai negara berkumpul membawa cerita masing-masing.
Ada yang berbicara tentang konflik yang belum berakhir.
Ada yang membahas keretakan sosial.
Sebagian lain berbagi pengalaman menghadapi polarisasi yang semakin menguat di tengah masyarakat.
Lalu tibalah giliran seorang kepala daerah dari ujung utara Pulau Sulawesi.
Namanya Joune Ganda.
Bupati Minahasa Utara itu berdiri di hadapan peserta United Cities and Local Governments (UCLG) World Assembly 2026 di Tangier, Maroko, Selasa (23/6/2026).
Sebuah forum yang menjadi ruang pertemuan para pemimpin daerah dari berbagai belahan dunia untuk membicarakan masa depan pembangunan global.
Yang membuat momen itu menarik bukan hanya karena Minahasa Utara hadir sebagai satu-satunya finalis UCLG Peace Prize dari Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.
Ada simbolisme yang lebih kuat.
Joune Ganda tampil tepat setelah Wali Kota Ramallah, Palestina.
Dua daerah.
Dua realitas berbeda.
