Website Wikipedia menjelaskan PLTN per generasi sbb.:
PLTN Generasi ke-II dibangun pada thn 1970’an sampai akhir tahun 1990’an dengan tipe PWR, CANDU, BWR, AGR, VVER, dan PLTN tipe ini yang sedang ber-operasi diberbagai negera didunia yang jumlahnya meliputi 400’an unit.
PLTN generasi III adalah reaktor daya generasi lanjut (advanced) yang mengalami perubahan desain evolusioner (perubahan yang tidak radikal) yang bertujuan untuk meningkatkan faktor keselamatan dan ekonomi PLTN. PLTN generasi III banyak dibangun di-negara-negara Asia Timur.
Salah satu contoh dari PLTN generasi III adalah tipe ABWR (ADVANCED BOILING WATER REACTOR) yang antara lain dibangun tahun 1980 di Jepang yaitu PLTN Kashiwazaki-Kariwa unit 6. Reaktor Generasi III sudah mulai menggunakan sistem keselamatan pasif, yaitu reaktor didesain untuk dapat stabil dengan sendirinya tanpa memerlukan sumber energi listrik eksternal. Sampai saat ini, belum ada satupun reaktor Generasi III yang mengalami kecelakaan.
PLTN ini dapat dimatikan dengan selamat pada dua gempa besar yang dialami Jepang pada tahun 2007 dan 2011. Pengembangan PLTN generasi III terus berlanjut dan bersamaan dengan itu dilakukan perbaikan desain yang evolusioner untuk meningkatkan faktor ekonomi dengan cukup signifikan.
Perubahan terhadap PLTN generasi III menghasilkan PLTN generasi III+(tiga plus) yang lebih ekonomis dan dapat dibangun tanpa harus menunggu periode R&D yang lama. PLTN generasi III+ menjadi suatu pilihan untuk pembangunan PLTN yang akan dilakukan dari sekarang hingga tahun 2030.
PLTN Generasi III+ antara lain prototipe pembangkit listrik tenaga nuklir buatan Rusia yang bernama BN-800, mulai beroperasi dengan kapasitas 100% untuk pertama kalinya, bersamaan dengan terhubungnya reaktor nuklir inovatif Rusia generasi III+ ke jaringan listrik nasional.
Reaktor cepat Neutron BN-800, yang diproyeksikan menjadi prototipe tercanggih dari tipe reaktor komersial Generasi III+ ini mulai beroperasi secara komersial pada bulan September 2016.
Para pakar menilai, unit daya dengan Reaktor neutron cepat memberikan dampak besar dalam pengembangan energi nuklir. Dengan begitu dimungkinkan untuk secara signifikan memperluas basis bahan bakar dari energi nuklir dan juga untuk mengurangi volume limbah radioaktif melalui penerapan siklus bahan bakar nuklir tertutup.
Reaktor Nuklir inovatif Rusia generasi III+ yang didesain sesuai dengan seluruh persyaratan keamanan pasca insiden Fukushima telah berhasil terkoneksi pada jaringan listrik nasional dan menghasilkan 240 MW tenaga listrik. Rosatom menyatakan bahwa pada tanggal 5 Agustus 2016, selama 3 jam 35 menit (salah satu rentang waktu operasi yang paling penting dan kritis pada tahap awal) percobaan dilakukan pada Unit 6 VVER-1200, yaitu percobaan pengalihan generator ke sistem jaringan listrik.
Reaktor inovatif Generasi III+ ini menunjukkan perbaikan parameter kinerja, mereka benar-benar aman dalam pengoperasiannya dan sepenuhnya memenuhi persyaratan keamanan terbaru Badan Energi Atom Internasional pasca insiden Fukushima. Terdiri dari sejumlah besar sistem keselamatan pasif yang dapat berfungsi bahkan dalam kasus pemadaman listrik total dan berjalan tanpa campur tangan operator, selain itu Unit 6 dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Novovoronezh ini menggunakan sistem pembuangan panas pasif dari reaktor, Recombiners Hidrogen dan Core Catcher, yang unik dan satu satunya di seluruh dunia.
PLTN Generasi IV adalah reaktor daya hasil pengembangan inovatif dari PLTN generasi sebelumnya. PLTN Generasi IV terdiri dari enam tipe reaktor daya yang diseleksi dari sekitar 100 buah desain. Kriteria seleksi adalah aspek ekonomi yang tinggi, tingkat keselamatan lanjut, menghasilkan limbah dengan kuantitas yang sangat rendah, dan tahan terhadap aturan NPT.
