Nasional

Produksi Beras Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara & Ke-4 Dunia – FAO 2026

Infografis peringkat produksi beras tertinggi ASEAN 2026/2027 versi FAO: Indonesia 38,6 juta ton (peringkat 1), Vietnam 28,4 juta ton, Thailand 21,8 juta ton, Myanmar 16,7 juta ton, Filipina 12,2 juta ton, Kamboja 8,6 juta ton.
Indonesia memimpin produksi beras di kawasan ASEAN dengan proyeksi 38,6 juta ton pada 2026/2027 menurut FAO Food Outlook edisi Juni 2026 — jauh melampaui Vietnam (28,4 jt ton), Thailand (21,8 jt ton), dan negara-negara ASEAN lainnya. Capaian ini terjadi justru saat produksi beras dunia diprediksi turun 1,6 persen. (Sumber: FAO / Kementerian Pertanian RI)

BeritaManado.com — Di tengah ancaman El Niño dan proyeksi penurunan produksi beras global, Indonesia justru tampil sebagai pengecualian yang membanggakan.

Badan Pangan Dunia PBB, Food and Agriculture Organization (FAO), dalam laporan terbarunya edisi Juni 2026, secara resmi menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara sekaligus peringkat keempat dunia — sebuah capaian yang melampaui ekspektasi bahkan target pemerintah sendiri.

Indonesia di Atas Vietnam, Thailand, hingga Myanmar

Dalam pemeringkatan FAO untuk kawasan ASEAN, posisi Indonesia tak tergoyahkan. Dengan proyeksi produksi sebesar 38,6 juta ton pada musim tanam 2026/2027, Indonesia unggul jauh meninggalkan negara-negara tetangga.

Di tingkat global, Indonesia berada di urutan keempat setelah India (146,5 juta ton), Tiongkok (143,6 juta ton), dan Bangladesh (41,3 juta ton).

Melampaui Target Kementan, Melebihi Prediksi Sendiri

Yang membuat capaian ini semakin luar biasa adalah fakta bahwa proyeksi FAO justru jauh melampaui target yang ditetapkan Kementerian Pertanian RI sendiri.

Kementan menetapkan target produksi beras sebesar 34,83 juta ton, namun FAO memproyeksikan angka 38,6 juta ton — selisih hampir 4 juta ton di atas target nasional.

FAO telah kembali menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan keempat tertinggi di dunia setelah India, Tiongkok, dan Bangladesh,” ujar Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam pernyataan resmi di Jakarta, Sabtu, 20 Juni 2026.

Dunia Turun, Indonesia Naik: Kontras yang Mengejutkan

FAO memproyeksikan produksi beras dunia pada 2026/2027 akan turun 1,6 persen menjadi 552,4 juta ton dibandingkan musim sebelumnya.

Pemicunya adalah krisis El Niño dan lonjakan biaya produksi yang memaksa petani di berbagai negara memangkas luas lahan tanam.

Negara-negara besar yang diprediksi mengalami penurunan tajam antara lain:

  • Amerika Serikat: -15,2%
  • Brasil: -12,9%
  • Thailand: -6,1%
  • India: -3,6%

Sebaliknya, hanya segelintir negara yang justru diproyeksikan naik, dan Indonesia masuk dalam kelompok eksklusif tersebut, bersama Pakistan (+2,9%), Filipina (+0,4%), dan Tiongkok (+0,3%).

Indonesia naik +0,2% — angka yang terlihat kecil, namun sangat bermakna dalam konteks penurunan produksi global.

Stok Melimpah, Impor Beras Medium Dihentikan

Lonjakan produksi ini berdampak langsung pada ketahanan pangan nasional. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog saat ini berada di angka lebih dari 5 juta ton — rekor tertinggi dalam sejarah modern pengelolaan pangan Indonesia.

Lebih jauh, melimpahnya pasokan domestik telah membuat pemerintah mengambil keputusan bersejarah: sejak 2025, tidak ada satu pun izin impor beras medium untuk konsumsi yang dikeluarkan.

Stok CBP kami per Juni sekitar 5,2 juta ton dan stok kami aman. Tapi yang terpenting, tidak ada izin impor beras medium yang dikeluarkan sejak 2025,” tegas Amran.

Petani Pun Ikut Menikmati

Dampak positif tidak hanya dirasakan pada level makro. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks harga yang diterima petani padi pada Mei 2026 mencapai 147,97 — tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Nilai Tukar Petani (NTP) komoditas tanaman pangan juga mencetak puncak tahun ini di angka 113,79.

Di sisi lain, inflasi beras yang sempat menekan daya beli masyarakat kini terkendali.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara