Pembangunan PLTN sebagai energi hijau/ramah lingkungan sudah sangat mendesak dan harus berada diprioritas tinggi karena akan mengganti peran energi fosil (batubara, minyak, gas) yang tidak ramah lingkungan sesuai Persetujuan Paris/COP21 2015 dan target Indonesia yaitu 2050 Indonesia dalam kondisi NZE (Net Zero Emission).
PLTN sangat cocok untuk dibangun di Kalimantan Timur untuk mensuplai kebutuhan energi yang sangat besar, yang dibutuhkan oleh IKN (Ibukota Negara) karena di daerah ini akan dibangun ribuan rumah baik milik Pemerintah maupun swasta, disamping untuk menunjang kebutuhan industri yang sudah dan akan ada di Kalimantan Timur.
Demikian juga daerah-daerah lain yang membutuhkan energi listrik karena pertumbuhan ekonomi/industrinya kini dan perspektif nanti, baik Kalimantan Barat, Tengah, Selatan, Utara, pulau Jawa, Sumatera maupun pulau lain.
Untuk daerah-daerah perbatasan dan kepulauan, yang kebutuhan energi listriknya relatif skala kecil, sangat cocok untuk kehadiran PLTN Terapung (Floating Nuclear Power Plant), dimana d dunia saat ini hanya Rusia yang memiliki/memproduksinya dengan skala kecil (35MWe).
Jika ada pihak-pihak didalam negeri yang khawatir Rusia akan menawarkan pengadaan/pembangunan senjata nuklir di Indonesia, itu tidak mungkin karena Indonesia dan Rusia terikat dengan NPT(Nuclear Weapons Non-Proliferation Treaty) sebagai anggota, dan Indonesia terikat dengan SEANWFZ (Southeast Asia Nuclear Weapon Free Zone), dimana Indonesia menjadi anggotanya.
Dalam NPT, Negara anggota tidak boleh menerima bantuan senjata nuklir dari Negara lain atau membuat/memproduksi senjata nuklir baik sendiri maupun kerjasama dengan Negara lain. Rusia tidak mungkin akan menawarkan senjata nuklir bagi Indonesia dan sebaliknya Indonesia tidak mungkin akan menerima tawaran senjata nuklir dari Rusia atau Negara manapun, karena disamping terikat dengan perjanjian tersebut diatas, juga sadar akan segala konsekwensinya menghadapi reaksi dunia internasional.
Khusus tentang ROSATOM yang disampaikan Presiden Vladimir kepada Presiden Jokowi, maka sebagai gambarannya dapat dijelaskan sebagai berikut:
ROSATOM sebagai Perusahaan Negara (seperti BUMN di Indonesia) adalah perusahan raksasa yang bergerak di bidang industri nuklir baik untuk senjata nuklir untuk kepentingan perang maupun untuk tujuan damai seperti energi nuklir dan aplikasi nuklir.
Rosatom adalah pemain global yang bergengsi dan dikenal luas didunia Internasional. ROSATOM sebagai pemain bergengsi karena merupakan Holding Company yang membawahi sekitar 400 perusahaan dan organisasi, serta mengerjakan sekitar 290.000 karyawan yang tersebar di-berbagai Negara dengan mayoritas bekerja di Rusia.
ROSATOM juga dikenal sebagai raksasa nuklir karena disamping bergerak dibidang industri senjata nuklir, khusus usahanya dibidang energi nuklir yaitu PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) terintegrasi dari hulu sampai hilir, mulai dari uranium extraction, uranium enrichment, nuclear fuel, NPP (Nuclear Power Pant) design engineering and construction, NPP operation, nuclear engineering, NPP equipment, service and maintenance, dan nuclear waste management.
Disamping itu, ada juga kegiatan usaha yang tidak terkait langsung dengan NPP seperti applied and fundamental service, nuclear and radiation safety, nuclear ice break fleet (satu-satunnya di dunia), nuclear medicine dan composite material.
ROSATOM juga bekerja-sama dengan 50 negara didunia. Saat ini ROSATOM sedang membangun beberapa PLTN di-beberapa Negara, seperti Finlandia, Turki, Bangladesh, Belarus, Cina, Mesir, Hongaria, India.
Disamping itu, pada Juni 2015, ada kesepakatan kerja-sama antara ROSATOM dan KACST (King Abdulazis City On Science and Technology). Kesepakatan ini terkait pengembangaan energi nuklir untuk tujuan damai. Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tsb, Rosatom telah menawarkan pembangunan 16 unit PLTN kepada Arab Saudi dengan nilai USD100 miliar dan dapat dirampungkan pada tahun 2030.
Namun tindak lanjut kesepakatan ini belum ada beritanya.
Demikian pula dengan India, ada kesepakatan dengan Rusia yang tertuang dalam dokumen 2014 yang berjudul: “Strategic Vision for Strengthening Cooperation in Peaceful Uses of Atomic Energy Between the Russian Federation and the Republic of India”.
Dalam dokumen tersebut, ada kesepakatan India akan membangun 20 unit PLTN dengan menggunakan teknologi Rusia.
Sebagai gambaran, saat ini India memiliki 22 unit sedang beroperasi dengan kapasitas 6795MWe (net capacity) dan 8 unit sedang dibangun dengan kapasitan 6028MWe (net capacity). Dari 8 unit yang sedang dibangun, 4 unit dibangun oleh Rosatom, disamping 2 unit sudah beroperasi. Ke-6 PLTN ini bernama Kudankulam 1-6, berlokasi di Tirunellveli-Kattabomman, masing2 berkapasitas 1000MW (gross capacity), tipe PWR (Pressurized Water Reactor).
Di Turki, Rosatom sedang bangun 4 unit, dimana unit pertama direncanakan beroperasi pada tahun 2023 bertepatan dengan peringatan 100 tahun kemerdekaan Turki. Di Bangladesh, ada 2 unit yang sedang dibangun oleh Rosatom.
Demikian juga di negara-negara lain seperti disebutkan diatas, dimana penulis tidak dapat menguraikannya semua. Yang jelas, dari 53 unit PLTN yang sedang dibangun saat ini yang tersebar di 17 negara, Rosatom menguasai pasarannya.
