
Penulis: Sri Surya, Editor: Tim Redaksi
Angka 9,71 persen. Itu kenaikan biaya pendidikan di Sulawesi Utara dalam setahun terakhir, berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara yang dirilis Selasa (2/6/2026). Di antara seluruh kelompok pengeluaran yang diukur BPS, hanya perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencatatkan persentase kenaikan lebih tinggi, yakni 9,25 persen.
Namun ada lapisan data yang lebih penting dari angka persen itu: lonjakan harga pendidikan tidak sedang terjadi sekarang — ia sudah terjadi setahun lalu.
BPS mencatat Indeks Harga Konsumen kelompok pendidikan bergerak dari 101,33 pada Mei 2025 menjadi 111,34 pada Desember 2025 — kenaikan hampir 10 poin dalam tujuh bulan. Pola ini selaras dengan siklus tahun ajaran baru yang di Indonesia umumnya dimulai Juli, saat uang pangkal sekolah, biaya semester, seragam, buku, hingga biaya kursus naik bersamaan.
Sejak Januari 2026, tekanan itu mereda. IHK pendidikan justru turun tipis dari 111,34 menjadi 111,17 pada Mei 2026 — penurunan 0,15 persen secara year-to-date. Secara bulanan, kelompok ini hanya naik 0,04 persen pada Mei 2026 dengan andil yang hampir nol terhadap inflasi bulanan Sulut.
Lantas mengapa data ini tetap penting hari ini?
Karena Juli 2026 tinggal beberapa pekan lagi, dan pola historis menunjukkan bahwa tahun ajaran baru adalah pemicu lonjakan biaya pendidikan yang berulang. Orang tua yang tidak mempersiapkan anggaran dari sekarang berpotensi menghadapi tekanan harga yang sama seperti yang terjadi setahun lalu — atau bahkan lebih besar.
Kepala BPS Sulawesi Utara, Watekhi, menyebut kondisi harga secara umum masih dalam kendali.
“Tingkat inflasi tahunan Mei 2026 lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, namun secara bulanan justru terjadi deflasi sehingga tekanan harga relatif terkendali,” ujarnya.
Lihat: Tarif Pesawat dan Harga Tomat Naik, Inflasi Tahunan Sulut Capai 2,33 Persen
Secara keseluruhan, kelompok pendidikan menyumbang andil inflasi tahunan sebesar 0,30 persen terhadap inflasi Sulut 2,33 persen. Angka andil yang relatif kecil ini mencerminkan bobot kelompok pendidikan dalam keranjang pengeluaran rata-rata rumah tangga, meski persentase kenaikannya tergolong tinggi.
Sebagai perbandingan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru menyumbang andil inflasi tahunan tertinggi sebesar 0,59 persen, disusul transportasi 0,54 persen dan makanan, minuman, serta tembakau 0,51 persen.
Kondisi inflasi Sulut secara keseluruhan memperlihatkan ketimpangan antarwilayah yang cukup tajam: Kota Manado mencatatkan inflasi tahunan 3,27 persen, sementara Kabupaten Minahasa Utara hanya 0,66 persen.
Perbedaan struktur pengeluaran antarwilayah — termasuk porsi biaya pendidikan dan transportasi — menjadi salah satu faktor penjelas, sebagaimana diulas dalam laporan perbandingan inflasi Manado dan Minahasa Utara Mei 2026.
Untuk gambaran lengkap tentang komoditas mana yang paling besar menekan biaya hidup di Sulut saat ini, baca juga laporan kenaikan tarif angkutan udara dan inflasi transportasi Sulut Mei 2026.
