Profil

Mengenang Sosok Ibu Kartini

*Wawancara dengan Ketua Dharma Pertiwi Koorcab Sulut Ny. Ida Maliogha*

Mengenang Sosok Ibu Kartini
Kartini Sulut, Ida Maliogha

Perjuangan Ibu Kartini banyak menginspirasi para wanita Indonesia, termasuk didalamnya wanita Sulawesi Utara. Berkat sepak terjang dan
pemikiran-pemikiran seorang Kartini, yang mendobrak tradisi Nusantara yang
sangat patriarki di awal abad 20, para wanita Indonesia masa kini dapat bersaing secara adil untuk menjadi pemimpin, bahkan ada yang pernah menjadi Presiden. Wanita Sulawesi Utara pun tak kalah hebat: ada yang menjadi Ketua Dewan, Bupati, bahkan Kepala Kepolisian yang banyak dianggap sebagai dunianya kaum lelaki.

Demikian tanggapan Ketua Dharma Pertiwi  Koordinator Cabang Sulawesi Utara
daerah Ny. Ida Maliogha saat dimintai komentar tentang sosok Ibu Kartini.
Ny. Ida Maliogha yang ternyata asli putri Solo, sekitar 80 km arah Selatan
dari Kota Jepara, tempat kelahiran Raden Ayu Kartini, pun menjelaskan
secara gamblang betapa patriarkinya budaya Nusantara saat itu, terutama
sekali di Tanah Jawa, tempat di mana Kartini dibesarkan. Kaum wanita tidak
memperoleh akses untuk belajar dan harus pasrah apabilah dijodohkan oleh
orangtua; bahkan untuk seorang Raden Ayu Kartini yang notabene berdarah
bangsawan.

Pemikiran-pemikirannya yang sangat visioner mengundang decak kagum
teman-teman penanya di negeri Belanda, bahkan beberapa tulisannya dimuat
oleh majalah wanita “*De Hollandsche Lelie”. *Salah seorang sahabat
Kartini, Rosa Abendanon, kemudian membukukan surat-surat Kartini kepada
teman-teman korespondensinya di Eropa dan diberi judul “*Door Duisternis
tot Licht”,* yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku
kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada tahun 1911. Pada tahun 1922,
Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul “*Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran”*. Kemudian pada tahun 1938, terbitlah “*Habis Gelap Terbitlah Terang<http://id.wikipedia.org/wiki/Habis_Gelap_Terbitlah_Terang>”* versi Armin Pane <http://id.wikipedia.org/wiki/Armijn_Pane>, seorang
sastrawan Pujangga Baru <http://id.wikipedia.org/wiki/Pujangga_Baru>.

Untuk mengabadikan perjuangan dan pemikiran Kartini, salah seorang tokoh
Kebangkitan Nasional, W.R. Soepratman, bahkan menciptakan lagu berjudul
“Ibu Kita Kartini”.

Saat ini, profesor wanita Indonesia tak terhitung jumlahnya, demikian juga
wanita Indonesia yang memegang jabatan eksekutif tertinggi di berbagai
perusahaan berskala nasional maupun internasional. Tidak ada lagi
batasan-batasan untuk mencegah wanita Indonesia merengkuh cita-citanya.

Sebagai bahan refleksi, rasanya perlu juga merenungi jalan hidup seorang
Kartini. Sebagaimana remaja putri umumnya, Kartini muda pada awalnya juga
egois dan radikal: secara terang-terangan pernah menentang kemauan
orangtuanya untuk dijodohkan. Namun kebijaksanaan dan keluasan wawasan
bahwa tradisi yang sudah turun-temurun berabad-abad tidak harus ditentang
secara frontal mendorong Kartini muda bertransformasi menjadi seseorang
yang bijak. Nyatanya, perkawinan usia muda dan dijodohkan tidak menghalangi kepak sayap pikiran Kartini muda yang melanglang sampai ke Eropa.

Terbanglah sampai batas yang bisa engkau tempuh wahai wanita Indonesia!

Satu tanggapan untuk “Mengenang Sosok Ibu Kartini”

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara