
Penulis: Tim Redaksi
MANADO, BeritaManado.com — Dunia menahan napas selama berbulan-bulan, dan kini jawabannya datang.
Amerika Serikat dan Iran resmi mencapai kesepakatan damai setelah negosiasi maraton yang melelahkan, mengakhiri konflik bersenjata yang pecah sejak akhir Februari lalu.
Kabar bersejarah itu pertama kali diumumkan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melalui media sosial pada Minggu (14/6/2026).
Pakistan bertindak sebagai salah satu mediator kunci dalam proses perundingan yang berlangsung intensif selama berminggu-minggu.
Tak lama berselang, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi sendiri pencapaian tersebut lewat unggahan di platform Truth Social miliknya.
Trump sekaligus mengumumkan dua langkah konkret: pembukaan Selat Hormuz tanpa pungutan biaya, dan pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Upacara penandatanganan resmi perjanjian dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 19 Juni 2026, di Swiss. Sebelum itu, kedua pihak dijadwalkan menjalani serangkaian pembicaraan teknis persiapan di Doha, Qatar.
Perjanjian ini disebut mencakup penghentian permanen seluruh operasi militer di semua lini konflik, termasuk di Lebanon. Sejumlah poin lainnya masih akan dirundingkan lebih lanjut dalam kurun 60 hari ke depan.
Di balik layar, Qatar memainkan peran penting. Para mediator Doha baru meninggalkan Teheran setelah menjalani 17 jam negosiasi maraton yang berakhir dengan tercapainya kesepahaman antara kedua belah pihak.
Deputi Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, membenarkan bahwa teks perjanjian telah difinalisasi. Ia mengatakan isi lengkap dokumen itu baru akan dipublikasikan setelah penandatanganan resmi dilakukan di Swiss.
Respons dunia datang cepat. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyambut kesepakatan ini sebagai tonggak penting menuju perdamaian permanen di Timur Tengah.
Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang hari ini menjadi tuan rumah pertemuan G7 di Evian, turut menyerukan implementasi perjanjian secara cepat dan menyeluruh oleh semua pihak yang terlibat.
Dampak ekonomi langsung sudah terasa. Pembukaan kembali Selat Hormuz — jalur vital yang menghubungkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia — diperkirakan akan menekan harga minyak global yang sempat melambung tajam sejak blokade diberlakukan.
Bagi Indonesia sebagai negara importir, pemulihan jalur ini membawa sinyal positif bagi stabilitas harga bahan bakar dalam negeri.
Meski demikian, tidak semua pihak puas. Israel, sekutu utama AS yang turut terlibat dalam konflik sejak awal, disebut menganggap kesepakatan ini jauh dari memuaskan kepentingan mereka.
Perang yang kini resmi menuju akhir itu bermula 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi ke wilayah Iran. Selama lebih dari tiga bulan, gencatan senjata yang rapuh sempat beberapa kali dicapai lalu runtuh, sebelum akhirnya perjanjian damai ini berhasil disepakati.
