
Setiap pemanfaatan teknologi selalu ada resikonya, antara lain kecelakaan. Baik teknologi dalam bentuk sederhana maupun modern.
Misalnya teknologi transportasi, baik darat, laut dan udara dengan segala jenis, tipe dan ukuran dan tahun produksinya, pasti pernah mengalami kecelakaan, baik kecil, ringan, maupun berat/parah.
Demikian juga dengan pemanfaatan teknologi nuklir dengan segala bentuk pemanfaatannya, termasuk untuk pembangkit listrik yang lengkapnya disebut PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir), pasti pernah terjadi kecelakaan.
Menurut data dari WNA (World Nuclear Association) 2019, per tahun, Kecelakaan Mengemudi sekitar 1,35 juta, kecelakaan Kerja 2,3 juta, Kecelakaan Polusi Udara 4,2 juta dan PLTN 3,3.
Semua kecelakaan yang terkait dengan pemanfaatan teknologi, umumnya disebabkan karena kesalahan manusia, teknologinya dan bencana alam. Khusus untuk pemanfaatan teknologi nuklir, terkait kecelakaan nuklir, pada thn 1990, IAEA (International Atomic Energy Agency), menetapkan INES (International Nuclear and Radiological Event Scale) yang mengkategorikan dalam 7 (tujuh) tingkat dengan urutan sebagai berikut:
- Anomali; 2.Incident; 3. Serious Incident; 4. Accident with local consequences; 5. Accident with wider consequences; 6. Serious Accident; 7. Major Accident.
Tingkat 1 s/d 3 disebut Incident, sedangkan tingkat 4 s/d 7 disebut Accident.
INES mengklasifikasi kecelakaan(accident dan evident) Nuklir dan Radiologi dengan mempertimbangkan dampaknya pada 3 area, yaitu:
- Masyarakat dan Lingkungan(People and Environment), dimana suatu kecelakaan instalasi nuklir yang menyebabkan dosis radiasi dan material radioaktif tersebar keluar instalasi yang mengancam keselamatan penduduk dan lingkungan;
- Radiological Barriers and Control, dimana suatu kecelakaan terjadi di instalasi dan tidak ada dampak langsung kepada masyarakat dan lingkungan, dan hanya berdampak didalam fasilitas itu sendiri;
- Defence in Depth yaitu suatu pertahanan berlapis terjadi kejadian dalam instalasi nuklir, namun tidak berdampak kepada masyarakat dan lingkungan, tapi hanya pada tingkat tidak berfungsinya suatu komponen karena dibacking/dijaga oleh komponen lain.
Dalam persiapan Indonesia membangun PLTN, maka perlu mengetahui secara jelas berbagai kecelakaan PLTN yang terjadi selama ini, sehingga kita tidak mengulang berbagai kelemahan yang jadi penyebab kecelakaan tersebut baik segi teknis, desain, SDM, aturan, bencana alam, dan lain-lain.
Kecelakaan nuklir khususnya PLTN umumnya dikenal masyarakat dunia hanya terjadi di tiga tempat karena diberitakan secara luas oleh berbagai media dunia.
Ketiga tempat tersebut yaitu di Amerika Serikat, PLTN Three Mile Island, Pennsylvania, unit 2 (1979), Ukraina, PLTN Chernobyl unit 4 (1986) dan Jepang, PLTN Fukushima Dai-ichi unit 1-4(2011).
Namun, sebenarnya ada beberapa kecelakaan yang terjadi selama ini disamping 3 kecelakaan tersebut diatas. Menurut Jeremy Schultz, dari Reuters, ada beberapa kecelakaan nuklir terparah dalam sejarah selama ini, yaitu:
- CHALK RIVER-LEVEL5-1952:
Reaktor nuklir pertama yang dibangun diluar Amerika Serikat(AS) pada thn 1945 di Laboratorium Nuklir Sungai Chalk di Ontario, Kanada, dibangun pada masa perang dengan tujuan melayani keperluan militer. Laboratorium ini menjadi lokasi KECELAKAAN NUKLIR SIPIL PERTAMA DALAM SEJARAH ENERGI NUKLIR. Pada 12 Desember 1952, reaktor mengalami kegagalan selama shutdown. Serangkaian keputusan buruk oleh operator fasilitas menyebabkan reaksi berantai yang mengakibatkan reaktor menggandakan kekuatannya.
