
Oleh: Mahyudin Damis
Dosen Antropologi FISIP UNSRAT Manado
Ketua LHKP PW Muhammadiyah Sulawesi Utara
Selama puluhan tahun, warga Manado mendatangi jalan untuk mencari kendaraan. Kini, melalui telepon genggam, kendaraan justru mendatangi warga. Perubahan yang tampak sederhana ini sesungguhnya menandai transformasi yang lebih besar: berubahnya cara masyarakat bergerak, menggunakan ruang kota, dan menjalani kehidupan perkotaan sehari-hari.
Perubahan mulai terjadi ketika teknologi digital memungkinkan kendaraan dipesan melalui telepon genggam. Jika dahulu warga mendatangi ruang transportasi, kini ruang transportasi justru mendatangi warga. Perubahan ini bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan perubahan budaya mobilitas masyarakat perkotaan.
Perubahan tersebut tercermin dari menyusutnya jumlah armada mikrolet yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung transportasi kota. Jika satu hingga dua dekade lalu jumlah angkutan kota yang beroperasi masih berada di kisaran lebih dari 4.000 unit, kini armada aktif yang melayani masyarakat tersisa sekitar 1.900 unit. Pada saat yang sama, layanan Trans Manado menunjukkan tingkat pemanfaatan yang cukup tinggi dengan jumlah penumpang harian berkisar antara 3.000 hingga 3.700 orang, bahkan pada waktu tertentu mendekati 4.000 penumpang per hari (BPS Provinsi Sulawesi Utara).
Bersamaan dengan itu, jumlah kendaraan bermotor di Kota Manado terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah kendaraan bermotor telah mencapai sekitar 449.679 unit dan didominasi oleh sepeda motor serta mobil penumpang. Fakta ini menunjukkan bahwa perubahan mobilitas perkotaan tidak hanya ditandai oleh hadirnya moda transportasi baru, tetapi juga oleh semakin menguatnya kecenderungan masyarakat mengandalkan kendaraan pribadi dalam kehidupan sehari-hari (BPS Kota Manado).
Selama lebih dari empat dekade, mikrolet telah menjadi bagian dari denyut kehidupan Kota Manado. Sejak berkembang pesat pada dekade 1980-an, moda transportasi ini menghubungkan kawasan permukiman, pusat perdagangan, perkantoran, sekolah, kampus, hingga berbagai ruang publik yang tumbuh bersama perkembangan kota. Karena itu, mikrolet tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman sosial warga dalam menjalani kehidupan perkotaan.
Masyarakat Manado tumbuh dengan kebiasaan menghentikan kendaraan di pinggir jalan, naik dan turun di lokasi yang dianggap paling dekat dengan tujuan, serta berpindah kendaraan di titik-titik tertentu yang dipahami bersama oleh pengguna dan pengemudi. Dari kebiasaan tersebut lahir berbagai simpul mobilitas informal yang hingga kini masih bertahan.
Kawasan Patung Kuda Paal Dua, sekitar Pasar Segar, dan sepanjang Jalan Martadinata di sekitar Astra menunjukkan bagaimana warga menciptakan ruang-ruang transit informal dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, depan Swalayan Jumbo dan kawasan Patung Batalyon Worang di sekitar Zero Point telah berkembang menjadi simpul pertemuan berbagai trayek angkutan kota yang menghubungkan beragam wilayah di Manado. Dari titik-titik inilah berlangsung perpindahan penumpang yang selama puluhan tahun membentuk pola mobilitas warga kota.
Bagi antropolog, titik-titik semacam ini menarik karena menunjukkan bahwa masyarakat tidak selalu menggunakan ruang sesuai dengan fungsi yang direncanakan pemerintah. Warga sering kali menciptakan fungsi baru yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Karena itu, antropologi tidak hanya bertanya bagaimana kota dirancang, tetapi juga bagaimana kota dijalani oleh penggunanya.
Bagi banyak warga Manado, titik-titik perpindahan kendaraan tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai tempat transit. Titik-titik itu juga menjadi ruang sosial tempat orang bertemu kenalan, berbincang singkat sambil menunggu kendaraan, bertukar informasi, bahkan menjalin hubungan sosial yang lahir dari pertemuan berulang setiap hari. Dalam perspektif antropologi perkotaan, mobilitas bukan hanya soal berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga tentang bagaimana hubungan sosial dipelihara melalui perjalanan sehari-hari. Karena itu, ketika pola mobilitas berubah, yang berubah bukan hanya jalur perjalanan warga, melainkan juga sebagian pengalaman sosial yang selama ini menyertai perjalanan tersebut.
