Berita Utama

Studi: Pria Lebih Bahagia Saat Bisa Membahagiakan Orang Tersayang

Ilustrasi uang kertas dalam tas belanja sebagai simbol pengeluaran prososial dan kebahagiaan memberi
Memberi kepada orang yang dicintai bukan sekadar soal uang — tapi penelitian membuktikan, momen itulah yang justru menghadirkan kebahagiaan terbesar.

Penulis: Tim Redaksi

Pria Lebih Bahagia Saat Bisa Membahagiakan Orang Tersayang — Ini Bukti Ilmiahnya

Ada yang bilang kebahagiaan terbesar datang dari menerima: hadiah, uang, atau pencapaian.

Tapi penelitian selama lebih dari dua dekade justru menunjukkan sebaliknya.

ADVERTISEMENT

Memberi ternyata lebih membahagiakan daripada menerima — dan sains punya penjelasannya.

Penelitian Ikonik dari Jurnal Science

Pada 2008, peneliti Elizabeth W. Dunn, Lara B. Aknin, dan Michael I. Norton dari University of British Columbia (UBC) mempublikasikan temuan mereka di jurnal Science: orang yang menggunakan uang untuk orang lain cenderung lebih bahagia dibandingkan mereka yang menghabiskannya hanya untuk diri sendiri.

Riset ini menggunakan tiga pendekatan sekaligus — survei representatif nasional, studi longitudinal, dan eksperimen lapangan — yang semuanya mengarah pada kesimpulan yang sama.

Yang mengejutkan, efek ini tidak bergantung pada jumlah uang yang dikeluarkan.

Dalam satu eksperimen, peserta yang diberi uang Rp75.000 hingga Rp300.000 dan diminta membelanjakannya untuk orang lain dilaporkan lebih bahagia pada malam harinya dibanding mereka yang membelanjakan untuk diri sendiri.

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai prosocial spending — penggunaan sumber daya untuk membantu atau membahagiakan orang lain.

Berlaku Lintas Gender, Lintas Budaya

Studi lanjutan oleh Lok dan Dunn (2022) yang melibatkan 15.545 responden di Amerika Serikat memperkuat temuan ini: pengeluaran prososial berkorelasi kuat dengan kebahagiaan di semua kelompok demografis, tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau tingkat penghasilan.

Bahkan, riset lintas budaya yang menganalisis data dari 136 negara menunjukkan manfaat ini bersifat universal — berlaku di negara kaya maupun miskin.

Mengapa Banyak Pria Merasakannya Secara Kuat

Meski penelitian tersebut tidak meneliti pria secara eksklusif, temuan ini relevan dengan pengalaman banyak laki-laki.

Banyak psikolog mencatat bahwa pria kerap membangun identitas dan rasa berharga dari kemampuan mereka memberi — mentraktir pasangan, memenuhi kebutuhan keluarga, membelikan sesuatu untuk anak, atau sekadar membuat orang yang dicintai tersenyum.

Dalam konteks itulah sains menjelaskan mengapa momen-momen seperti itu terasa begitu memuaskan: bukan sekadar kebiasaan sosial, melainkan respons emosional yang berakar dalam.

Memberi Bukan Hanya Soal Uang

Para ahli mengingatkan bahwa memberi dalam arti luas jauh melampaui materi.

Perhatian, waktu, dukungan emosional, dan kehadiran saat dibutuhkan sering kali memiliki nilai yang lebih besar daripada hadiah seberapa pun besarnya.

Hubungan yang kuat bukan dibangun oleh satu pihak yang terus memberi dan satu pihak yang terus menerima.

Kebahagiaan yang nyata tumbuh ketika kedua pihak saling menghargai, saling mendukung, dan sama-sama berusaha membuat satu sama lain merasa berarti.

Mungkin itulah sebabnya bagi sebagian orang — terutama para pria — kebahagiaan terbesar bukan saat menerima sesuatu, melainkan ketika melihat orang yang mereka sayangi merasa bahagia karena perhatian yang mereka berikan.

—

Referensi Ilmiah

  • Dunn, E.W., Aknin, L.B., & Norton, M.I. (2008). Spending Money on Others Promotes Happiness. Science, 319(5870), 1687–1688. DOI: 10.1126/science.1150952
  • Lok, I. & Dunn, E.W. (2022). Are the benefits of prosocial spending and buying time moderated by age, gender, or income? PLOS One. DOI: 10.1371/journal.pone.0269636
  • Aknin, L.B. et al. (2013). Prosocial Spending and Well-Being: Cross-Cultural Evidence for a Psychological Universal. Journal of Personality and Social Psychology, 104(4), 635–652.