
Indonesia Anggota Pendiri WAICO menjadi tonggak baru dalam keterlibatan Indonesia di tingkat global untuk membangun tata kelola kecerdasan buatan (AI).
Bersama 28 negara lainnya, Indonesia resmi menandatangani perjanjian pembentukan World AI Cooperation Organization (WAICO) di Shanghai, China, sebagai anggota pendiri organisasi tersebut.
Langkah ini menegaskan komitmen Indonesia dalam mendorong pengembangan AI yang inklusif sekaligus memperkuat kerja sama internasional di bidang teknologi.
Pemerintah menilai kolaborasi global menjadi kunci agar manfaat AI dapat dirasakan secara luas dan tidak memperlebar kesenjangan digital.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa keikutsertaan Indonesia bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari upaya membangun tata kelola AI yang bertanggung jawab di tingkat dunia.
“Partisipasi Indonesia mencerminkan komitmen kami untuk membangun tata kelola dan norma bagi pengembangan kecerdasan buatan (AI). Yang terpenting, kami ingin memastikan bahwa pengembangan AI bersifat inklusif, dengan tanggung jawab bersama untuk membawa manfaat bagi semua,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto dalam sebuah konferensi pers pada Jumat (17/7/2026) di Shanghai.
Upacara penandatanganan perjanjian pembentukan WAICO berlangsung di Shanghai pada 16 Juli.
Sebanyak 29 negara menandatangani dokumen tersebut, termasuk Indonesia yang diwakili Airlangga Hartarto sebagai anggota pendiri organisasi.
Pengembangan AI Jadi Fokus Kerja Sama Global
Airlangga juga menyoroti pesan Presiden China Xi Jinping saat membuka Konferensi Kecerdasan Buatan Dunia (WAIC).
Menurutnya, AI tidak seharusnya berkembang secara terpisah oleh masing-masing negara, melainkan melalui kolaborasi internasional.
“Dalam upacara pembukaan Konferensi Kecerdasan Buatan Dunia (WAIC), Presiden Xi Jinping menegaskan bahwa AI seharusnya bukan menjadi ‘pertunjukan solo’ satu negara, melainkan sebuah ‘simfoni’ kerja sama global,” kata Airlangga Hartarto.
Ia menambahkan bahwa penguasaan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, Indonesia menyatakan kesiapannya mengambil peran aktif dalam menjembatani kesenjangan kemampuan teknologi antarnegara melalui kerja sama di bawah WAICO.
“Kami berharap AI menjadi jembatan penghubung, bukan penyebab kesenjangan digital. Sebagai anggota pendiri, Indonesia memiliki peluang yang sangat baik untuk memberikan kontribusi nyata dalam merumuskan kebijakan tata kelola global serta berperan aktif dalam membangun mekanisme internal WAICO. Hal ini akan memastikan bahwa pengembangan AI sejalan dengan kemajuan global sehingga hasil-hasil tersebut dapat mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB. Ke depan, melalui optimalisasi WAICO, kami dapat memperluas alih teknologi, memperluas akses terhadap data, serta memberikan kesempatan yang setara bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),” ujarnya.
Indonesia Anggota Pendiri WAICO dan Peluang Ekonomi Digital
Menurut Airlangga, prospek ekonomi digital Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan.
Nilainya diperkirakan mencapai 130 miliar dolar AS pada akhir tahun ini dan meningkat menjadi 360 miliar dolar AS pada 2030.
Dalam kesempatan yang sama, Airlangga mengungkapkan bahwa Indonesia dan China juga telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) bersama Menteri Perdagangan China Wang Wentao.
Nilai perdagangan bilateral kedua negara pada tahun lalu mencapai 160 miliar dolar AS.