Di sinilah letak perubahan yang sesungguhnya sedang berlangsung di Manado. Menurunnya jumlah mikrolet, berkembangnya Trans Manado, dan meluasnya penggunaan transportasi berbasis aplikasi bukan sekadar menunjukkan hadirnya pilihan moda yang semakin beragam. Fenomena tersebut mencerminkan perubahan cara warga mengakses ruang kota, mengatur perjalanan sehari-hari, dan membangun hubungan baru dengan lingkungan perkotaannya.
Jika dahulu mobilitas lebih bergantung pada terminal, trayek tetap, dan titik-titik perpindahan penumpang yang relatif terbatas, kini perjalanan menjadi semakin fleksibel. Kendaraan dapat dipesan dari rumah, kantor, kampus, pusat perbelanjaan, atau lokasi mana pun yang dianggap nyaman oleh pengguna. Mobilitas tidak lagi sepenuhnya terpusat pada satu titik, melainkan semakin tersebar mengikuti kebutuhan masyarakat. Selama puluhan tahun, masyarakat mendatangi ruang transportasi. Kini, melalui teknologi digital, ruang transportasi justru mendatangi masyarakat. Perubahan yang tampak sederhana ini sesungguhnya mengubah cara warga berinteraksi dengan kota dan menggunakan ruang publik.
Dari sudut pandang antropologi, perubahan tersebut menunjukkan bergesernya hubungan manusia dengan ruang kota. Jika dahulu warga harus menyesuaikan diri dengan jadwal, trayek, dan lokasi tertentu untuk memperoleh layanan transportasi, kini teknologi digital memungkinkan layanan transportasi menyesuaikan diri dengan kebutuhan individu. Ruang kota menjadi semakin personal. Perjalanan tidak lagi dimulai dari terminal atau pangkalan, melainkan dari lokasi yang dipilih sendiri oleh pengguna. Dalam banyak hal, teknologi telah mengubah cara warga mengalami kota sehari-hari.
Dalam konteks ini, perdebatan mengenai Trans Manado, keberadaan mikrolet, maupun rencana pengoperasian moda baru seperti bajaj digital sesungguhnya menyentuh persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar kendaraan apa yang boleh beroperasi. Yang sedang dipertaruhkan adalah bagaimana ruang transportasi kota akan diorganisasikan pada masa depan.
Modernisasi transportasi merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Sebagian besar armada mikrolet yang masih beroperasi telah berusia lebih dari dua dekade sehingga pembaruan sistem transportasi menjadi langkah yang wajar. Namun, tantangan sesungguhnya bukan sekadar mengganti kendaraan lama dengan kendaraan baru, melainkan menyesuaikan sistem transportasi masa depan dengan kebiasaan mobilitas masyarakat yang telah terbentuk selama puluhan tahun.
Karena itu, tantangan terbesar transportasi perkotaan di Manado bukan hanya soal menghadirkan teknologi yang lebih canggih atau kendaraan yang lebih modern. Tantangan yang sesungguhnya adalah membangun sistem yang mampu mempertemukan kebutuhan masyarakat, kepentingan para pelaku transportasi, dan visi pemerintah mengenai kota yang tertib, nyaman, inklusif, dan berkelanjutan.
Yang menarik, perubahan tersebut tidak berarti masyarakat sepenuhnya berpindah dari satu moda ke moda lainnya. Yang sedang terjadi justru adalah perubahan ekologi mobilitas perkotaan. Mikrolet, Trans Manado, kendaraan pribadi, dan transportasi berbasis aplikasi kini hidup berdampingan dalam ruang kota yang sama. Masing-masing menawarkan cara berbeda bagi warga untuk bergerak, mengakses ruang, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Warga tidak meninggalkan mikrolet secara total, sebagaimana mereka juga tidak sepenuhnya bergantung pada Trans Manado atau transportasi berbasis aplikasi. Yang muncul adalah kombinasi berbagai pilihan mobilitas yang digunakan secara bergantian sesuai kebutuhan, jarak, waktu, dan tujuan perjalanan.
Dalam perspektif antropologi perkotaan, mobilitas tidak pernah sekadar urusan berpindah tempat. Cara masyarakat bergerak juga mencerminkan cara mereka mengatur waktu, membangun hubungan sosial, memanfaatkan ruang, dan beradaptasi dengan perubahan kota. Karena itu, perubahan moda transportasi sesungguhnya merupakan bagian dari perubahan budaya yang lebih luas. Ketika warga mengubah cara mereka bepergian, mereka pada saat yang sama juga sedang mengubah cara mereka mengalami dan memaknai kehidupan perkotaan.
