
Tangerang, BeritaManado.com — Siapa yang tak kenal laksa, hidangan berkuah kental yang primadona di Asia Tenggara, khususnya Malaysia, Singapura, dan Indonesia.
Di Tanah Air, laksa punya banyak rupa, dari laksa Bogor, laksa Palembang, hingga laksa Banjar.
Tapi, ada satu varian yang punya cerita spesial dan kental dengan nuansa Tionghoa, yakni Laksa Tangerang.
Hidangan ini bukan sekadar santapan lezat, melainkan juga cerminan budaya yang melebur indah.
Bayangkan saja, semangkuk laksa Tangerang hadir dengan kuah santan kuning nan gurih yang dimasak bersama kacang hijau dan kentang, berpadu dengan mi beras kenyal, dan ditaburi irisan daun kucai.
Setiap suapnya adalah perpaduan rasa dan sejarah, simbol multikulturalisme yang kaya.
Tangerang sendiri memang dikenal sebagai rumah bagi populasi etnis Tionghoa yang signifikan sejak zaman kolonial Belanda.
Komunitas yang akrab disapa Tionghoa Benteng ini sudah ratusan tahun berbaur dengan masyarakat lokal, menciptakan perpaduan budaya yang unik.
Tak heran jika laksa Tangerang diyakini lahir dari akulturasi kuliner Tionghoa dengan cita rasa lokal Betawi dan Sunda.
Bahkan, kata “laksa” sendiri konon berasal dari bahasa Sanskerta “laksha” yang berarti “banyak”, mungkin merujuk pada kekayaan bahan dan rempah yang digunakannya.
Pada era 1970-an, laksa Tangerang sempat jadi primadona.
Suara lantang “laksa, laksa…” sering terdengar dari para pedagang keliling yang menjajakan hidangan ini dari kampung ke kampung.
Namun, seiring berjalannya waktu dan munculnya makanan cepat saji yang lebih praktis dan murah, jejak laksa Tangerang perlahan memudar, bahkan nyaris hilang dalam dua dekade.
Tapi, seperti pepatah, “roda pasti berputar.”
Di tahun 2000-an, laksa Tangerang kembali bangkit dan menempati hati masyarakat.
Dukungan tak hanya datang dari pecinta kuliner, tapi juga dari Pemerintah Kota Tangerang.
Kini, laksa Tangerang populer dan mendapat perhatian khusus dari pemerintah setempat.
Mereka bahkan memfasilitasi para penjual laksa dengan mendirikan Kawasan Kuliner Laksa Tangerang di Jalan Mohamad Yamin.
Di sana, ada tujuh warung berpondok bambu beratapkan jerami yang siap memanjakan lidah Anda, bahkan beberapa di antaranya buka 24 jam!
Pengunjung bisa memilih laksa sesuai selera.
Misalnya, seporsi laksa ayam kampung dengan kuah kuning pekat dan rasa pedas berempah yang mantap, dibanderol Rp25.000.
Atau, jika Anda mencari sesuatu yang lebih ringan, ada laksa telur dengan kuah pucat namun tetap nikmat seharga Rp15.000.
Menurut Mang UU, salah satu pedagang yang ditemui pada Senin (23/6/2025) lalu, sebagian besar penjual di kawasan ini mulai berjualan sekitar tahun 2010.
Sebelum pandemi COVID-19, mereka bisa menjual hingga 100 porsi sehari.
Sayangnya, kini menjual 50 porsi saja terasa sangat berat.
Semoga saja, dengan semakin dikenalnya laksa Tangerang, hidangan lezat ini akan kembali jaya dan terus lestari sebagai warisan kuliner.
(sumber: xinhuanews)
