
Penulis: Alfrits Semen
Nama Kabupaten Minahasa Utara kembali bergema di forum internasional.
Di hadapan para pemimpin daerah dari berbagai belahan dunia, Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, tampil sebagai finalis sekaligus pembicara dalam ajang bergengsi UCLG Peace Prize 2026 yang berlangsung pada rangkaian di Tanger, Maroko, Senin (23/6/2026).
Prestasi ini menjadi pencapaian yang membanggakan karena Minahasa Utara berhasil menjadi satu-satunya wakil Indonesia dan kawasan Asia Pasifik yang menembus lima besar finalis penghargaan perdamaian tingkat dunia tersebut.
Empat finalis lainnya berasal dari Ekuador, Brasil, Kenya, dan Sudan Selatan.
Kehadiran Joune Ganda di panggung internasional bukan sekadar mewakili daerah yang dipimpinnya, tetapi juga membawa pesan kuat tentang bagaimana keberagaman dapat menjadi fondasi perdamaian yang kokoh jika dikelola melalui kepemimpinan yang inklusif dan kolaboratif.
Dalam sesi presentasi final bertema Enhancing Peace in Our Communities: Stories from the UCLG Peace Prize 2026 Finalists, Joune Ganda memaparkan berbagai strategi yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara dalam menjaga kerukunan masyarakat yang majemuk.
Mulai dari penguatan dialog lintas agama, pelibatan tokoh masyarakat, hingga pembangunan kepercayaan publik berbasis komunitas menjadi bagian penting dari model pembangunan sosial yang dijalankan di daerah tersebut.
“Keberagaman adalah kekuatan yang harus terus dirawat bersama. Pemerintah daerah harus hadir sebagai jembatan yang memperkuat dialog, toleransi, dan rasa memiliki terhadap pembangunan,” ungkap Joune Ganda dalam pemaparannya di hadapan dewan juri dan peserta kongres.
Masuknya Minahasa Utara ke jajaran finalis UCLG Peace Prize 2026 menjadi bukti bahwa praktik-praktik baik yang dilakukan di tingkat lokal mampu mendapat pengakuan dunia.
Berbagai program yang melibatkan pemerintah, tokoh agama, pemuda, perempuan, serta elemen masyarakat lainnya dinilai berhasil menciptakan lingkungan yang harmonis sekaligus mencegah munculnya konflik sosial.
Lebih dari sekadar kompetisi, ajang ini menjadi arena bagi daerah-daerah dari berbagai negara untuk berbagi pengalaman dan inovasi dalam membangun perdamaian berkelanjutan.
Penilaian dilakukan berdasarkan dampak program, inovasi, keberlanjutan, serta kontribusi nyata terhadap terciptanya kehidupan masyarakat yang damai dan inklusif.
Apabila berhasil meraih penghargaan tertinggi, pemenang UCLG Peace Prize 2026 tidak hanya memperoleh pengakuan internasional, tetapi juga dukungan pendanaan dan pendampingan guna memperluas implementasi program perdamaian yang telah terbukti berhasil di daerah masing-masing.
Partisipasi Minahasa Utara dalam ajang global ini semakin menegaskan posisi daerah tersebut sebagai salah satu contoh sukses pembangunan perdamaian berbasis masyarakat di tingkat lokal.
Di sisi lain, keberhasilan Joune Ganda menembus panggung final dunia menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.
Di tengah berbagai tantangan global yang masih dibayangi konflik dan polarisasi sosial, langkah yang ditunjukkan Minahasa Utara menjadi pesan kuat bahwa perdamaian dapat dibangun dari daerah, dimulai dari komunitas, dan kemudian menginspirasi dunia.
Dalam kegiatan tersebut, Bupati Joune Ganda didampingi Kepala Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Minahasa Utara, Sefferson Sumampouw.
