
Mahasiswa Indonesia bernama Veldesen Yaputra mengapresiasi upaya pelestarian warisan budaya China setelah mengikuti Pekan Perlindungan Warisan Budaya Internasional 2026 di Provinsi Shanxi.
Pengalaman tersebut memperkuat pandangannya bahwa pelestarian bangunan bersejarah tidak hanya menjaga fisik bangunan, tetapi juga mempertahankan identitas budaya dan kehidupan masyarakat.
Kegiatan yang mengusung tema “Unity for Prosperity, Heritage for Eternity” itu dibuka pada Rabu (15/7/2026) di kota tua Yuci, Jinzhong, Shanxi, China utara.
Forum tersebut mempertemukan diplomat, akademisi, pakar pelestarian budaya, hingga kreator media dari berbagai negara untuk bertukar pengalaman mengenai perlindungan warisan budaya.
Bagi Veldesen, keikutsertaannya dalam agenda internasional itu bukan sekadar perjalanan akademis.
Pengalaman tersebut juga menjadi momen yang memperkuat keterikatannya dengan akar budaya sekaligus memperluas pandangannya mengenai pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menjaga warisan budaya.
Alih-alih mengabadikan bangunan dengan kamera, mahasiswa arsitektur sekaligus kreator konten asal Indonesia itu memilih membawa buku sketsa.
Di hadapan bangunan kuno China, ia menggambar detail struktur kayu hingga lekukan atap sebagai cara memahami nilai yang terkandung di dalamnya.
“Menurut saya, menggambar tidak semata-mata untuk merekam rupa suatu bangunan,” tuturnya. “Lebih dari itu, menggambar adalah upaya untuk menjalin keterikatan emosional dengannya.”
Mahasiswa Indonesia Nilai China Serius Melestarikan Warisan Budaya
Lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, pada 2001, Veldesen tumbuh di lingkungan multibudaya. Ketertarikannya terhadap akar budaya Tionghoa membuatnya mulai mempelajari bahasa Mandarin sejak usia muda.
Pada 2017, ia berangkat ke China untuk mendalami bahasa Mandarin sekaligus mengenal budaya negara tersebut. Ketertarikannya terhadap sejarah dan perkembangan China kemudian membawanya melanjutkan pendidikan di Universitas Tsinghua, dengan fokus pada desain lingkungan sebelum menempuh program magister arsitektur.
Perjalanan akademik itu mengarahkan minatnya pada arsitektur tradisional, revitalisasi pedesaan, dan pelestarian warisan budaya.
“China telah mengajarkan saya bahwa konservasi warisan budaya tidak sekadar tentang melestarikan bangunan tua,” ungkapnya. “Melainkan juga tentang merawat budaya, sejarah, dan vitalitas masyarakat.”
Selama berada di Shanxi, Veldesen mengaku terkesan dengan banyaknya situs bersejarah yang dijaga dengan baik. Provinsi tersebut dikenal sebagai salah satu pusat arsitektur kuno China dengan lebih dari 500 situs warisan budaya utama yang berada di bawah perlindungan negara.
Selain itu, Shanxi juga memiliki tiga Situs Warisan Dunia UNESCO, yakni Kota Kuno Pingyao, Gua Yungang, dan Gunung Wutai.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah setempat juga memanfaatkan teknologi digital, seperti pemindaian tiga dimensi (3D), pengarsipan digital, hingga pameran imersif untuk mendukung pelestarian warisan budaya agar semakin mudah diakses masyarakat.
Peluang Kerja Sama Indonesia dan China
Menurut Veldesen, pengalaman China dapat menjadi referensi berharga bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Kesamaan terbesar antara China dan Indonesia adalah arsitektur tradisionalnya berhubungan erat dengan alam, budaya, dan masyarakat setempat,” tuturnya. “Bangunan bukanlah monumen yang berdiri sendiri. Bangunan berkembang seiring dengan kehidupan masyarakat.”
