Opini

Idul Adha dan Empati yang Mulai Menipis

Idul Adha dan Empati yang Mulai Menipis

Catatan Mahyudin Damis,
Dosen Antropologi FISIP UNSRAT,
Ketua LHKP PW Muhammadiyah Sulut,

IDUL ADHA tidak sekadar menghadirkan ritual keagamaan, tetapi juga mengingatkan kita pada makna pengorbanan dalam kehidupan sosial. Di tengah tekanan ekonomi, kenaikan harga pangan, penyesuaian biaya energi, dan melemahnya daya beli masyarakat, momentum ini menjadi penting untuk membaca ulang nilai-nilai yang menopang kehidupan bersama.

Kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam merupakan fondasi utama dalam memahami makna kurban. Al-Qur’an merekam ujian keimanan ketika Ibrahim diperintahkan mengorbankan putranya, Ismail. Peristiwa ini bukan hanya menguji ketaatan seorang ayah, tetapi juga menghadirkan keberanian seorang anak yang menerima kehendak Ilahi dengan kesadaran dan keikhlasan.

Dimensi lain yang tak kalah penting hadir dalam sosok Hajar. Dalam hadis riwayat Ibnu Abbas yang tercantum dalam Sahih al-Bukhari, dikisahkan bahwa ketika Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus, Hajar bertanya, “Apakah ini perintah Allah?” Saat Ibrahim mengiyakan, Hajar menjawab dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka.

Dalam sejumlah kisah para nabi juga diceritakan bahwa godaan setan sempat diarahkan kepada Hajar agar menggagalkan perintah penyembelihan Ismail. Namun Hajar tetap teguh dalam iman dan kepasrahan kepada Tuhan. Keteguhan Ismail menerima kehendak Tuhan tentu tidak lahir dalam ruang kosong. Di balik karakter seorang anak, selalu ada proses pendidikan nilai dalam keluarga. Dalam banyak pengalaman manusia, sosok ibu kerap menjadi ruang pertama tempat anak belajar tentang iman, ketabahan, dan keikhlasan hidup.

Karena itu, kehadiran Hajar tidak hanya penting sebagai pendamping Ibrahim, tetapi juga sebagai figur yang menanamkan dasar-dasar kekuatan moral dalam diri Ismail. Karena ketaatan dan keikhlasan keluarga itulah, Allah kemudian menganugerahkan Ishak sebagai anak kedua kepada Ibrahim dan Sarah yang telah lama mandul.

Dari Hajar, kita belajar bahwa kepasrahan bukanlah kelemahan. Ia berjalan bersama keyakinan dan ikhtiar. Ketangguhan menghadapi keterbatasan, kemampuan menjaga harapan, serta tanggung jawab mempertahankan kehidupan keluarga menjadi pelajaran yang terasa sangat relevan ketika banyak rumah tangga hari ini menghadapi tekanan ekonomi yang nyata.

Bagi banyak keluarga, tekanan ekonomi bukan sekadar angka statistik. Ada ayah yang kehilangan pekerjaan, penghasilan yang tidak menentu, serta kegelisahan memenuhi kebutuhan pangan dan kehidupan rumah tangga sehari-hari. Dalam situasi seperti itu, pengorbanan sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana tetapi berat dijalani sehari-hari. Ada orang tua yang mengurangi kebutuhan pribadinya demi pendidikan anak, ibu rumah tangga yang berusaha menghemat pengeluaran keluarga, hingga pekerja kecil yang tetap bertahan di tengah biaya hidup yang terus meningkat. Di tengah keadaan semacam ini, makna Idul Adha terasa semakin dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dalam diri Ibrahim, Ismail, dan Hajar tercermin sebuah keluarga yang dibangun di atas iman, tanggung jawab moral, dan kekuatan batin. Al-Qur’an dalam Surah At-Tahrim ayat 6 menegaskan pentingnya menjaga diri dan keluarga. Keluarga, dengan demikian, bukan sekadar tempat hidup bersama, tetapi juga ruang tempat nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial diwariskan.

Karena itu, Idul Adha tidak berhenti pada penyembelihan hewan kurban. Ia mengandung ajakan untuk berbagi di tengah keterbatasan. Daging kurban bukan hanya simbol ketaatan individual, tetapi juga penanda hadirnya kepedulian terhadap sesama, terutama bagi mereka yang jarang menikmati kecukupan pangan.

Dalam pengalaman sosial masyarakat Indonesia, Idul Adha juga telah lama menjadi ruang kebersamaan yang memperkuat solidaritas warga. Warga berkumpul di masjid atau lingkungan kampung untuk bersama-sama menyiapkan penyembelihan hewan kurban, membagi daging kepada warga, serta menjaga suasana kekeluargaan tanpa memandang perbedaan status sosial.

Dalam perspektif budaya, ritual kurban tidak hanya menghadirkan hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan, tetapi juga memperkuat kohesi sosial masyarakat. Karena itu, Idul Adha bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga mekanisme sosial yang menjaga rasa kebersamaan dalam kehidupan masyarakat.

Nilai pengorbanan dan kepedulian itu semestinya juga tercermin dalam kehidupan kebangsaan. Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan banyak keluarga, semangat berbagi dalam Idul Adha seharusnya juga menjadi pengingat pentingnya keadilan sosial dalam kehidupan berbangsa. Kebijakan publik perlu hadir dengan kepekaan sosial, terutama bagi mereka yang paling merasakan tekanan ekonomi. Sebab ketika jarak sosial semakin melebar, yang perlahan hilang bukan hanya rasa keadilan, tetapi juga empati sebagai dasar kehidupan bersama.

Akhirnya, Idul Adha mengingatkan bahwa pengorbanan tidak berhenti pada ritual tahunan, melainkan hadir dalam kesediaan menjaga empati dan kepedulian sosial. Sebab keberhasilan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana rakyat dapat hidup dengan rasa adil, tenang, dan bahagia. Di tengah situasi Indonesia hari ini, masihkah kebahagiaan warga menjadi ukuran utama dalam arah pembangunan dan kebijakan publik kita?

(***) Opini dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili sikap resmi Redaksi BeritaManado.com. Tanggung jawab isi tulisan sepenuhnya berada pada penulis.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara