
Penulis: Tim Redaksi
Siapa sangka, Indonesia yang masih berjuang dengan ketimpangan akses internet justru mencatat prestasi mengejutkan di panggung global: menjadi salah satu negara paling aktif menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari dan mengonsumsi berita.
Fakta ini bukan klaim sembarangan. Data resmi ini bersumber dari Reuters Institute Digital News Report 2026, laporan tahunan bergengsi dari Universitas Oxford yang mensurvei lebih dari 96.000 responden di 48 negara, termasuk Indonesia.
Indonesia Masuk 4 Besar Dunia
Laporan yang dirilis Juni 2026 itu menemukan bahwa 12% warga Indonesia menggunakan AI chatbot — seperti ChatGPT, Google Gemini, atau Perplexity — sebagai sumber berita dalam satu minggu terakhir. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat 4 dunia, tumbuh 3 poin persentase dibanding tahun sebelumnya.
Berikut peringkat lengkap negara dengan penggunaan AI chatbot untuk berita tertinggi di dunia:
- Korea Selatan — 14% (+7pp)
- Brasil — 13% (+4pp)
- Yunani — 12% (+6pp)
- Indonesia — 12% (+3pp)
- Malaysia — 11%
- Peru — 11% (+5pp)
- Swiss — 10%
- Bulgaria — 9% (+4pp)
- Jepang — 9% (+4pp)
- Australia — 9% (+3pp)
Sementara Amerika Serikat hanya mencatat 6% dan Inggris bahkan berada di posisi terbawah dari seluruh negara yang disurvei dengan angka 4% saja.
Mengapa Indonesia Bisa Mengalahkan AS dan Eropa?
Peneliti Reuters Institute menjelaskan bahwa tingginya penggunaan AI untuk berita di negara seperti Indonesia berkaitan erat dengan pola konsumsi media yang sudah lebih dulu “berbasis platform.” Masyarakat Indonesia sudah terbiasa mencari berita lewat Google, media sosial, dan agregator — sehingga beralih ke AI terasa lebih alami dibanding di negara-negara Eropa yang masih kuat budaya media tradisionalnya.
Indonesia adalah pasar yang sangat social-first: 64% warganya mendapat berita dari media sosial, WhatsApp mendominasi dengan 56%, diikuti YouTube (47%), Facebook (44%), dan TikTok (43%). Dalam ekosistem seperti ini, AI chatbot menjadi satu lagi “jendela informasi” yang mudah diadopsi.
Secara global, penggunaan AI untuk berita naik dari 7% menjadi 10% dalam setahun — pertumbuhan yang disebut laporan ini sebagai “cepat, bukan eksplosif.”
Siapa yang Menggunakan AI untuk Berita?
Data Reuters Institute menggambarkan profil pengguna AI untuk berita sebagai kelompok yang justru paling aktif mengonsumsi berita, bukan yang pasif. Sebanyak 38% dari pengguna AI chatbot untuk berita masuk kategori “news lover” — jauh di atas rata-rata responden umum (22%).
Mereka cenderung mengakses banyak outlet sekaligus, aktif mencari informasi, dan terbuka pada berbagai format dan platform. Bukan orang yang malas membaca — justru sebaliknya.
Adapun alasan utama orang menggunakan AI chatbot untuk berita antara lain:
- Bisa mengajukan pertanyaan lanjutan tentang sebuah isu (42% pengguna)
- Mendapatkan berita terbaru secara ringkas (35%)
- Merangkum berita yang panjang (34%)
- Membantu memahami isu yang kompleks (30%)
- Mengecek kredibilitas sumber berita (33%)
Tantangan: Kepercayaan Masih Rendah
Di balik lonjakan penggunaan, ada catatan penting soal kepercayaan. Secara global, hanya 20% masyarakat umum yang mempercayai berita dari AI chatbot — jauh di bawah kepercayaan pada media secara umum (37%). Di Inggris, angka ini bahkan hanya 6%.
Namun ada paradoks menarik: di kalangan yang sudah menggunakan AI untuk berita, tingkat kepercayaan melonjak ke 44%. Artinya, ketidakpercayaan sebagian besar datang dari mereka yang belum pernah mencobanya.
Ancaman bagi Media Konvensional
Para penerbit berita di seluruh dunia kini menghadapi tantangan baru yang disebut laporan ini sebagai efek “Google Zero”: apakah pembaca akan puas dengan jawaban dari AI tanpa perlu mengklik ke situs berita asli?
Ini pertanyaan eksistensial bagi industri media Indonesia — termasuk media-media lokal di daerah — ketika pembaca mulai “minta rangkuman” dari ChatGPT alih-alih membuka halaman berita.
Catatan Penting
Reuters Institute menekankan bahwa data ini mengacu khusus pada penggunaan AI chatbot mandiri seperti ChatGPT, Perplexity, dan Google Gemini — bukan fitur AI yang tertanam dalam mesin pencari atau aplikasi lainnya.
Laporan Reuters Institute Digital News Report 2026 ini merupakan hasil survei terhadap 96.000 lebih responden di 48 negara, dilakukan pada awal 2026 dan diterbitkan oleh Reuters Institute for the Study of Journalism, Universitas Oxford.