Sebuah ledakan menghancurkan inti reaktor, melepaskan tumpahan bahan bakar nuklir. Tak lama kemudian, serangkain ledakan gas hydrogen meniup kuba reaktor 4 ton kelangit, melepaskan ribuan partikel radioaktif ke udara sekitarnya. Didalam fasilitas, sekitar satu juta liter air yang terkontaminasi membanjiri ruang bawah tanah. Skala INES belum dibuat pada saat kecelakaan ini. Jika sudah, insiden di Sungai Chalk akan menjadi skala 5.
- KHYSTYM-LEVEL 6, 1957:
Dibangun tergesa-gesa dan kerahasiaan pada 1945, Uni Sovjet berlomba untuk mengejar ketertinggalan dari program senjata nuklir AS. Tempat produksi plutonium Mayak, yang terletak di dekat kota Khystym, Rusia, dioperasikan dengan sedikit pertimbangan kesehatan pekerja dan perlindungan lingkungan. Berlokasi ditepi danau Karachay, pabrik membuang air pendingin reaktor yang sudah digunakan ke danau, dan dengan cepat mengubah seluruh danau menjadi radioaktif.
Pada tahun 1953, tangki penyimpanan untuk bahan bakar bekas yang memiliki control kurang memadai, dibangun dilahan tersebut. Pada 29 September 1957, salah satu tangki ini meledak dengan kekuatan 70-100 ton TNT. Awan radioaktif berikutnya mencemari area yang jaraknya ribuan mil. Karena kerahasiaan fasilitas itu, pemerintah Uni Sovjet tidak segera memperingatkan desa-desa terdekat akan bahaya tersebut.
Bahkan menghabiskan dua tahun penuh sebelum semua penduduk di-daerah yang terekspose dievakuasi. Tidak ada penjelasan yang lugas untuk proses evakuasi. Hanya pada tahun 1976, seorang pembangkang Uni Sovjet mengungkap keberadaan dan rincian insiden tersebut.
- KEBAKARAN WINDSCALE-LEVEL 5, 1957:
Kebakaran di fasilitas nuklir Windscale Pites di Cumbria, menyebabkan kecelakaan nuklir terburuk di-Inggris.
Pada 10 Oktober 1957, operator di-Windscale memperhatikan pemanasan yang tidak biasa di teras reaktor, tetapi tidak yakin penyebabnya. Dalam upaya untuk menurunkan suhu, pekerja mempercepat kipas pendingin, tidak menyadari aksi mereka hanya akan mengipasi api yang membakar inti.
Seorang mandor yang datang untuk bekerja melihat ada asap yang keluar dari cerobong reaktor, mengungkap adanya api. Pada saat itu, api telah menyala selama dua hari penuh. Beberapa upaya dilakukan untuk memadamkan api, termasuk karbon dioksida dan aIr, tetapi tidak ada yang berhasil. Akhirnya, diputuskan untuk mematikan ventilasi ke reaktor, merampas api oksigen dan memadamkan api tiga hari setelah mulai menyala.
Reaktor yang dianggap tidak dapat diselamatkan, telah disegel sejak peristiwa ini.
- IDAHO FALLS-LEVEL 4, 1961:
Satu-satunnya kecelakaan nuklir di AS yang mengakibatkan korban langsung, terjadi pada thn 1961 di reaktor eksperimental AS Army, di-Idaho Falls, Idaho.
Reaktor itu adalah prototype awal untuk Program Tenaga Nuklir Angkatan darat, yang dibuat dengan tujuan menyediakan listrik untuk pangkalan-pangkalan dan pos-pos terpencil di seluruh dunia, termasuk utara Lingkaran Arktik. Stationary Low-Power Reactor nomor satu yang terletak 40 mil diluar Idaho Falls, adalah satu-satunya reaktor air mendidih (BWR) dalam program ini.
Setelah reaktor ditutup selama 11 hari untuk liburan Natal, tiga kru kembali untuk menyalakan pada 3 Januari 1961.
