Opini

Mengapa Kampus Selalu Kembali ke Titik Nol?

Mengapa Kampus Selalu Kembali ke Titik Nol?

Oleh: Mahyudin Damis
Penulis adalah Dosen Antropologi FISIP Universitas Sam Ratulangi

Setiap tahun desa menerima kedatangan mahasiswa dan dosen. Ada yang datang untuk PKL, KKL, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun KKN. Mereka berdiskusi dengan warga, mendengar cerita petani dan nelayan, mencatat berbagai persoalan yang muncul, lalu kembali ke kampus membawa data dan laporan.

Tahun berikutnya kelompok lain datang ke desa yang sama. Mereka kembali mengajukan pertanyaan yang tidak jauh berbeda. Mereka mengumpulkan data yang hampir sama. Mereka memulai dari titik yang hampir sama.
Desa terus dipelajari. Namun pelajaran yang diperoleh dari desa sering kali tidak benar-benar diwariskan.

Paradoks ini jarang dibicarakan ketika perguruan tinggi berlomba menunjukkan berbagai capaian akademiknya. Aktivitas akademik terus berjalan. Mahasiswa turun ke lapangan, penelitian dilakukan, skripsi diselesaikan, dan berbagai program pengabdian dilaksanakan. Namun pelajaran yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan tersebut tidak selalu saling terhubung.

Desa sesungguhnya tidak pernah memulai dari nol.
Kehidupan desa terus berjalan. Petani tetap mengurus lahannya, nelayan berangkat melaut, pedagang membuka usaha seperti biasa, sementara aparat desa melayani berbagai urusan masyarakat. Yang sering memulai dari nol justru kampus ketika kembali datang tanpa memanfaatkan pelajaran yang pernah diperoleh sebelumnya.
Padahal desa menyimpan berbagai perubahan sosial yang tidak sederhana.

Di Desa Makaaruyen, Minahasa Selatan, misalnya, persoalan petani bukan lagi sekadar bagaimana meningkatkan hasil panen. Mahasiswa dan dosen yang turun ke lapangan menemukan kenyataan yang lebih rumit. Banyak petani masih bergantung pada tengkulak. Harga hasil pertanian sulit diprediksi. Cuaca semakin tidak menentu.

Pada saat yang sama, praktik mapalus perlahan mengalami perubahan. Jika dahulu warga saling membantu tanpa memperhitungkan imbalan ekonomi, kini semakin banyak pekerjaan dilakukan oleh tenaga kerja harian dengan upah tertentu.

Perubahan ini mungkin tampak biasa. Namun di dalamnya tersimpan informasi penting mengenai perubahan hubungan sosial, strategi ekonomi rumah tangga, dan semakin kuatnya pengaruh pasar dalam kehidupan masyarakat desa.

Temuan-temuan seperti itu sesungguhnya sangat berharga. Dari situ kampus dapat memahami secara lebih mendalam kehidupan masyarakat sekaligus membaca berbagai perubahan yang sedang berlangsung. Sayangnya, sebagian besar temuan tersebut sering berhenti sebagai laporan kegiatan. Laporan PKL atau KKL tersimpan sebagai dokumen mahasiswa.

Hasil penelitian tersimpan sebagai arsip, tetapi pelajaran yang terkandung di dalamnya tidak selalu ikut berpindah ke kegiatan berikutnya.
Akibatnya, pelajaran yang diperoleh dari desa tidak berkembang menjadi pengetahuan yang berkelanjutan.

Salah satu penyebabnya adalah cara perguruan tinggi mengelola berbagai kegiatan akademiknya yang masih cenderung terpisah-pisah. PKL atau KKL memiliki targetnya sendiri. Penelitian berjalan dengan agenda masing-masing. Pengabdian kepada masyarakat disusun berdasarkan program yang berbeda. KKN pun sering dirancang untuk menjawab kebutuhan satu periode tertentu.

Setiap kegiatan menghasilkan laporan dan dokumentasi. Namun tidak selalu menghasilkan kesinambungan. Ketika sebuah program berakhir, hubungan antara temuan yang diperoleh dengan kegiatan berikutnya sering ikut terputus.

Dalam situasi seperti itu, kampus sesungguhnya tidak kekurangan data. Ironisnya, semakin banyak kegiatan dilakukan, semakin besar pula pengetahuan yang sebenarnya dimiliki perguruan tinggi. Ribuan laporan KKN, penelitian mahasiswa, skripsi, tesis, disertasi, maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat terus bertambah setiap tahun. Namun sebagian besar pengetahuan tersebut berhenti sebagai arsip.

Padahal dalam tradisi ilmu pengetahuan, setiap temuan seharusnya menjadi pijakan bagi temuan berikutnya. Pengetahuan berkembang secara kumulatif. Apa yang ditemukan hari ini tidak menggantikan temuan sebelumnya, melainkan memperkaya dan memperdalam pemahaman yang telah ada.

Ketika prinsip ini tidak berjalan, kampus berisiko mengulang proses belajar yang sama berkali-kali. Data terus bertambah, tetapi pemahaman tidak selalu berkembang dengan kecepatan yang sama.
Karena itu, kampus memiliki banyak pengetahuan, tetapi belum tentu memiliki ingatan.
Menyimpan laporan bukan berarti menyimpan ingatan. Kampus baru bisa mengingat ketika temuan-temuan lama dibuka kembali dan digunakan untuk memahami perubahan yang terjadi di masyarakat.

Tanpa ingatan kelembagaan, setiap generasi mahasiswa berisiko mengumpulkan data yang hampir sama tanpa benar-benar mewarisi pelajaran yang telah diperoleh generasi sebelumnya. Desa yang sama dipelajari berulang kali, tetapi pemahaman yang dihasilkan tidak selalu berkembang secara kumulatif.

