Nasional

Ranking Pariwisata Dunia 2026: Indonesia Peringkat 23, Jepang Nomor 1

Gunung Fuji di Jepang, destinasi wisata ikonik di negara peringkat pertama pariwisata dunia 2026 versi WEF.
Gunung Fuji di Jepang, negara yang menempati peringkat pertama dalam Travel & Tourism Development Index 2026 versi World Economic Forum. Foto: Dokumentasi pengunjung, digunakan atas izin pemilik.

Penulis: Tim Redaksi

Jepang menempati peringkat pertama dalam Travel & Tourism Development Index (TTDI) 2026 yang dirilis World Economic Forum (WEF) pada 25 September 2026. Indonesia berada di posisi ke-23 dunia dengan skor 4,56, meningkat dibandingkan skor 4,46 pada edisi sebelumnya.

Laporan terbaru WEF tersebut memberikan gambaran mengenai negara-negara yang memiliki kondisi paling mendukung bagi pengembangan sektor perjalanan dan pariwisata.

ADVERTISEMENT

Indonesia menempati peringkat keenam di kawasan Asia Pasifik dan posisi kedua di Asia Tenggara setelah Singapura, menurut keterangan resmi Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Hasil ini memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki modal penting untuk mengembangkan pariwisata. Namun, peningkatan skor belum otomatis membuat posisi Indonesia naik dalam persaingan global.

Jepang Pimpin Ranking Pariwisata Dunia 2026

Jepang naik dua peringkat untuk mengambil posisi pertama dari Amerika Serikat. Australia juga memperbaiki posisinya dengan naik dua peringkat ke urutan keempat.

Berikut daftar 10 negara dengan skor tertinggi dalam TTDI 2026:

  1. Jepang
  2. Amerika Serikat
  3. Spanyol
  4. Australia
  5. Prancis
  6. Jerman
  7. Inggris
  8. China
  9. Swiss
  10. Italia

Menurut WEF, sepuluh negara tersebut merupakan negara yang sama dengan kelompok 10 besar edisi 2024, meskipun urutannya mengalami perubahan.

Sembilan negara dalam kelompok teratas merupakan negara maju, sementara China menjadi satu-satunya pengecualian. Negara-negara Eropa mengisi enam posisi dalam daftar tersebut.

Jepang memperoleh keuntungan dari kekuatan konektivitas, kapasitas destinasi, serta upaya memperluas pasar wisatawan ke berbagai wilayah di luar kota-kota utamanya.

Dalam laporan WEF, Jepang juga tercatat menerima rekor 42,7 juta kunjungan wisatawan internasional pada 2025. Angka tersebut merupakan data kunjungan tersendiri, bukan dasar tunggal penentuan peringkat TTDI.

Rincian peringkat dan analisis negara teratas tersedia dalam laporan Travel & Tourism Development Index 2026 yang diterbitkan World Economic Forum.

Indonesia Peringkat 23, Skor Naik Menjadi 4,56

Indonesia mencatat skor 4,56 dalam TTDI 2026, meningkat dari 4,46 pada edisi 2024.

Kementerian Pariwisata menyebut Indonesia berada di peringkat ke-23 dunia, peringkat keenam Asia Pasifik, dan kedua di Asia Tenggara setelah Singapura.

Kenaikan skor tersebut menunjukkan perbaikan pada sejumlah kondisi yang mendukung pengembangan pariwisata. Meski demikian, persaingan antarnegara juga terus berubah sehingga peningkatan skor tidak selalu diikuti kenaikan peringkat.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan bahwa hasil tersebut mencerminkan komitmen pemerintah terhadap sektor pariwisata sekaligus besarnya modal alam dan budaya yang dimiliki Indonesia.

Kementerian juga menyoroti pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan, terutama infrastruktur dan layanan pariwisata, kesehatan dan kebersihan, kesiapan digital, keterbukaan perjalanan, serta keamanan.

Informasi mengenai posisi dan keunggulan Indonesia dapat dibaca dalam keterangan resmi Kementerian Pariwisata tentang perkembangan daya saing pariwisata nasional.

Empat Keunggulan Indonesia dalam Penilaian WEF

Di balik posisi ke-23 secara keseluruhan, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan pada pilar penilaian tertentu.