Kesalahan operator membuat batang ditarik terlalu jauh, memicu ledakan uap dan krisis reaktor. Ketiga pekerja, satu-satunya anggota staf yang hadir di fasilitas itu, meninggal karena trauma fisik akibat ledakan. Seandainya mereka selamat dari ledakan, paparan radiasi pasti akan membunuh mereka.
- LUCENS REACTOR-LEVEL 5-1968:
Stasiun nuklir eksperimental pertama di-Swiss, dibangun di gua bawah tanah, dibuka pada 1968 dengan visi yang berani. Sayangnya, hanya beberapa bulan setelah dibuka, tabung tekanan yang terkorosi pecah, menyebabkan kegagalan fungsi dan ledakan reaktor. Untungnya tidak ada yang terluka dalam ledakan itu dan berkat lokasi inti di-bawah tanah, semua kontaminasi lingkungan dicegah. Gua itu segera ditutup dan mimpi nuklir Swiss tertunda.
- THREE MILE ISLAND-LEVEL 5-1979:
Insiden itu dimulai ketika pompa air di-teras reaktor tidak berfungsi menyusul kegagalan listrik. Pekerja salah mendiagnosis masaalah dan merespon dengan serangkaian keputusan yang memperparah masaalah.
Overheating menyebabkan hampir setengah inti reaktor meleleh, melepaskan gumpalan uap ke atmosfir. Selama tiga hari berikutnya, para ahli tidak yakin apakah gelombang hydrogen yang terbentuk selama krisis bisa meledak, sebelum akhirnya menentukan bahwa yang terburuk sudah berakhir.
Sebagian kehancuran reaktor di-fasilitas Three Mile Island di Pennsylvania pada Maret 1979, tetap menjadi kecelakaan nuklir sipil paling serius dalam sejarah AS, yang menyebabkan sekitar 2 juta orang terkena radiasi dalam jumlah kecil. Dukungan publik untuk tenaga nulir anjlok setelah bencana dan otoritas Federal merespons dengan moratorium semua ijin reaktor baru.
- CHERNOBYL-LEVEL 7-1986:
Kecelakaan PLTN yang paling berbahaya dalam sejarah, baik dalam biaya maupun dalam korban, dimulai selama tes keselamatan terjadwal di PLTN Chernobyl, Ukraina pada malam 25 April 1986.
Desain reaktor Uni Soviet yang cacat, dikombinasikan dengan kesalahan operator sebelum dan selama uji keamanan, menyebabkan panas berlebih, menghasilkan ledakan uap yang kuat di ikuti beberapa detik kemudian oleh ledakan kedua, kemungkinan berbahan bakar hydrogen.
Ledakan dan kebakaran berikutnya menghasilkan pelepasan radioaktif sipil terbesar yang pernah direkam. Puluhan ribu penduduk di-sekitarnya di evakuasi, sehingga kota-kota yang ditinggalkan tersebut seperti kota hantu. Radioaktif pertama kali terdeteksi diluar Uni Soviet adalah disebuah stasiun tenaga nuklir di Swedia.
Sebagian besar Negara di Eropah segera mengalami pengendapan radionuklida. Tiga puluh satu pekerja pabrik dan petugas pemadam kebakaran meninggal segera setelah kecelakaan tersebut, Sebagian besar karena penyakit radiasi akut. Namun kematian total dari tragedy Chernobyl ini, masih menjadi perdebatan sampai saat ini.
- INSIDEN GOIANIA-LEVEL 5-1987:
Insiden Goiania adalah insiden nuklir paling serius yang tidak secara langsung melibatkan reaktor. Pada September 1987, dua pemulung Brasil yang mengais di sekitar Goiania Institute of Radiotherapy yang terbengkalai, mengambil beberapa peralatan rumah sakit tua, termasuk unit teleterapi yang mengandung Cesium-137, isotop radioaktif yang dihasilkan selama fisi nuklir.
Para pemulung menjual unit itu ke tempat barang rongsokan setempat, tempat para pekerja memecah peralatan itu dan mereka terpesona oleh cahaya biru yang berasal dari mesin. Tidak menyadari adanya bahaya, para pekerja berbagi potongan unit itu dengan teman-teman dan keluarga yang ingin tahu, menyebarkan Cesium-137 melalui kota Goiania.
