
Sebelum memperkenalkan Wanita Nuklir Indonesia, perlu sedikit menyampaikan tokoh wanita nuklir dunia sebagai Perintis yang namanya sangat populer didalam dunia kenukliran.
Maria lahir di Warsawa, Polandia pada 7 Nopember 1867.
Setelah tamat sekolah lanjutan melalui perjuangan yang gigih, pada tahun 1881 ia pindah ke-Perancis dan meneruskan studinya di Universitas Sorbonne Paris, bidang Fisika dan Matematika. Dia kemudian menikah dengan fisikawan Perancis bernama Pierre Curie pada 26 Juli 1895.
Akibat perkawaninannya ini, maka dia lebih dikenal sebagai Marie Curie oleh para ilmuwan. Marie Curie adalah penemu radioaktif, polonium dan radium serta pengembang sinar X. Akibat penemuannya itu, maka dia wanita pertama didunia pemenang Hadiah Nobel di-bidang Fisika pada thn 1903, kemudian pada tahun 1911 mendapat hadian Nobel lagi dibidang Kimia.
Dia satu-satunya Wanita didunia yang sampai saat ini pemenang 2 Hadiah Nobel.
Marie sering bergaul dengan radiasi saat dia melakukan penelitian di laboratorium dan dia sendiri belum tahu akan bahaya radiasi. Karena terlalu lama bergaul dengan radiasi sinar Radium, maka Marie meninggal pada 4 Juli 1934 di Perancis akibat mengidap Anemia (kanker darah).
Sosok yang terkenal dan dihormati dibidang fisika, yang oleh Albert Einstein menjulukinya sebagai Madam Curie Jerman. Meitner adalah penemu fisi nuklir. Pada thn 1939 dia menerbitkan makalah tentang fisi nuklir dan menjadi orang pertama yang mengatakan bahwa uranium dan thorium bisa mengalami fisi.
Menurut Meitner, reaksi fisi akan menghasilkan energi yang sangat besar. Meitner juga menjadi ilmuwan pertama yang meramalkan bahwa reaksi fisi bisa bertahan sendiri berkat neutron-neutron yang dilepaskan oleh reaksinya.
Namun hak dan prestasinya diabaikan karena dia keturunan Yahudi, bahkan nyawanya terancam saat kekuasaan Hitler sehingga dia mengungsi dari Jerman kenegara lain. Atas jasa-jasanya dalam pengembangan Ilmu pengetahuan, maka dia mendapat tanda jasa berupa Enrico Fermi Award, Medali Max Palnck, Hadiah Lieben, Otto-Han Prize for Chemistry and Physics.
Meitner meninggal pada 27 Oktober 1966.
Lahir di Liuhe, Taicang, Jiangsu, Cina 31 Mei 1912 dan meninggal di New York City, AS pada 16 Pebruari 1997.
Wu lulus sarjana bidang fisika pada 1934 di Universitas Pusat Nasional di Nanking dengan pujian tertinggi dikelasnya. Pada 1936 Wu melanjutkan studinya di University of California, Berkeley dan lulus doktor thn 1940.
Wu adalah seorang fisikawan eksperimental Tiongkok-Amerika yang membuat kontribusi pengembangan proses untuk memisahkan uranium menjadi isotop-isotop uranium 235 dan uranium 238 melalui difusi gas. 1945 Wu mengakhiri karirnya sebagai Prof. di Universitas Columbia New York. Dia juga menemukan cara untuk memperkaya bijih uranium yang menghasilkan uranium dalam jumlah besar sebagai bahan bakar bom.
Hasil penelitiannya ini memberi sumbangan besar bagi produksi bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada thn 1945. Karena keahlian dan prestasinya, maka Wu dijuluki sebagai THE FIRST LADY OF PHYSICAL, QUEEN OF NUCLEAR RESEARCH dan THE CHINESE MADAME CURIE.
Ketiga nama itu antara lain dari sekian banyak wanita nuklir yang terkenal di-dunia dan berprestasi didalam pengembangan, pemanfaatan dan penguasaan iptek nuklir.
Bagaimana dengan wanita nuklir Indonesia?
Ada banyak nama baik sebagai perintis/pelopor maupun yang sedang aktif sekarang ini, baik aplikasi maupun energi nuklir. Diantara mereka tercatat:
Untuk Aplikasi Nuklir, bidang Sterilisasi antara lain Nazly Hilmy dan Rahayu Chosdu (Almh), bidang Pengawetan makanan al Zubaidah Irawati, bidang Pertanian Ita Dwimahyani, bidang Peternakan Boky Jeanne Tuasikal, bidang Biologi Radiasi Zubaidah Alatas, bidang Gizi Ermin Katim, bidang NAA untuk Kesehatan dan Lingkungan Muhayatun. Bidang Non-Destructive Tes Renaningsih Setjo, dll.