Berdasarkan data yang disampaikan Kementerian Pariwisata, Indonesia menempati peringkat pertama dunia pada pilar Prioritization of Travel & Tourism dengan skor 6,12.

Indonesia juga berada di peringkat kelima dunia untuk daya saing harga, peringkat kesembilan untuk sumber daya alam, serta peringkat ke-15 untuk sumber daya budaya dan dampak sosial ekonomi.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa kekayaan alam, budaya, dan perhatian terhadap sektor pariwisata menjadi modal penting Indonesia dalam persaingan internasional.

Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan kualitas infrastruktur, akses transportasi, layanan wisata, kebersihan, keamanan, dan kesiapan digital. Faktor-faktor itu turut menentukan kemampuan destinasi untuk memberikan pengalaman yang baik sekaligus mempertahankan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Apa yang Sebenarnya Diukur dalam Ranking WEF?

TTDI tidak mengurutkan negara berdasarkan jumlah wisatawan yang datang, pendapatan pariwisata, atau besarnya belanja pengunjung.

Indeks ini mengukur faktor dan kebijakan yang memungkinkan sektor perjalanan dan pariwisata berkembang secara berkelanjutan, tangguh menghadapi gangguan, serta memberikan manfaat ekonomi dan sosial.

Menurut penjelasan metodologi resmi WEF, TTDI 2026 mencakup 110 negara atau perekonomian dengan 17 pilar dan 102 indikator.

Pilar-pilar tersebut dikelompokkan ke dalam lima dimensi utama, yakni lingkungan pendukung, kebijakan dan kondisi pendukung pariwisata, infrastruktur dan layanan, sumber daya pariwisata, serta keberlanjutan pariwisata.

Penilaiannya memadukan data kuantitatif dari berbagai organisasi internasional dan penyedia data dengan hasil survei opini eksekutif untuk sejumlah aspek yang tidak memiliki data statistik pembanding yang memadai.

Hasil indeks mencerminkan data terbaru yang tersedia ketika pengumpulan data dilakukan, yaitu Mei 2026. Karena itu, perubahan kebijakan atau kondisi yang terjadi setelah periode tersebut belum tentu tercermin dalam skor.

WEF mencatat bahwa 101 dari 110 negara atau perekonomian mengalami peningkatan skor antara 2024 dan 2026. Rata-rata skor indeks meningkat 2,1 persen.

Laporan tersebut juga menyoroti tantangan global, termasuk meningkatnya tekanan biaya perjalanan, kebutuhan investasi infrastruktur, kekurangan tenaga kerja, serta dampak pertumbuhan pariwisata terhadap lingkungan dan masyarakat setempat.

Apa Artinya bagi Destinasi Wisata Indonesia?

Posisi Indonesia dalam TTDI 2026 memberikan gambaran bahwa daya saing pariwisata tidak hanya bergantung pada keindahan destinasi, tetapi juga pada kesiapan seluruh ekosistem pendukungnya.

Pengembangan destinasi perlu disertai konektivitas yang baik, layanan yang berkualitas, pengelolaan lingkungan, promosi yang tepat, serta keterlibatan masyarakat lokal.

Hal ini relevan bagi berbagai destinasi di Indonesia, termasuk kawasan wisata bahari, taman nasional, kota budaya, dan desa wisata.

Sebagai contoh, Bunaken dan pengembangan pariwisata di Manado menunjukkan bagaimana pengelolaan fasilitas dan aktivitas pendukung menjadi bagian dari pengembangan sebuah destinasi.

Sementara itu, Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Likupang menjadi contoh upaya mengembangkan potensi wisata dengan memperhatikan manfaat ekonomi masyarakat dan kelestarian alam.

Pada akhirnya, ranking TTDI 2026 menempatkan Jepang sebagai negara dengan kondisi paling mendukung pengembangan perjalanan dan pariwisata, sementara Indonesia berada di posisi ke-23.

Bagi Indonesia, tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan kekayaan alam dan budaya, melainkan memastikan seluruh potensi tersebut didukung infrastruktur, layanan, keamanan, dan pengelolaan berkelanjutan agar menghasilkan manfaat yang lebih luas.

Sumber: World Economic Forum, Travel & Tourism Development Index 2026, diterbitkan 25 September 2026; Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.