Tak lama 4 orang dipastikan tewas karena keracunan radiasi. Pihak berwenang menguji 112.000 ribu penduduk untuk kemungkinan paparan dan menemukan 249 dengan tingkat radiasi yang signifikan di tubuh mereka. Ketika pasien dirawat, para ahli dari AS dan Uni Soviet membantu menyapu area yang terkontaminasi.
- TOKAIMURA-LEVEL 4-1999:
Pada 30 September 1999, disebuah pabrik kecil pengolahan uranium di-Prefektur Ibaraki, Jepang, tiga pekerja mulai menyiapkan bahan bakar untuk reaktor terdekat. Batch pertama yang dibuat untuk reaktor ini dalam tiga tahun, sehingga tidak ada kualifikasi atau syarat yang ditetapkan untuk mempersiapkan para pekerja untuk pekerjaan itu.
Pencampuran yang tidak tepat menyebabkan kondisi kritis, semacam reaksi berantai yang memancarkan kilatan biru dan bunyi alarm radiasi gamma. Dua pekerja langsung mengalami rasa sakit dan kesulitan bernapas, sedangkan yang ketiga muntah, sebelum kehilangan kesadaran.
Perisai dipasang disekitar pabrik untuk menghentikan penyebaran radiasi, 40 rumah tangga dievakuasi dan semua penduduk dalam jarak 10 km diminta untuk tetap berada didalam rumah sebagai tindakan pencegahan. Dua dari tiga pekerja meninggal setelah paparan, 667 pekerja tambahan, responden pertama dan penduduk terpapar radiasi berlebih.
- FUKUSHIMA-LEVEL 7-2011:
Gempa bumi yang berkekuatan 9,0 magnitude melanda Jepang pada 11 Maret 2011, melepaskan tsunami yang berkontribusi terhadap 18.000 korban bencana dan memicu bencana nuklir terburuk didunia sejak Chernobyl 25 tahun sebelumnya. PLTN Fukushima Daiichi menampung enam unit reaktor air mendidih(BWR) yang terpisah dipantai pasifik, dilindungi tembok laut sepanjang 33 kaki.
Segera setelah gempa bumi melanda, semua reaktor yang beroperasi ditutup dan generator diesel mengambil alih tugas pendinginan. Tsunami yang menyapu tembok laut, membanjiri ruang bawah tanah dan melumpuhkan generator. Kelebihan panas menyebabkab kehancuran 3 unit reaktor, melepaskan bahan radioaktif dan menyebabkab evakuasi sekitar 100.000 orang penduduk. Diperkirakan bahwa pembongkaran reaktor yang hancur akibat tsunami akan memakan waktu hingga 40 tahun.
Disamping 10 kecelakaan tersebut, kemungkinan masih ada juga yang tidak ter-expose karena berbagai pertimbangan dari Negara bersangkutan.
Belajar dari Tragedi Fukushima tersebut, maka IAEA(International Atom Energy Agency) mengeluarkan Technical Document No. 1785 tahun 2016, yang menegaskan bahwa untuk menanggulangi kecelakaan tersebut, diperlukan penyempurnaan dan perbaikan teknologi PLTN yang meliputi:
- Design and Siting (desain dan pemilihan tapak); 2. On Site Emergency Preparedness and Response (Tangap dan kesiapsiagaan kondisi darurat di dalam area tapak); 3. Off Site Emergency Preparedness and Response (Tangap dan kesiapsiagaan kondisidarurat di luar area tapak); 4. Peningkatan dan penyempurnaan infrastruktur keselamatan nuklir (nuclear safety infrastructures).
Secara teknis perlunya peningkatan dan penyempurnaan Engineered Safety Features (ESF) design PLTN, belajar dari kecelakaan Fukushima Daiichi tersebut.
Sampai dengan saat ini Teknologi PLTN yang beroperasi telah mencapai Generasi III+ merupakan PLTN desain maju – evolusionari (Advanced and Evolutionary designs) yang telah menerapkan penyempurnaan desain dari teknologi yang telah terbukti aman dan selamat(proven technology).
