Di sisi lain, KLT-40S telah memenuhi berbagai Rekomendasi IAEA (International Atomic Energy Agency) seperti konsep “defence in depth, proven engineering practices, fail-safe principle, redundancy, diversity and independence, deterministic and probabilistic, safety assessment, passive systems, man-machine interaction, severe accident.”
Selanjutnya dalam desain perangkat keras konsep keselamatan telah diwujudkan, antara lain dengan sistim pendinginan dan reduksi tekanan containment, baik secara aktif maupun pasif. ECCS terdiri atas yang bertekanan tinggi dan bertekanan rendah, secara aktif maupun pasif.
Faktor keamanan untuk PLTN terapung juga sudah diantisipasi dari ancaman teroris. Kita kenal istilah Maximum Credible Accident (MCA) bagi penilaian keselamatan dan berikutnya untuk keamanan muncul Maximum Credible Threat (MCT) yang tertuang dalam Design Basic Threat. Ancaman dasar desain, umumnya tidak diumumkan, hanya diketahui oleh kalangan terbatas.
PLTN Terapung KLT-40S disamping menghasilkan listrik, juga memproduksi panas dan air bersih melalui proses desalinasi.
Desalinasi adalah proses memperoleh air bersih dari pengurangan atau penghilangan garam dalam suatu larutan. Pada proses Desalinasi air laut, air bersih diperoleh dengan mengambil pengotornya. Jadi limbah proses desalinasi, yang merupakan larutan dengan konsentrasi unsur-unsur dan garam senyawanya yang lebih tinggi,
Adapun pembagian ruangan dari tongkang PLTN KLT-40S secara garis besar dapat dijelaskan sebagai:
Kompartemen Reaktor (Reactor Plant Compartment), dimana dalam ruangan ini terletak Reaktor Nuklir dan kompartemen penyimpanan bahan bakar bekas (Spent fuel storage facility); Kompartemen Turbin Generator (Turbine Generator Compartment);
Kompartemen Mesin Listrik (Electrical Engineering Compartment).
Dalam kompartemen inilah produksi akhir PLTN Terapung disiapkan (listrik dan uap panas untuk pemanasan dan air desalinasi); Kompartemen Peralatan Bantu (Auxilliary Equipment), dimana dalam ruangan ini terdapat Ruang Kendali Reaktor Nuklir dan Kendali Seluruh Peralatan PLTN Terapung; Kompartemen Tempat Tinggal (Living Section) yang terdiri dari Ruang Tempat Tinggal Para Awak Tongkang PLTN yang terdiri dari tempat tidur, tempat pertemuan, kamar makan, ruang olahraga dan rekreasi.
Badan pengawas nuklir Rusia, Rosatom, melaporkan bahwa ada sejumlah langkah yang dilakukan demi menjamin keamanan penggunaan model pembangkit listrik tersebut.
Menurut Rosatom, pihaknya mengatur perbedaan tekanan antara air yang bersirkulasi melalui gedung-gedung dan cooling loop di atas kapal.
Itulah cara demi mencegah kebocoran radiasi yang tak disengaja, pembangkit listrik dirancang supaya tahan terhadap benturan luar, seperti kecelakaan pesawat kecil, sementara sebuah lapisan struktur penahan dibangun di atas kapal guna menjaga pembangkit listrik tersebut tetap mengapung.
Sebaliknya, pembangkit listrik tenaga nuklir terapung di dekat Pevek mentransfer panas langsung dari reaktor di atas kapal ke rumah-rumah warga melalui sistem yang disebut water loop dan pertukaran panas yang menangkap air yang terkontaminasi dengan partikel radioaktif di dalam pembangkit listrik, tetapi mentransfer energi panas ke jaringan pipa di seluruh kota.
Menurut para ilmuwan yang diwawancarai New York Times, penggunaan jenis reaktor nuklir kecil untuk menyalurkan energi panas di daerah permukiman bermanfaat bagi lingkungan karena berpotensi mendekarbonisasi jaringan listrik dan dengan demikian mengurangi emisi karbon ke atmosfer.
PLTN Terapung ini sangat cocok dengan Indonesia sebagai Negara kepulauan.
Dari kumpulan pendapat beberapa ahli, R. Andika Putra Dwijayanto dalam tulisannya, merumuskan beberapa potensi keunggulan PLTN Terapung untuk wilayah Indonesia, yaitu:
Pertama, karena dipasang di atas kapal, kendala-kendala tentang pembebasan lahan dan sindrom NIMBY (Not In My Back Yard atau asal tidak di halaman belakang rumahku ) secara praktis tidak ada.
Instalasi yang terpasang di darat hanya sambungan ke jaringan listrik saja. Isu fault teknonik yang menjadi perhatian dalam pembangunan PLTN pun otomatis lenyap. Gempa tidak lagi menjadi isu yang bisa dieksploitasi kalangan anti-nuklir;
Kedua, PLTN terapung dapat menjangkau kawasan-kawasan kepulauan kecil dan wilayah yang sulit dijangkau melalui darat, seperti beberapa kawasan di Papua. Karena PLTN terapung sudah dibangun dan terpasang di kapal sejak sebelum pemberangkatan, tidak ada pembangunan yang perlu dilakukan di kepulauan kecil dan wilayah yang sulit terjangkau tersebut, selain fasilitas sambungan jaringan listrik.
Jauh lebih memudahkan daripada harus membangun pembangkit di lokasi. Kebutuhan bahan bakar nuklir sedikit dan siklus operasinya panjang, sekitar 24-36 bulan. Jadi, bahan bakar untuk 10-20 tahun operasi dapat dimuat di dalam kapal. Atau, untuk alasan keamanan, bahan bakar baru dikirim ke lokasi menjelang akhir siklus bahan bakarnya. Sehingga, suplai bahan bakar sama sekali bukan masalah bagi PLTN terapung;
