Namun masuknya di RUPTL, jangan sampai hanya pajangan, tapi benar-benar sudah harus ditindak lanjuti dengan program nyata yang didukung oleh berbagai aturan yang perlu disiapkan, penyediaan SDM, berbagai organisasi yang diperlukan sesuai amanat peraturan perundang-undangan (tertulis maupun tidak tertulis, seperti NEPIO (NUCLEAR ENERGY PROGRAM IMPLEMENTATION ORGANIZATION), MPTN (MAJELIS PERTIMBANGAN ENERGI NUKLIR), TSO (TECHNICAL SUPPORT ORGANIZATION), dan lain-lain.
Yang menarik dengan penetapan pembangunan PLTN ini ialah pilihan PLTN yang akan dibangun baik segi kapasitas, jenis/tipe reaktor dan pemiliki/vendor reaktor nuklir. Dari RUPT tersebut, jelas kapasitas yang akan dibangun adalah berkala kecil.
Jika dibangun 2 reaktor, masing-masing berkapasitasn 250MW atau kapasitas sedang jika dibangun 1 reaktor dengan kapasitas 500MW.
Mengenai jenis reaktor ada berbagai macam, tapi yang sangat populer saat ini adalah Reaktor jenis PWR (Pressurized Water Reactor).
Jenis reaktor ini dibangun di 4 negara yang terbanyak PLTNnya yaitu di Amerika Serikat(94 unit-kapasitas 96952MW), Perancis (57 unit dengan kapasitas 63.000MW), Cina (57 unit dengan kapasitas 56.320MW), Rusia dengan 36 unit dengan kapasitas 26.802MW). Khusus di-Perancis, 57 PLTNnya, 100% berjenis/tipe PWR.
Di AS, Rusia dan Cina ada jenis yang lain tapi terbanyak/mayoritas adalah jenis/tipe PWR. Tapi yang paling menarik ialah dari mana asalnya PLTN pertama yang akan dibangun di Indonesia.
Saat ini sudah ada jenis PWR generasi 3 plus yang di-produksi beberapa negara.
Pasti banyak negara/vendor telah bertemu dengan para pejabat Indonesia maupun pihak lain yang ikut menentukan pilihan ini.
Tentu tipenya SMR (Small Modular Reactor) dengan berbagai tipe dari generasi 3plus maupun generasi 4.
Dari data PRIS (Power Reactor Information System), n egara yang tercatat telah mengoperasikan reaktor nuklir generasi 4 adalah Cina dengan tipe HTGR (High Temperature Gas-cooled Reactor) dengan kapasitas 150 MW dan secara komersial mulai beroperasi pada tgl 6 Desember 2023.
Namun, dalam memilih Negara mana yang akan bangun PLTN pertama di Indonesia, sebaiknya merujuk pada fakta yang ada.
Dalam kenyataan sejarah, Negara yang paling berpengalaman membangun PLTN di-dunia ialah AS, diwakili oleh perusahan Westinghouse dan General Electric, Rusia diwakili oleh perusahan Negara Rosatom, dan Perancis, diwakili oleh Areva.
Dalam perkembangan terakhir telah muncul KHNP dari Korea Selatan dan CNNC dari Cina.
Awalnya Jepang dengan perusahannya MHI, tapi redup karena bencana Fukushima 2011 yl.
Namun 10 tahun terakhir ini, paling banyak membangun PLTN didunia ialah Rosatom Rusia, dimana sedang bangun PLTN di Turki 4 unit, Bangladesh 2 unit, India 6 unit, Mesir 4 unit disamping Cina beberapa unit yang sudah beroperasi.
Rusia memiliki PLTN tipe PWR generasi 3plus yang dijaminnya zero accident.
Dari semua vendor ini, dalam pilihan Pemerintah, harus mempertimbangkan secara matang dari berbagai faktorl termasuk upaya sabotase ditengah jalan karena perkembangan geopolitik, maupun persaingan global.
Kebijakan Pemerintah untuk membangun PLTN pertama dengan kapasitas 500MW (SMR) pada periode 2025-2034, bukan berarti dalam periode ini tidak dimulai pembangunan kapasitas besar.
