![Kapal Rp8 Triliun Taipan Rusia Tembus Blokade Selat Hormuz 9 Sebuah superyacht mewah milik taipan Rusia yang terkena sanksi internasional dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz yang tengah diblokade. [Istimewa]](https://beritamanado.com/wp-content/uploads/2026/04/superyacht-nord.webp)
Sebuah kapal pesiar super mewah milik taipan Rusia secara mengejutkan dilaporkan sukses melintasi perairan Selat Hormuz yang saat ini sedang dalam status blokade ketat. Kejadian langka ini langsung menyita perhatian dunia internasional karena sangat sedikit kapal yang diizinkan melewati jalur maritim strategis tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Kapal megah bernama Nord ini menjadi sorotan utama setelah berhasil menembus kawasan yang dijaga ketat oleh otoritas keamanan. Berdasarkan data pelacakan pelayaran yang terdeteksi, yacht sepanjang 142 meter tersebut memiliki nilai yang sangat fantastis, yakni lebih dari 500 juta dolar AS atau diperkirakan mencapai Rp8 triliun.
Keberhasilan kapal ini melintas di tengah pembatasan jalur laut memicu berbagai spekulasi global. Betapa tidak, Selat Hormuz merupakan titik nadi perdagangan dunia yang saat ini aksesnya sedang dipersempit, namun armada milik miliarder Rusia tersebut justru melenggang bebas tanpa hambatan berarti.
Jalur Strategis Selat Hormuz dalam Pantauan Ketat
Berdasarkan laporan kronologi perjalanan, superyacht Nord diketahui bertolak dari pelabuhan Dubai pada Jumat (24/4) waktu setempat. Kapal ini kemudian terlihat mulai memasuki dan melintasi kawasan Selat Hormuz pada Sabtu pagi. Setelah melewati jalur panas tersebut, kapal akhirnya tiba dan bersandar di Muscat, Oman, pada keesokan harinya.
Hingga saat ini, belum ada informasi resmi mengenai bagaimana kapal mewah tersebut bisa mengantongi izin melintas. Sebagaimana diketahui, pihak Iran telah memperketat seluruh lalu lintas di kawasan Selat Hormuz sejak bulan Februari lalu. Dampak dari kebijakan tersebut membuat jalur ini hanya bisa dilalui oleh segelintir kapal saja setiap harinya.
Kondisi tersebut sangat kontras jika dibandingkan dengan situasi normal sebelum konflik pecah di kawasan tersebut. Biasanya, Selat Hormuz merupakan jalur yang sangat sibuk dengan lalu lintas mencapai 125 hingga 140 unit kapal per hari. Namun saat ini, volume pelayaran di jalur tersebut merosot sangat tajam dan hanya menyisakan mayoritas kapal-kapal dagang tertentu.
Profil Kapal Nord dan Sosok Miliarder Alexey Mordashov
Kehebohan pelayaran ini semakin meruncing karena sosok di balik kepemilikan kapal tersebut. Superyacht Nord dikaitkan erat dengan miliarder asal Rusia, Alexey Mordashov. Ia merupakan bos besar dari perusahaan baja raksasa Severstal yang selama ini dikenal memiliki kedekatan dengan lingkaran kekuasaan di Kremlin.
Meskipun nama Alexey Mordashov tidak muncul secara langsung sebagai pemilik di atas kertas, dokumen perusahaan Rusia mengungkap fakta lain. Kapal ini tercatat terdaftar melalui sebuah perusahaan milik istrinya pada tahun 2022 silam. Sosok taipan Rusia ini pun bukanlah orang sembarangan dalam peta politik ekonomi dunia.
Mordashov sendiri merupakan salah satu nama yang masuk dalam daftar hitam sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa. Sanksi berat tersebut diberikan sebagai buntut dari aksi invasi yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina. Kendati namanya tengah menjadi perbincangan hangat akibat pelayaran kontroversial ini, pihak Mordashov memilih untuk tidak memberikan komentar apa pun.
Secara teknis, Nord bukan sekadar kapal pesiar biasa melainkan salah satu yacht terbesar di dunia yang penuh kemewahan. Di dalamnya tersedia 20 kamar kelas satu, kolam renang yang luas, landasan helikopter atau helipad, hingga fasilitas kapal selam mini. Kehadiran fasilitas lengkap ini semakin menegaskan status sosial pemiliknya di mata publik.
Misteri lolosnya kapal milik taipan Rusia di jalur Selat Hormuz ini seakan menjadi bukti adanya dinamika tersembunyi di tengah ketegangan jalur laut internasional. Fenomena ini dipastikan akan terus menjadi topik hangat dalam pembahasan kedaulatan wilayah dan efektivitas sanksi internasional bagi para oligarki Rusia ke depannya.
