Ia berusaha meredakan suasana sambil berjanji, soal ini akan ia ajukan pada residen (saat itu JPC Cambir, residen dari tahun 1831-1842 agar diusut).
Usulan ini terjadi kemudian dimana residen bersama komisi penengah menunjuk di mana letak bata yang harus di beri tanda.
Tanda tersebut berupa tanaman Tawaang (Coryline Terminales Kunth).
Walaupun Suku Tondano tidak sependapat dengan komisi penengah tersebut mereka pasrah saja.
Seusai perkara ini residen yang menganggap persoalan telah selesai, pergi bermalam di Tondano sebelum kembali ke Menado.
Perkiraannya ternyata meleset, karena ia tidak memperhitungkan sifat “Wewene ne Toudano”.
Mereka sama sekali tidak puas atas keputusan yang telah berlangsung di antara kaum pria mereka.
Di malam hari mereka mengadakan “sumpah persekutuan” yaitu “setia antara sesame mereka untuk tidak menerima putusan tersebut”.
Malam itu juga berangkatlah mereka keperbatasan dan seluruh tumbuhan tawaang sebagai tanda batas mereka cabut.
Dini hari saat residen berada di beranda tempat ia menginap, sambil mengangkat muka ke atas terlihat olehnya di ujung tiang bendera tergantung se ikat tawaang dimana seharusnya terdapat kain bendera.
Ini adalah hasil pekerjaan wewene ne Toudano.
Dengan sangat terkejut dan hati ciut, residen yang tahu diri dari perbuatan ini serta sadar akan bahaya atas dirinya langsung angkat kaki menuju rumah pekabar injil Riedel selanjutnya berangkat kembali ke tempat kediamannya di Manado.
Dalam hal beragama, kedudukan wanita Minahasa juga sangat terpandang.
Tidak jarang tenaga walian (padri) berada ditangan mereka.
Lagipula, “legenda Suku Minahasa” menunjukan, ibu dari seluruh rakyat Minahasa, yaitu Lumimuut bertemu pertama kali walian wanita Karema.
Di sini terbukti bahwa yang berlaku pertama di bumi Malesung/Minahasa adalah kekeluargaan secara matriarchal dan berubah menjadi patriarchal kemudian setelah dua tiga generasi.
Dalam penunanian tugas keagamaan kaum wanita lebih teliti dari kaum pria.
Ini di karenakan perasaan ke agamaan dalam diri mereka pada umumnya lebih dalam serta rasa terikat dengan leluhur lebih kukuh.
