Berita Utama

Daring Menuju Cuan: 10 Perusahaan Makanan Indonesia Sasar Pasar China Selatan

Daring Menuju Cuan: 10 Perusahaan Makanan Indonesia Sasar Pasar China Selatan
Foto yang diabadikan pada 12 April 2023 ini menunjukkan seorang staf sedang memperkenalkan produk sarang burung walet yang diimpor dari Indonesia di sebuah pameran di Provinsi Hainan, China selatan. (Xinhua)

BeritaManado.com — Pada Rabu, 16 Juli lalu, 10 perusahaan makanan unggulan dari Indonesia mengambil langkah berani.

Mereka bernegosiasi bisnis secara daring dengan 13 calon pembeli dari China selatan, menandai upaya signifikan untuk memperluas jangkauan produk kuliner Nusantara.

Inisiatif cerdas ini adalah hasil kolaborasi antara Konsulat Jenderal (Konjen) Republik Indonesia di Guangzhou dan Efoodline Network Technology Co. Ltd.

Tujuannya jelas, membuka jalan selebar-lebarnya bagi lebih banyak produk makanan Indonesia untuk merambah pasar China.

Efoodline sendiri adalah platform layanan perdagangan makanan Business-to-Business (B2B) yang mencakup pasar domestik China dan internasional.

Jadi, koneksi ini benar-benar strategis.

Produk-produk yang ditawarkan perusahaan Indonesia pun beragam dan punya potensi besar di pasar China.

Ada makanan ringan bebas gluten, kopi yang aromanya mendunia, kubilosa, puff bawang merah yang unik, makanan beku, produk akuatik, minyak kelapa, hingga rempah-rempah yang kaya rasa.

Ini adalah representasi kekayaan kuliner Indonesia yang siap memanjakan lidah masyarakat China.

Acara ini bukan sekadar pertemuan bisnis biasa.

Ada harapan besar bahwa China selatan bisa menjadi pusat distribusi yang vital.

Sebuah jembatan yang akan membantu produk makanan Indonesia, termasuk dari Usaha Kecil dan Menengah (UKM), menembus pasar raksasa tersebut.

Konjen RI di Guangzhou, Ben Perkasa Drajat, mengungkapkan optimisme.

Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2024, volume perdagangan antara distrik konsuler (yang mencakup Provinsi Guangdong, Fujian, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, dan Hainan) dan Indonesia mencapai 47,6 miliar dolar AS.

Angka ini luar biasa, menyumbang sekitar 30 persen dari total volume perdagangan antara China dan Indonesia secara keseluruhan.

Menurut Konjen, pertemuan negosiasi daring ini adalah inisiatif inovatif.

Dengan memanfaatkan teknologi, batasan geografis, waktu, dan biaya bisa teratasi.

Ini benar-benar membangun jembatan konkret antara pembeli China dan pemasok Indonesia.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara