Berdasarkan kajian akademik, nuklir merupakan solusi ramah lingkungan yang berkelanjutan untuk mengejar Indonesia sejahtera dan rendah karbon pada tahun 2050. Implementasi nuklir sebagai energi terbarukan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan energi sekaligus dapat mencapai target penurunan karbon di masa mendatang.
Pada 2 Februari 2022 Komisi Eropa mendeklarasikan energi nuklir dan gas alam sebagai energi hijau. Latar belakang deklarasi itu bahwa nuklir adalah energi hijau karena hasil kajian dari UE(Uni Eropa). Nuklir yang selama ini dianggap tidak ramah lingkungan terbukti tidak benar. Hal tersebut didasarkan pada studi European Commission Joint Research yang hasilnya baru saja dirilis pada Maret 2021; tidak ada bukti berbasis sains bahwa energi nuklir lebih membahayakan kesehatan manusia/lingkungan daripada teknologi produksi listrik lainnya.
Para ahli sepakat mengenai fakta yang tidak terbantahkan bahwa bukan saja nuklir memproduksi emisi CO2 yang rendah, tetapi juga ramah lingkungan. Nuklir merupakan bauran enegi bersih terbesar khususnya bagi negara maju di dunia. Data dari statistical review of world energy menunjukkan bahwa dalam produksi listrik nirkabon di negara maju di dunia hingga 2018, bauran energi nuklir adalah 40% atau mendekati angka 2.000 TwH.
Disamping beberapa alasan tersebut diatas, ada Paris Agreement hasil COP Paris 21 Paris tahun 2015, dimana isi dari Paris Agreement al: Berupaya membatasi kenaikan suhu global sampai di angka minimum 1,5º Celcius, dan di bawah 2º Celcius untuk tingkat praindustri, Mengurangi tingkat emisi gas rumah kaca dan aktivitas serupa, guna meminimalkan emisi gas serta mencapai target emisi net zero atau nol bersih. Seluruh negara wajib memiliki dan menetapkan target pengurangan emisinya.
Kemudian ada kesepakatan juga bahwa se-lambat2nya tahun 2060, Net Zero Emission(NZE) sudah tercapai. Kemudian dalam KTT COP 28 di Dubai, UEA yang diselenggaran pd tgl 30/11-12/12 2023, ada kesepakatan dari hamper 200 negara termasuk Indonesia bahwa pegurangan bahan bakar fosil untuk mengurangi dan mencegah dampak perubahan iklim sudah harus dilaksanakan. Terkait dengan keputusan COP 28, tersebut, Presiden COP 28 Sultan al-Jaber al mengatakan “Kita adalah apa yang kita lakukan, bukan apa yang kita katakana. Kita harus mengambil langkah2 yang diperlukan untuk mengubah perjanjian ini menjadi tindakan nyata(CNN Indonesia, 13/12/2023). Presiden Joko Widodo, yang turut hadir dalam COP28, menegaskan tekad Indonesia dalam mewujudkan kemakmuran dan keberkelanjutan dengan ekonomi inklusif. Dalam penyampaian komitmennya, Presiden menyuarakan upaya Indonesia dalam meningkatkan pengelolaan forest and other land use (FOLU) serta mempercepat transisi energi menuju sumber daya energi baru terbarukan.
Kemudian dalam Undang-undang No.59 tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2025-2045, dalam RPJM(Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Masional ke-II tahun 2030-2034, PLTN pertama sudah beroperasi.
Bertolak dari kebijakan, tindakan, alasan/pertimbangan, komitmen(nasional dan internasional), ketaatan, dan aturan sebagaimana yang diutarakan diatas, maka Penulis yakin dengan program Kemandirian Energi tersebut, Presiden Prabowo dengan pertimbangan yang rasional dan obektif, demi untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa, akan membangun PLTN dalam waktu singkat dengan langkah awal pernyataan Indonesia GO Nuclear.
Hal ini perlu dilakukan untuk mencapai target dati RPJM Nasional ke-II tahun 2030-2034 dimana pada tahun tersebut (antara 2030-2034) PLTN pertama sudah beroperasi., karena untuk membangun PLTN skala besar dibutuhkan minimal 5tahun dan maksimal 10 tahun, tergantung pada berbagai hal.
Disamping itu Indonesia sudah memenuhi syarat sesuai dengan penilaian IAEA(International Atom Energy Agency) dan sudah lama siap untuk membangunan PLTN. Sebagai bukti al Indonesia memiliki 3 reaktor nuklir yaitu Reaktor Triga Mark di Bandung (beroperasi sejak tahun 1965), Reaktor Kartini di Yogyakarta(beroperasi sejak tahun 1979), Reaktor Siwabessy di Serpong (beroperasi sejak tahun 1987), dimana ketiga reaktor tersebut tetap beroperasi sampai saat ini.
Sejak beroperasi sampai saat ini, tidak ada operator dari Negara asing, semuanya dioperasikan 100% oleh putra2 terbaik bangsa dengan penuh disilin dan pengabdian.
Perlu dipahami juga oleh semua pihak bahwa kehadiran PLTN di-Indonesia bukan menjadi pesaing bagi pembangkit listrik lainnya baik energi baru maupun terbarukan, sebagaimana dipropaganda selama ini, tapi yang benar adalah menjadi simbiosis mutualis, yaitu saling mendukung satu sama lain dalam memenuhi kebutuhan energi bangsa yang terus meningkat karena pertumbuhan eknomi dan kemajuan bangsa serta memperkuat ketahanan energi bangsa.
Jakarta, 29 Oktober 2024.
Drs. Markus Wauran
Wakil Ketua Dewa Pendiri HIMNI.
