Opini

PLTN Terapung Cocok untuk Indonesia


Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia tak lagi menjadi opsi terakhir.

Perencanaan ketenagalistrikan menempatkan PLTN sebagai penyeimbang energi. Tantangan terbesar untuk mewujudkannya adalah penerimaan masyarakat.

Sebagai penyeimbang untuk menjamin keandalan sistem ketenagalistrikan kedepan, ketika masyarakat sudah menerima, regulasi sudah siap, dan teknologi semakin matang, ruang bagi pengembangan nuklir akan semakin besar.

Dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) terbaru yang telah disetujui DPR RI, nuklir ditempatkan sebagai penyeimbang energi.

Kemudian tantangan terbesar dalam pembangunan PLTN adalah penerimaan publik.

Teknologi nuklir sudah memasuki generasi ke empat dan terbukti aman. Namun, sosialisasi dan edukasi tetap menjadi langkah awal yang penting. Penerimaan publik menjadi kunci.

“Jika masyarakat sudah memahami manfaat dan keamanan teknologi nuklir, barulah kita bisa melangkah lebih jauh,” kata Jisman Hutajulu, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada acara Nusantara Energy Forum 2025, Rabu (20/08/2025) di Jakarta.

Untuk memenuhi target tersebut diatas, yaitu beroperasinya PLTN pertama di Indonesia tahun 2034, dengan kapasitas kecil (2X 250MW), maka salah satu pilihan tepat adalah PLTN Terapung (FLOATING NUCPEAR POWER PLANT).

Ini sesuai dengan kebutuhan dan geografi Indonesia yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau.

Di dunia saat ini yang telah memproduksi PLTN Terapung adalah perusahaan Rusia bernama ROSATOM.

PLTN Terapung KLT-40S bernama AKADEMIK LOMOSONOV, diluncurkan pada bulan Agustus 2019 dipelabuhan Murmanks, sebuah kota besar di-bagian barat Rusia.

Namun PLTN Terapung ini, beroperasi di kota Pelabuhan PEVEK, ujung Timur dari Rusia, sekitar 5500km dari Pelabuhan Murmanks. PLTN terapung ini disamping mensuplai Listrik bagi penduduk, juga bisa dimanfaatkan utnuk memasok Listrik di kompleks pertambangan yang terletak di-pesisir Pantai. juga bisa memasok listrik untuk alat pengebor minyak lepas Pantai.

PLTN Terapung KLT-40S rincian karakter teknisnya secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut: panjang tongkang 140M, lebar tongkang 30M, tinggi lambung 10M, bagian dibawah air 5,6M, bobot mati 21.000 ton, jumlah kabin 64 dan cadangan 10, umur 40 tahun, tipe reactor PWR loop type, jumlah reaktor dalam satu tongkang 2 unit, daya termal 2 X 150 MWth (atau sekitar 35MWe), interval penggantian bahan bakar bakar 2,5-3 tahun, konsumsi bahan bakar nuklir 2 X 67 Kg U-235 /tahun (dibandingkan dengan bahan bakar minyak 120.000 ton/tahun dan batubara 200.000 ribu ton/ tahun), generator diesel darurat 4 (4X300kw), jaringan generator darurat 4 (tegangan 400V), transformator 8 (daya nominal 8X16 KVA).
Listrik KLT-40S terdiri atas 3 sistim yakni:

1.Sistim produksi dan transmisi elektro-energi, 2. Pasokan listrik untuk penggunaan sendiri pada operasi normal, 3. Sistim pasokan listrik untuk keadaan darurat.

Perbedaan pokok desain PLTN diatas tongkang dengan PLTN yang stasioner diatas daratan adalah kekompakan dan ketahanan terhadap goncangan.

Seperti PLTN pada umumnya, desain haruslah memastikan bahwa pada kondisi berat/darurat, reaktor akan tetap utuh, kedap, terpadamkan dan terdinginkan.

KLT-40S juga telah memenuhi aturan-aturan Rusia, misalnya sebagai berikut:

1.Prinsip umum syarat Keselamatan;
2.Peraturan Keselamatan Nuklir Untuk Reaktor PLTN;
3.Standard Keselamatan Radiologi;
4.Standard Kesehatan, TH 2.6.1.054-96, UU Federasi Rusia, Keselamatan Radiologi Bagi Penduduk;

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara