Dalam hal ber organisasi juga wanita Minahasa telah terbiasa sejak dulu.
Pada bula Februari 1845, Gereja tua di Tondano telah mengalami kerusakan besar akibat gempa bumi sehingga harus dibongkar.
Sampai dengan awal tahun 1867 pembangunan gereja ini tertunda terus dan belum terwujud.
Pada pertengahan tahun 1867, dibawah pimpinan wanita-wanita terkemuka Tondano dibentuk Perkumpulan Wanita.
Ini merupakan perkumpulan wanita pertama dengan tema memajukan kehidupan masyarakat Minahasa di mana-mana.
Tujuan utama perkumpulan ini membangkitkan tata hidup jemaah terutama perhatian akan membangun tempat beribadah di mana mereka mendorong kaum pria agar lebih banyak menebang pohon besar yang terdapat kurang lebih 6 KM dari Tondano.
Setelah kayu-kayu yang terlebih dahulu dip roses lepas dari hutan dan telah berada di jalanan umum, maka kaum wanita memberikan aba-aba pembangkit semangat untuk menariknya masuk ke Tondano.
Ratusan wanita dan gadis remaja sekitar pukul 16.00 berterika-teriak dan menyanyi memasuki Kota Tondano. Delapan puluh sampai seratus wanita sedang menarik balok besar sepanjang 28 meter terikat dengan rotan dengan konstan sambil menyanyi.
Kaum pria tidak diperkenankan untuk membantu.
Akhirnya usah sendiri membangun gerja berhasil dilaksanakan dengan pengawasan pekabar injil Hessel Rooker.
Mungkin ini adalah organisasi wanita tertua di Indonesia.
Selanjutnya kita mengenal Maria Walanda Maramis yang mendirikan Pencinta Ibu Kepada Anak dan Turunanya (PIKAT) pada tahun 1817.
Apa yang dilakukan Walanda Maramis jauh lebih dahulu dari RA Kartini yang baru lahir 21 April 1879.
Dari : Silsilah Keluarga Gerungan 1500-1990 oleh Boeng Dotulong.
(***)
