Bisnis dan Ekonomi

Perekonomian Sulut Melambat, Ini Penjelasan Bank Indonesia

Menguatnya kinerja transportasi terutama disebabkan oleh menguatnya sub lapangan usaha transportasi Iaut dan lebih rendahnya kontraksi sub lapangan usaha transportasi udara.

Menguatnya sub lapangan usaha transportasi Iaut antara lain ditunjukan dengan meningkatnya jumlah penumpang pelayaran dalam negeri, yang pada Triwulan II 2019 tumbuh sebesar 5,73% (yoy) jauh melebihi triwulan sebelumnya yang tumbuh -11,75% (yoy).

Sementara itu kebijakan pemerintah menurunkan tarif batas atas angkutan udara mampu menahan kontraksi penumpang pesawat lebih dalam.

Dengan kebijakan tersebut, kontraksi penumpang pesawat udara di Sulawesi Utara pada Triwulan II 2019 tercatat sebesar 15,01% (yoy) relatif lebih rendah dibandingkan kontraksi pada Triwulan l 2019 yang tercatat sebesar 24,31% (yoy).

Sebagaimana LU Transportasi, peningkatan juga terjadi pada LU perdagangan sebesar 9,24% (yoy), menguat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,76% (yoy).

Menguatnya pertumbuhan perdagangan tersebut dikonfirmasi dengan rata-rata Indeks Penjualan Rill Bank Indonesia yang masih tumbuh kuat.

Menguatnya pertumbuhan LU perdagangan didukung oleh menguatnya konsumsi rumah tangga dan pemerintah ditopang penyelenggaraan beberapa iven nasional, diantaranya Olimpiade Sains Nasional yang diselenggarakan di Sulawesi Utara pada Triwulan II 2019.

Dari sisi pengeluaran, melambatnya pertumbuhan ekonomi Sulut pada Triwulan II 2019 terutama disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan pembentukan modal bruto (PMTB) dan kontraksi ekspor yang lebih dalam di tengah menguatnya konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah.

PMTB Sulawesi Utara Triwulan II 2019 tumbuh sebesar 3,41%(yoy) melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,44%(yoy).

Perlambatan pertumbuhan PMTB tersebut sejalan dengan perlambatan pertumbuhan LU konstruksi.

Hal tersebut juga sejalan dengan melambatnya realisasi investasi baik yang bersumber dari Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sepanjang Triwulan II 2019, serta belum maksimalnya belanja modal pemerintah provinsi hingga Triwulan II 2019.

Sementara itu, pada Triwulan II 2019 eksporjuga belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, ditandai dengan kontraksi yang lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya.

Ekspor barang dan jasa Sulawesi Utara pada Triwulan || 2019 terkontraksi sebesar 8,99% (yoy) lebih dalam dibandingkan kontraksi pada triwulan | 2019 yang tercatat sebesar 5,41(yoy).

Kontraksi ekspor tersebut sejalan dengan terkontraksinya LU industri pengolahan akibat berlanjutnya tren negatif harga komoditas dunia, khususnya CNO.

Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga pada Triwulan || 2019 menunjukkan penguatan dengan tumbuh sebesar 6,07% (yoy) menguat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,51% (yoy).

“Menguatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga didorong kenaikan gaji PNS dan indikator pendapatan Iainnya. Menguatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga sejalan dengan menguatnya Indeks Keyakinan Konsumen Bank Indonesia serta Indeks Tendensi Konsumsi BPS,” kata Arbonas.

Demikian halnya dengan konsumsi pemerintah, pada Triwulan II 2019 tumbuh sebesar 9,78% (yoy), menguat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,30% (yoy).

Pelaksanaan pemilihan umum serentak ditengarai menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya konsumsi pemerintah tersebut.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara