
Penulis: Alfrits Semen
Ada banyak laga besar dalam sejarah Piala Dunia.
Namun hanya sedikit pertandingan yang membawa beban sejarah, politik, dan emosi sebesar duel Argentina melawan Inggris.
Saat kedua negara kembali bertemu di semifinal Piala Dunia 2026, dunia tidak hanya menunggu adu taktik Lionel Messi dan Harry Kane.
Adalah babak baru dari rivalitas yang telah berlangsung lebih dari setengah abad.
Pertemuan ini selalu terasa berbeda.
Bagi sebagian besar pertandingan sepak bola, rivalitas lahir karena persaingan olahraga.
Namun bagi Argentina dan Inggris, rivalitas itu juga berakar pada sejarah politik, terutama Perang Falkland (Malvinas) tahun 1982.
Konflik selama 74 hari yang menewaskan ratusan tentara dari kedua belah pihak dan meninggalkan luka yang belum sepenuhnya sembuh hingga kini.
Hanya empat tahun setelah perang berakhir, kedua negara bertemu di perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko.
Laga itu kemudian menjadi salah satu pertandingan paling legendaris dalam sejarah sepak bola.
Di pertandingan itulah Diego Maradona mencetak dua gol yang hingga kini terus dikenang.
Gol pertama lahir melalui sentuhan tangan yang kemudian dikenal sebagai “Hand of God”, sementara gol kedua tercipta lewat aksi solo luar biasa melewati hampir seluruh pemain Inggris dan dikenang sebagai “Goal of the Century”.
Bagi rakyat Argentina, kemenangan 2-1 saat itu dianggap sebagai bentuk pelampiasan emosional atas kekalahan dalam Perang Falkland.
Sebaliknya, bagi publik Inggris, pertandingan tersebut menjadi simbol luka yang sulit dilupakan.
Ketegangan kedua negara tidak berhenti di 1986.
Pada Piala Dunia 1998, David Beckham mendapat kartu merah setelah insiden dengan Diego Simeone, yang berujung pada tersingkirnya Inggris melalui adu penalti.
Empat tahun kemudian, Inggris membalas dengan kemenangan 1-0 lewat penalti Beckham di Piala Dunia 2002.
Setiap pertemuan seolah selalu melahirkan cerita yang dikenang lintas generasi.
Kini, 24 tahun setelah pertemuan terakhir mereka di Piala Dunia, sejarah kembali mempertemukan kedua negara di panggung semifinal.
Media internasional menyebut laga ini sebagai salah satu pertandingan paling emosional dalam Piala Dunia 2026.
Bahkan aparat keamanan Amerika Serikat dilaporkan memberikan perhatian khusus terhadap pertandingan ini karena tingginya rivalitas kedua kelompok suporter.
Namun di lapangan, generasi pemain saat ini berusaha mengubah narasi tersebut.
Bagi Lionel Messi, ini adalah kesempatan mendekatkan Argentina pada gelar dunia kedua secara beruntun.
Sementara bagi Inggris, ini menjadi peluang mengakhiri penantian panjang menuju final Piala Dunia.
Meski para pemain masa kini tidak mengalami langsung Perang Falkland, sejarah tetap hidup di benak para suporter.
Itulah sebabnya setiap kali Argentina dan Inggris bertemu, pertandingan itu hampir selalu dibahas bukan hanya dari sisi sepak bola, tetapi juga dari perspektif sejarah, identitas nasional, dan kebanggaan bangsa.
Di atas rumput hijau, pertandingan memang hanya berlangsung 90 menit.
Namun di luar lapangan, duel Argentina kontra Inggris selalu menjadi pengingat bahwa sepak bola terkadang mampu menyimpan memori sejarah yang jauh lebih panjang daripada sebuah turnamen.
