Opini

PLTN Pertama di Indonesia

Seharusnya dalam periode ini pembangunan PLTN kapasitas besar yi 1000MW keatas per unit sudah harus dimulai dan diumumkan bersama dengan yang berkapasitas 500MW, agar dalam memasuki pembangunan tahap ke-2 yi 2035-2049, di-tahun2 awal sudah ada PLTN berkapasitas besar beroperasi.

Harus di-ingat PLTN kapasitan besar ini pembangunannya rata2 10 tahun.

Karena itu jangan ditunggu dibangun pada awal 2035- karena selesai dan beroperasinya bisa lewat 2045, sehingga tidak sesuai dengan target yang akan dicapai pada thn 2050 sesuai yang diatur dalam RUEN (Rencana Umum Energi Nasional)

Sebagai Negara kepulauan yang terdiri sekitar 17.000 pulau, maka Indonesia sangat cocok untuk dibangun PLTN Terapung di pulau luar Jawa terpencil yang penduduknya belum menikmati listrik.

Apalagi kalau dipulau tsb memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, dimana pengolahannya memerlukan tenaga listrik, perlu mendapat prioritas pemerintah, dimana SDA itu bisa menjadi sumber pendapatan negara yang cukup besar.

Di dunia saat ini, baru Rusia yang memproduksi PLTN Terapung KLT-40S yang sejak thn 2019 sedang beroperasi di diwilayah Pevek, sebuah kota dari Distrik federal Chukotka, bagian timur Rusia.

PLTN terapung ini disamping menghasilkan listrik, juga memproduksi panas dan air bersih untuk masyarakat melalui proses desalinasi.

PLTN ini bernama Akademik Lomosonov.

Sedikit data dari PLTN Tongkang Akademik Lomosonov yaitu reaktor nuklirnya terletak diatas kapal tongkang dan terdiri 2 unit masing-masing berkapasitas 35MWe, panjang tongkang 140m, lebar tongkang 30M, tinggi lambung 10M,bagian dibawah air 5,6M,umur 40thn, tipe PWR, interval pergantian bahan bakar 2,5-3 tahun, konsumsi bahan bakar 2X 67kg U-235/tahun (dibandingkan bahan bakar minyak 120.000 ton/tahun dan batubara 200.000 ton/tahun.

Di sisi lain, KLT-40S telah memenuhi berbagai rekomendasi IAEA (Internasional Atomic Energy Agency), seperti konsep defence in depth, proven engineering practices, fail-safe principle, redundancy, diversity and independence, deterministic and probabilistic, safety assessment, passive systems, man-machine interaction, severe accident.

Di sisi lain PLTN Terapung ini juga sudah diantisipasi dari ancaman teror.

Dikenal dengan istilah Maximum Credible Accident (MCA) bagi penilaian keselamatan dan berikutnya untuk keamanan muncul Maximum Credible Threat (MCT) yang tertuang dalam Design Basic Threat.

Ancaman dasar desain umumnya tidak diumumkan, hanya diketahui kalangan tertentu.

Semoga PLTN Terapung juga menjadi salah satu pilihan prioritas pemerintah memberdayakan rakyat Indonesia di luar Jawa yang mendiami kepulauan tanpa listrik.yang taraf hidupnya miskin.

Semoga dengan keputusan pemerintah untuk membangun PLTN pertama di-Indonesia sesuai RUPTL 2025-2034 benar-benar terwujud nyata, tidak ada lagi debat panjang termasuk upaya untuk sabotase.

Dalam kaitan ini sikap tegas dari Presiden Prabowo Subianto sangat diperlukan agar kehadiran PLTN ini sudah tegak lurus, tidak ada hambatan apalagi sabotase, oleh berbagai kepentingan kelompok, karena kehadiran PLTN ini adalah juga kebutuhan dunia dan tuntutan obyektif jaman dalam upaya mencapai NZE (Net Zero Emission) pada 2060.

Penulis adalah Ketua Dewan Pendiri HIMNI

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara