“Pola yang terjadi di Sulut ini dikenal sebagai transisi demografi, sebuah tahapan yang lazim dialami wilayah yang tingkat kesejahteraan dan layanan kesehatannya membaik,” kata Ferry.
Ferry menambahkan ketika usia harapan hidup meningkat dan angka kematian bayi menurun, struktur penduduk secara alami bergeser ke arah populasi yang lebih tua.
“Bukan karena berkurangnya jumlah kelahiran secara ekstrem, melainkan karena orang hidup lebih lama,” urainya.
Masyarakat Minahasa, kata Ferry, hingga kini masih memiliki ikatan budaya yang kuat melalui keluarga, gereja, organisasi kemasyarakatan, adat, hingga penggunaan nama marga yang tetap dipertahankan.
“Karena itu, tantangan terbesar bukanlah kepunahan, melainkan menjaga regenerasi penduduk usia produktif agar pembangunan, ekonomi, serta pelestarian budaya Minahasa tetap berlanjut,”
katanya lagi.
Bagi penduduk di Minahasa yang telah mencapai usia senja, Ferry mengajak untuk terus menerus beraktifitas.
“Aktifitas ringan saja misalnya memelihara ternak ayam kampung di halaman belakang rumahnya atau di pekarangan,” saran Ferry yang juga peternak ayam kampung unggul di Leilem.
Momentum untuk Berpikir ke Depan
Fenomena ini seharusnya menjadi perhatian bersama, bukan sekadar perdebatan di media sosial.
Penurunan angka kelahiran dan meningkatnya jumlah lansia akan memengaruhi berbagai sektor, mulai dari pendidikan, dunia kerja, pelayanan kesehatan, hingga keberlanjutan ekonomi daerah.
Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah jumlah orang Minahasa akan berkurang, melainkan bagaimana Sulawesi Utara mempersiapkan diri menghadapi perubahan demografi yang kini sudah nyata terjadi.
Data BPS menunjukkan perubahan itu telah dimulai; bagaimana masyarakat dan pemerintah meresponsnya akan menentukan wajah Sulawesi Utara pada 20 hingga 30 tahun mendatang.
