Oleh Adian Napitupulu, Sekjen PENA’ 98.
“Sebagian mahasiswa mengantarkan jenazah kepemakaman.. dimulai dari jalan Kyai Tapa. mereka tak hanya merusak dan menjarah…..”
Tulisan Wiranto itu jelas menuding mahasiswa sebagai pemicu kerusuhan dan penjarahan Mei 98. Fakta – fakta lapangan serta investigasi Komnas HAM menunjukan rusuh Mei 98 terjadi seperti dikomandoi, sistematis, terorganisir, dilakukan orang – orang yang terampil dan kebal hukum.
Peristiwa di depan Universitas Trisakti sehari setelah penembakan mahasiswa Trisakti jadi bukti bahwa tidak ada relevansi antara aksi mahasiswa tanggal 13 Mei 1998. Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus terkonsentrasi di Trisakti. Saat itu massa tidak bisa keluar dari Trisakti karena penjagaan sangat ketat.
Siang harinya kelompok massa berpakaian preman di luar kampus Trisakti membakar truk sampah. Anehnya, aparat, saat itu ABRI tidak berusaha mencegah pembakaran itu melainkan justru menembaki mahasiswa yang terkonsentrasi di lapangan parkir Trisakti dengan peluru karet, peluru hampa dan gas air mata.
14 Mei 1998 kerusuhan serentak di berbagai kota lain. Kerusuhan di Cawang, dimulai dengan truk sampah yang dibakar oleh kumpulan kecil massa (pola yang sama seperti yang terjadi di Trisakti).
Jika dipelajari beberapa kesamaan pola, sebaran kerusuhan (Jakarta, Solo, Medan, Palembang dan lain – lain) keserentakan, kecepatan dan ketrampilan para perusuh bisa disimpulkan bahwa pelaku kerusuhan dilakukan orang – orang yang kebal hukum karena hingga hari ini tidak ada yang ditangkap lalu disidangkan.
Semua pelaku kerusuhan, penjarahan bahkan pemerkosaan perempuan etnis Tionghoa hingga hari ini masih bebas berkeliaran di sekitar kita dan mungkin saja saat ini jadi tetangga yang akrab dengan keluarga kita.
Terlepas dari nafsu politiknya, baiknya jika Wiranto ingin jadi Pahlawan sebgai modal jadi Presiden maka berbuatlah banyak kebaikan bukan dgn mengarang banyak cerita baik yang heroik tapi penuh kebohongan. (*/oke)