PLTN Generasi IV dirancang tidak hanya berfungsi sebagai instalasi pemasok daya listrik saja, tetapi dapat pula digunakan untuk pemasok energi termal kepada industri proses. Oleh karena itu PLTN Generasi IV tidak lagi disebut sebagai PLTN, tetapi disebut sebagai Sistem Energi Nuklir (Nuclear Energy System-NES). Ada enam tipe dari reaktor daya Generasi IV yaitu: Very High Temperature Reactor (VHTR), Sodium-cooled Fast Reactor (SFR), Gas-cooled Fast Reactor (GFR), Liquid Metal Cooled Fast Reactor (LFR), Molten Salt Reactor (MSR), dan SuperCritical Water-cooled Reactor (SCWR). Pengembangan Generasi ke-IV ini masih dalam tahap research and development (sumber: website Wikipedia).
Khusus PLTN Generasi ke-IV, ada suatu grup yang sedang mengkajinya. Grup ini bernama GIF(GENERATION IV INTERNATIONAL FORUM), yang didirikan pada tahun 2001 dan terdiri dari 13 negara yaitu: Argentina, Australia, Brasil, Canada, Cina, Perancis, Jepang, Korea Selatan, Rusia, Afrika Selatan, Swiss, Inggris dan AS. Grup ini sedang melanjutkan pengkajiannya dari berbagai aspek. Hasil kajian awal menunjukkan bahwa sistem dan teknologi PLTN Generasi IV menawarkan kemajuan yang signifikan dalam hal keberlanjutan, keandalan dan keselamatan, ekonomi, pencegahan pemanfaatan senjata nuklir dan proteksi fisik. Pemanfaatan PLTN Generasi IV atau Sistim Energi Nuklir(SEN) ini direncanakan akan masuk dalam industri komersial pada tahun 2030.
Sadar akan berbagai kecelakaan PLTN sebagaimana diuraikan diatas, serta dalam rangka persiapan pembangunan PLTN di-Indonesia yang al akan mengganti peran dari energi fosil batubara yang akan berakhir tuntas pada 2060 yad, maka Indonesia saatnya harus mampu dan cerdas memilih antara Generasi III+ dan generasi IV yang terdiri dari 6 tipe tersebut diatas.
Dari 6 tipe tersebut, saat ini ada 3 pihak yang sedang mempersiapkan untuk pembangunannya di-Indonesia. Pihak pertama adalah BATAN (saat ini bernama ORGANISASI RISET TENAGA NUKLIR-ORTN) dengan tipe HTGR (=VHTR?) yang sudah pada tahap detail design dan dari pihak Swasta ada 2 perusahaan yaitu P.T. Thorcon Power Indonesia(TPI) dengan tipe MSR dan PT BATOM TECHNOLOGY dengan tipe MSR.
Sayang proyek BATAN(ORTN) tersebut saat in terhenti tanpa ada keputusan penyelesaian tuntas dari Pemerintah. Proyek ini adalah proyek BATAN(ORTN)/Pemerintah, bukan proyek perorangan dan karena itu seluruh warga BATAN/ORTN bertanggung-jawab untuk memperjuangkan penyelesaian proyek ini.
Proyek PT Thorcon Power Indonesia ini dengan tipe MSR, diperhitungkan akan menjadi pelopor pertama untuk hadirnya PLTN pertama di-Indonesia, dimana jika programnya berjalan lancar, akan beroperasi secara komersial pada tahun 2028.
PT BATOM TECHNOLOGY bekerja sama dengan Moltex, Inggris, didukung oleh tenaga-tenaga ahli pensiunan BATAN yang berpengalaman dalam pembangunan 3 reaktor nuklir di Indonesia. masih mencari partner pendukung dana di-Indonesia.
Kehadiran PT TPI dan PT BATOM TECHNOLOGY ini menjadi tantangan dan pemicu bagi BUMN dan atau Swasta Indonesia untuk bergerak di-bidang pembangunan energi nuklir yang menghasilkan listrik karena peluangnya kini dan masa depan sangat menjanjikan.
Jakarta, 12 Oktober 2021.
Penulis: Markus Wauran
Wakil Ketua Dewan Pendiri HIMNI
Baca juga:
- PT Thorcon Power Indonesia: Perjalanan Panjang Menuju PLTN Pertama di Indonesia
- Catatan Markus Wauran: Indonesia dan Bulan Juni, Berkah dan atau Petaka
- Catatan Markus Wauran: Polemik Tentang Megawati Soekarnoputri dan BRIN
- Catatan Markus Wauran: Tantangan Olly – Steven Setelah Menang Mutlak pada Pilkada 9 Desember 2020
- Catatan Markus Wauran: Mengapa Memilih Olly Dondokambey – Steven Kandouw?
- Catatan Markus Wauran: Alm. Freddy Sualang Dimata Markus Wauran