Padahal perguruan tinggi sesungguhnya telah memiliki instrumen yang memungkinkan terbentuknya pembelajaran yang berkelanjutan di desa. Mahasiswa datang melalui PKL atau KKL untuk mengenali dan memahami kehidupan masyarakat. Berbagai temuan yang diperoleh kemudian dapat menjadi dasar bagi kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dosen.

Selanjutnya, KKN dapat menjadi ruang untuk melanjutkan, memperkuat, sekaligus mewujudkan sebagian solusi atas persoalan yang telah teridentifikasi sebelumnya.
Sebagian persoalan yang ditemukan melalui PKL atau KKL dapat mulai ditangani melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Apa yang belum selesai kemudian dapat dilanjutkan oleh peserta KKN.

Persoalan yang masih tersisa pada satu periode KKN dapat kembali diteruskan oleh kelompok berikutnya. Dengan cara itu, setiap angkatan tidak memulai dari awal, melainkan melanjutkan proses yang telah dirintis sebelumnya.
Praktik seperti itu sesungguhnya bukan sesuatu yang mustahil dilakukan. Dalam pelaksanaan KKN-PPM tahun 2026, misalnya, Universitas Gadjah Mada menerjunkan lebih dari delapan ribu mahasiswa ke berbagai daerah di Indonesia.

Sebagaimana diberitakan dalam laman resmi UGM (20 Juni 2026), salah satu tim yang bertugas di Raja Ampat melanjutkan program pengolahan hasil perikanan yang telah dirintis oleh tim KKN sebelumnya. Program tersebut tidak dimulai dari nol, melainkan diteruskan dan dikembangkan berdasarkan pengalaman yang telah diperoleh kelompok terdahulu.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa dampak sosial lebih mungkin tercipta ketika setiap angkatan tidak hanya datang membawa program baru, tetapi juga mewarisi pengetahuan dan pengalaman yang telah dibangun sebelumnya. Dengan cara itu, KKN tidak berhenti sebagai kegiatan yang berlangsung selama beberapa minggu, melainkan menjadi bagian dari proses pembelajaran dan perubahan yang berkelanjutan.

Bagi desa, persoalannya bukan sekadar banyaknya program yang datang. Yang lebih penting adalah keberlanjutan. Persoalan yang dihadapi masyarakat tidak pernah selesai dalam satu semester, satu penelitian, atau satu periode KKN.

Ketika petani menghadapi ketidakpastian harga, misalnya, persoalannya tidak hanya menyangkut produksi pertanian. Di dalamnya terdapat persoalan akses pasar, ekonomi rumah tangga, pendidikan anak, hingga strategi bertahan hidup keluarga petani. Hal yang sama juga terlihat pada berbagai persoalan lain, mulai dari stunting, pengelolaan sampah, penguatan UMKM, hingga adaptasi terhadap perubahan iklim. Tidak ada persoalan tersebut yang dapat diselesaikan hanya dalam satu program atau satu periode pendampingan.

Karena itu, persoalan desa tidak dapat dipahami hanya dari satu disiplin ilmu. Persoalan yang tampak sebagai masalah pertanian sering kali berkaitan dengan ekonomi rumah tangga, pendidikan, kesehatan, lingkungan, bahkan perubahan hubungan sosial dalam masyarakat. Berbagai temuan dari disiplin ilmu yang berbeda sesungguhnya dapat saling melengkapi sehingga kampus memperoleh pemahaman yang lebih utuh tentang masyarakat yang didampinginya.

Dalam kondisi seperti itu, ketika setiap kegiatan berdiri sendiri, desa sering menerima berbagai rekomendasi tanpa memperoleh kesinambungan tindakan yang memadai. Program datang silih berganti, tetapi proses pembelajaran yang berkelanjutan sulit terbentuk.

Yang dibutuhkan desa sesungguhnya bukan hanya kehadiran kampus, melainkan kemampuan kampus untuk mengingat apa yang pernah dipelajari dan apa yang pernah dikerjakan bersama masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, gagasan Kampus Berdampak semakin sering dikemukakan. Namun dampak tidak lahir semata-mata dari banyaknya program yang dijalankan. Dampak lahir ketika kampus mampu belajar dari pengalaman yang telah dimilikinya sendiri dan meneruskan pelajaran tersebut dalam berbagai kegiatan berikutnya.

Karena itu, gagasan membangun bank data desa menjadi penting. Bukan semata-mata karena kampus membutuhkan tempat penyimpanan data, melainkan karena kampus membutuhkan sistem ingatan. Berbagai hasil penelitian, PKL, KKL, pengabdian kepada masyarakat, maupun KKN perlu dikumpulkan dalam satu sistem pengetahuan yang dapat dibaca kembali, diperbarui, dan digunakan oleh generasi berikutnya.

Desa tidak membutuhkan kampus yang terus datang dengan pertanyaan yang sama. Desa membutuhkan kampus yang mampu mengingat.
Sebab pembangunan masyarakat tidak berlangsung dalam satu semester, satu penelitian, atau satu periode KKN.

Ia berlangsung dari waktu ke waktu. Karena itu, setiap pelajaran yang diperoleh dari desa seharusnya menjadi pijakan bagi langkah berikutnya.
Selama pelajaran itu berhenti ketika sebuah kegiatan berakhir, desa akan terus menjadi laboratorium cepat dilupakan. Namun ketika setiap temuan menjadi dasar bagi tindakan berikutnya, kampus tidak hanya belajar dari masyarakat, tetapi juga ikut membangun perubahan yang berkelanjutan bersama masyarakat yang dipelajarinya.

Desa tidak membutuhkan kampus yang terus datang dengan pertanyaan yang sama. Desa membutuhkan kampus yang mampu mengingat.


BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara