Opini

PLTN Terapung Cocok untuk Indonesia

Ketiga, PLTN terapung umumnya memiliki daya kecil.

Daya itu cukup untuk daerah-daerah luar Jawa yang kebutuhan listriknya tidak sebanyak di Jawa., jadi PLTN terapung memiliki skala rentang daya lebih pas;

Keempat lebih selamat dari tsunami. Sifat gelombang tsunami adalah baru mulai meninggi ketika mencapai air dangkal, tapi di air yang lebih dalam nyaris tidak terasa. Karena panjang gelombang tsunami di permukaan laut dalam sangat panjang, amplitudonya jadi kecil.

Sehingga, PLTN terapung yang doknya berada di permukaan laut dalam tidak akan terpengaruh oleh gelombang tsunami. Eksistensi PLTN terapung pun berpotensi membantu peringatan dini tsunami. Sistem instrumentasi pendeteksi dini tsunami dapat dipasang di PLTN terapung.

Karena tidak ada masyarakat yang bisa begitu saja naik ke atas kapal pengangkut PLTN ini, Vandalisme dan pencurian terhadap komponen sistem peringatan dini tsunami bisa dikatakan tidak akan terjadi.
Namun, hal ini butuh konfirmasi dari pakar di bidangnya;

Kelima, PLTN terapung dapat digunakan untuk desalinasi air laut. Hal ini penting untuk wilayah-wilayah yang sering kekurangan air bersih.

Kedepannya, selain desalinasi air laut, PLTN terapung berpotensi juga memproduksi bahan bakar sintetis.

Jadi, PLTN terapung digunakan untuk hidrolisis air dan memisahkan CO2 dari air laut. Hidrogen dan CO2 yang dihasilkan kemudian disintetis untuk menghasilkan bahan bakar mirip bensin untuk keperluan transportasi.

Keunggulan dari bahan bakar sintetis ini adalah netral emisi CO2 dan tidak ada kontaminasi pengotor;

Keenam, level keselamatan tinggi. Kontras dengan asumsi sebagian orang ketika pertama mendengar PLTN terapung, tingkat keselamatannya tidak berkurang, malah mungkin lebih baik.

Setidaknya, dari segi termohidrolik. Karena posisinya berada di atas permukaan laut, PLTN terapung memiliki akses pendingin yang secara praktis tidak terbatas. Air laut menjadi heat sink alami bagi reaktor nuklirnya. Ketika misalnya terjadi overheating, pendinginan reaktor dapat dilakukan tanpa harus khawatir kekurangan suplai pendingin eksternal.

Menyadari akan manfaatnya PLTN Terapung untuk Indonesia sebagai Negara kepulauan/maritim sebagaimana digambarkan diatas, maka sudah saatnya Indonesia memanfaatkan teknologi ini untuk Pembangunan PLTN pertama di Indoneisa, karena murah, cocok dengan geografi Indonesia yang terdiri dari Kepulauan serta sesuai strategi Pembangunan Presiden Prabowo untuk memberdayakan rakyat kecil, daerah-daerah terpencil dan terluar, disamping pertambangan yang terletak di-pesisir Pantai, seperti di-pulau Ampat, Irian Jaya.

Dari sisi transfer teknologi, maka Pembangunan PLTN Terapung selanjutnya, reaktor nuklir dari Rusia/ROSATOM tersebut dapat dipasang di Indonesia dengan menggunakan kapal tongkang buatan PT PAL. Dengan car ini, maka biaya Pembangunan PLTN pasti jauh lebih murah dan pasti menghemat devisa.

Rusia sangat menguasai dan berpengalaman dalm teknologi nuklir, karena PLTN pertama didunia adalah buatan Rusia yang terletak di-kota Obninks, 100Km Tenggara Moskow.

Reaktor ini secara komersial berberoperasi pada 1 Desember 1954 dan permanent shutdown pada tgl 20 April 2002.

Disisi lain, ROSATOM menguasai pasar Pembangunan PLTN dunia saat ini antara lain meliputi India, Turki, Bangladesh, Mesir, Cina , dll disamping Rusia sendiri.

Jakarta, 18 Oktober 2025.

Penulis: Drs. Markus Wauran
Wakil Ketua Dewan Pendiri HIMNI.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara