Berita Utama

Sejarah Likupang Raya – Linekepan dan Pengaruh Portugis Spanyol (Bag-3/Selesai)

Likupang
Likupang (foto ist)

Seiring waktu, beranak-pinaklah para Dotu. Pemukiman makin padat maka turunan mereka mendirikan rumah-rumah pada dangkalan-dangkalan di tepi laut (delta; dalam bahasa lokal disebut tandusang).

Disangkakan mereka mendirikan rumah-rumah dengan tiang tinggi yang disesuaikan dengan pasang-surutnya air laut. Tiang-tiang rumah diambil dari pohon posi-posi dan lantai rumah dari kayu lolaro.

Kayu-kayu ini sejenis bakau dan hingga kini banyak tumbuh dipinggiran laut, bahkan Likupang dikenal dengan area hutan bakaunya yang luas. Lantai rumah terbuat dari nibong yang diambil dari pegunungan.

Istilah Linekepan dan Paka Omba

Nah, dari kondisi inilah lalu setiap bulan purnama ketika air laut pasang menjadi sangat besar gelombangnya sehingga pemukiman itu akan terendam air.

Apabila dilihat dari kejauhan perkampungan itu seperti tenggelam, sehingga dinamailah lokasi ini dengan nama Linekepan.

‘Linekep’ dari bahasa Tounsea yang artinya tenggelam. Seperti disebutkan diawal tulisan ini, perkampungan para Dotu sebelumnya yang telah ditinggalkan dinamai Minawanua Linekepan.

Seiring berputarnya waktu, datanglah nelayan-nelayan dari berbagai tempat seperti Ternate, Ambon, Bajo, Bugis, Mandar, Siau dan mereka ini mendirikan tempat tinggal sederhana berupa sabua (daseng) dipakai daerah ‘paka omba’ (pinggiran pantai).

Spanyol dan Portugis

Pada masa itu juga (diperkirakan abad permulaan masehi bahkan sebelumnya) berdatangan para pelaut bangsa asing dari Spanyol dan Portugis.

Beberapa diantara mereka telah berbaur dengan penduduk asli dan terjadi pertukaran budaya.

Bukti adanya transformasi antar budaya Malesung (Minahasa kuno) dan budaya Eropa terlihat dari adanya perubahan corak relief pada penutup dan badan waruga. Bukti lainnya adanya tarian katrili dan tarian polinese sebagai tarian tradisonal Minahasa yang sebenarnya terpengaruh budaya bangsa Barat.

Ada beberapa waruga dengan relief manusia berpakaian ala Eropa dan pada masa era ini, muncul beberapa waruga model memanjang seperti kebanyakan model kuburan yang ada saat ini.

Bentuk waruga memanjang seperti ini mencirikan bahwa para Dotu sudah mengenal kekristenan.

Diperkirakan ada beberapa gelombang masuknya beberapa suku bangsa lain berbaur dengan warga asli Likupang.

Jika dihubungkan dengan asal-mula masuknya agama Kristen di tanah Minahasa maka daerah Likupang diduga sudah lama ada hanya saja belum ditemukan bukti penunjang lainnya selain keberadaan relief di waruga tersebut.

Beberapa Tonaas yang cukup terekenal sebelum agama masuk di wilayah Linekepan yaitu:

1.Dotu Watupongoh, 2.Dotu Pinantik, 3.Dotu Tampanatu, 4.Dotu Rottie, 5.Dotu Turang Walelaki.

Pada tahun 1874, Graffland, menyebut ibukota Likupang ada diselat Bangka. Lokasi tebing sungai Likupang saat itu merupakan tempat kediaman hukum besar (terbesar), yaitu dengan 305 jiwa di kampung negeri baru, dan 116 orang burger (borgo).

Ada gereja tempat belajar dinegeri lain (daerah lain) yaitu Sarawet (123), Likupang Atas (102), Paslaten (118). Ketiga gereja tersebut, sebetulnya merupakan satu kesatuan dengan sekolah.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara