Wisata dan Kuliner

Bakpia Jadi Ikon Kuliner Khas Yogyakarta, Ini Kisah Akulturasinya

Pekerja memegang bakpia sebelum dikemas di sentra produksi Bakpia Kampung Pathuk, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dikenal sebagai ikon kuliner khas Yogyakarta.
Seorang pekerja menata dan memegang bakpia sebelum proses pengemasan di sentra produksi Bakpia Kampung Pathuk, Daerah Istimewa Yogyakarta, 3 Januari 2026. Bakpia yang berawal dari hasil akulturasi budaya kini menjadi salah satu ikon kuliner khas Yogyakarta. (Xinhua/Agung Supriyanto)

Bakpia bukan sekadar oleh-oleh yang identik dengan Yogyakarta.

Di balik cita rasanya yang kini dikenal luas, kudapan ini menyimpan perjalanan panjang akulturasi budaya hingga akhirnya menjadi ikon kuliner khas Yogyakarta yang dicintai lintas generasi.

Hampir setiap wisatawan yang berkunjung ke Kota Pelajar membawa pulang sekotak bakpia.

Tradisi itu masih terus berlangsung hingga sekarang, termasuk bagi Adi, seorang pelancong asal Jakarta yang baru saja menghadiri konser Prambanan Jazz 2026 di kawasan Candi Prambanan.

Sambil menunjukkan kotak bakpia edisi khusus yang dibelinya saat acara tersebut, Adi mengaku selalu menyempatkan membeli bakpia sebagai buah tangan untuk keluarga dan kerabat.

Keluarga saya suka kue ini. Sejak dulu kami selalu membeli bakpia setiap kali berkunjung ke Yogyakarta. Rasanya kurang lengkap kalau ke Yogyakarta tanpa membeli oleh-oleh ini,” ujar Adi kepada Xinhua, Senin (6/7/2026).

Di balik popularitasnya saat ini, bakpia ternyata memiliki sejarah yang erat dengan proses pertemuan dua budaya yang kemudian melahirkan salah satu kuliner paling terkenal di Yogyakarta.

Bakpia Berawal dari Kudapan Tionghoa

Berdasarkan studi berjudul “Bakpia: Perjalanan Akulturasi China-Indonesia dalam Makanan Khas Yogyakarta” karya Martiana Noviopy Rae Rato dan Rahadjeng Pulungsari Hadi, nama bakpia berasal dari dialek Hokkien.

Kata “bak” berarti daging, sedangkan “pia” berarti kue atau roti.

Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa bakpia mulai diperkenalkan di Yogyakarta sekitar era 1940-an oleh seorang keturunan Tionghoa bernama Kwik Sun Kok. Setelah kembali dari China, ia membuat bakpia menggunakan resep asli yang memakai minyak babi pada adonan kulit serta daging babi sebagai isiannya.

Namun, karena mayoritas masyarakat Yogyakarta beragama Islam, bakpia dengan isian daging babi tidak mendapat sambutan yang luas. Situasi itu mendorong Kwik melakukan penyesuaian resep.

Minyak babi kemudian diganti dengan minyak kelapa, sedangkan isian daging babi digantikan kacang hijau yang telah dihaluskan dan dicampur gula.

Perubahan tersebut membuat bakpia semakin mudah diterima masyarakat setempat hingga akhirnya berkembang menjadi makanan khas daerah.

Dari Kampung Pathuk Menjadi Ikon Kuliner Khas Yogyakarta

Popularitas bakpia semakin meningkat pada dekade 1980-an ketika Kampung Pathuk berkembang sebagai sentra industri rumahan bakpia.

Pada masa itu, para pembuat bakpia belum menggunakan merek dagang seperti sekarang.

Sebagai pembeda, mereka justru memakai nomor rumah produksi yang kemudian melekat menjadi identitas masing-masing produsen.

Menurut Martiana, keberhasilan bakpia dikenal luas juga dipengaruhi strategi pemasaran yang dilakukan masyarakat Tionghoa saat itu.

Mereka bahkan membagikan resep kepada warga sekitar sehingga semakin banyak orang dapat memproduksi dan menjual bakpia.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara