
Manado — Harga komoditas bawang, rica, tomat (Barito) dan sebagainya yang belakangan ini kembali mengalami kenaikan menimbulkan keresahan di masyarakat.
Namun, sebagai komoditas yang masuk dalam kategori volatile food (pangan bergejolak), pergerakan harga bawang merah, cabai dan tomat memang terjadi secara natural.
Pergerakan harga tersebut bisa terjadi karena faktor musiman, meningkatnya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN), permasalahan yang tidak terduga (bencana) dan permasalahan lain yang terjadi pada masing-masing daerah.
Pada Juni 2022, rica (cabai) mencapai harga tertinggi sejak 2020-2022 dengan rata-rata nasional Rp80.250, bawang merah secara nasional mencapai harga Rp54.500.
Namun apabila ditinjau sejak tahun 2020, kenaikan harga-harga tersebut khususnya cabai dan bawang merah pada dasarnya masih normal, meskipun pergerakan harga komoditas tersebut memang lebih tinggi sejak awal tahun 2022.
Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara pun mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan meningkatnya volatilitas harga ketiga komoditas tersebut yang terjadi secara nasional, antara lain sebagai berikut:
a. Kenaikan Harga Pupuk
Secara umum, kenaikan harga tanaman pangan disebabkan oleh kenaikan harga pupuk yang telah terjadi sejak awal tahun 2021, dan terus memburuk sampai tahun 2022.
Kenaikan harga pupuk tersebut disebabkan oleh meningkatnya harga bahan baku global (Nitrogen, Fosfat, dan Kalium) dengan volume kebutuhan terbesar yaitu Kalium (KCl/potas).
Empat puluh persen dari kebutuhan potas diimpor dari Rusia dan Belarus yang tentunya terdampak konflik geopolitik Rusia-Ukraina.
Terhitung Juli 2022 nanti pupuk subsidi dibatasi pada jenis urea dan NPK, dengan jenis komoditas yang bisa mendapatkan pupuk bersubsidi tersebut mengacu pada Perpres 59/2020 yaitu padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kopi rakyat dan kakao rakyat.
b. Fenomena Cuaca (La Nina)
Fenomena La Nina saat ini masih terpantau menguat di semester kedua tahun 2022.
La Nina adalah fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi, sehingga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musim hujan di Indonesia selain angin muson.
Tingginya curah hujan juga menjadi faktor yang menyebabkan gagal panen di sejumlah sentra produksi hortikultura.
Pada Januari-Februari hasil pantauan indeks BMKG menunjukkan bahwa La Nina sudah berkurang intensitasnya menuju intensitas lemah (indeks sekitar -0.9 hingga -0.8).
Namun pada bulan Maret-April, indeks La Nina menguat kembali dan indeks berkisar -1 . 1 (intensitas sedang).
Di samping i?u, fenomena La Nina yang menguat menjelang periode pergantian musim hujan ke musim kemarau tahun ini berdampak pada mundurnya musim kemarau di Indonesia yang berpotensi menyebabkan bergesernya siklus tanam dan panen komoditas hortikultura.
