Berita Utama

Sejarah Likupang Raya – Kabupaten Minahasa Utara yang Kini Viral Setelah Ditetapkan KEK Likupang (Bag-1/bersambung)

Mereka juga mengonsumsi jenis burung di atas tanah seperti weris, taktak dan bebek talaga sampai sebangsa burung terbang seperti Paniki (kelelawar), burung kumkum, burung makiang, burung kowou tapi tidak termasuk burung doyot, burung keteketenge dan burung suweko.

Ketiga burung yang disebut belakangan yaitu burung doyot, burung keteketenge dan burung suweko tidak diburu karena ketiganya dianggap sebagai burung pemberi tanda baik.

Burung doyot dan burung keteketenge dianggap pemberi tanda baik bagi orang yang tinggal di pedalaman dan burung suweko dianggap pemberi tanda baik bagi orang orang yang tinggal di pinggiran pantai dan kepulauan.

Selain berburu mereka juga bercocok tanam umbi-umbian, palawija dan padi.

Padi yang ditanam waktu itu adalah padi lahan jering atau padi ladang seperti padi Paniki, padi ombong (embun), padi temo dan padi burungan yang masih tetap ditanam dan dikembangkan sampai saat ini dengan nama ‘padi winuri’.

Disebut padi winuri karena sampai sekarang padi ini selalu ditanam oleh orang-orang Desa Winuri, Kecamatan Likupang Timur, pada setiap musim tanam.

Orang-orang Likupang mula-mula yang berdiam disepanjang tepi sungai ini hidup rukun dan damai.

Mereka membentuk kelompok dengan sistim sosial yang dipimpin oleh Walian (pemimpin agama Malesung) dan Tonaas (pemimpin masyarakat/ kelompok).

Waktu itu belum ada peperangan atau penyerangan antar kelompok maupun serangan dari luar baik invasi, infiltrasi, menguasai, menduduki maupun perampokan dari suku lain atau bangsa bangsa asing lainnya.

Daerah Likupang masih di dominasi hutan dan konon para dotu yang merupakan warga mula-mula Likupang memiliki ilmu yang tinggi diantaranya ilmu kebal, bisa terbang dan bisa menghilang (pergi ke daerah lain dalam sekejap mata).

Tempat yang didiami saat itu terletak di suatu areal dataran rendah dengan perbukitan-perbukitan kecil dan tanah yang subur karena terletak ditepian sungai.

Namun seiring waktu berjalan daerah itu sering terjadi banjir dan menggenangi tempat tinggal mereka. Hal inilah yang memaksa kelompok ini berpindah tempat ke arah Utara.

(bersambung)

Baca juga:

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara