Saat memulai pekerjaan di IPPHOS Alex Mendur bermodalkan kamera merk Leica bauta Jerman, sedangkan FF. Umbas menggunakan kamera bermerk Roll Eiflex.
Diluar tanggung jawab utama sebagai wartawan foto di IPPHOS, Alex Mendur dan FF. Umbas juga melakoni usaha sampingan untuk keperlua foto berbagai kegiatan lain seperti acara perkawinan, sunata, kematian, pesta ulang tahun dan acara-acara keluarga.

Hal itu dilakukan dalam rangka untuk membiayai pengeluaran dalam operasional IPPHOS dan untuk urusan administrasi kantor, tanggung jawab itu diserahkan kepada JK. Umbas dan Alex Mamusung.
IPPHOS pun terus berkembang hingga bisa membuka kantor cabang di Yogyakarta tahun 1946 dan pengelolaannya diberikan kepercayaan kepada Frans Mendur dan Alex Mamusung.
Selanjutnya tahun 1948 dibukan juga Kantor Cabang IPPHOS di Semarang, Palembang, Ujung Pandang dan setahun kemudian pada 1949 juga hadir di Surabaya, Manado, bandung dan Medan dengan status Kantor Perwakilan.
Saat Sutan Syahrir menjadi Perdana Menteri, IPPHOS semakin kuat perkembangannya, karena saat itu Bung Syahrir menginginkan kegiatan-kegiatan pemerintah dapat diabadikan dalam bentuk foto.
Dari situlah Alex Mendur mulai berkenalan dengan banyak pejabat negara, tak terkecuali Presiden Soekarno, Mohamad Hatta dan Alex Kawilarang.
Karena kedekatan dengan Bung Karno, pada suatu saat ketika sang Proklamator berada di Istana Yogyakarta, Alex Mendur bersama JK. Umbas dan juga Frans Mendur diundang untuk berbincang-bincang tentang perkembangan IPPHOS.
Tidak hanya saat itu saja, Alex Mendur ternyata sering diajak untuk sarapan bersama Presiden Soekarno di Istana Yogyakarta dan hal serupa juga terjadi saat mereka berada di kediamannya Bung Hatta.
Seiring waktu berjalan, karya-karya jurnalisitk IPPHOS mendapatkan komentar positif dari Adam Malik bahwa “Foto lebih berharga daripada penulisan fakta (kenyataan) suatu peristiwa itu sendiri. Kalau tulisan dapat dipalsukan, tetapi foto tidak bisa”.
Masa jaya IPPHOS terjadi pada tahun 1950-an, dimana kantoer berita ini berhasil mengeuasainkerta koran berkat usaha FF. Umbas yang berupaya mencari kertas koran dan foto, serta sempat menguasai pasara Eropa dengan menjadi penyalur tunggal.
Masa kejayaan IPPHOS pun dilengkapi dengan diangkatnya FF. Umbas menjadi Menteri Muda Urusan Perekonomian pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II.
Hal itu ternyata membuat operasional IPPHOS agak pincang dan menuntut Alex Mendur berupaya untuk mengatasinya, meski setelah tugas-tugas sebagai Menteri usai pada tahun 1956 FF. Umbas kembali bekerja di IPPHOS, namun situasi sudah lain dari sebelumnya.

Masalah terbesar IPPHOS saat itu, ketika para pendiri seperti mulai lanjtu usia yaitu tidak ada orang yang lebuh muda mau meneruskan usaha tersebut, menyusul meninggalnya Alex Mendur karena sakit.
Tahun 1955, Alex Mendur diangkat menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesian (PWI) saat Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jaya (Jakarta) dan juga mendapatkan berbegai penghargaan sebagai apresiasi terhadap seluruh karyanya bersama IPPHOS.
5 Desember 1984 merpakan terakhir kalinya Alex Mendur berkunjung ke Kantor IPPHOS dan dua hari berselang ia sakit di bagian prostat, dimana terjadi pengapuran pada saluran kencing sehingga dilakukan tindakan operasi pada 13 Desember 1984.
Setelah sempat berdoa pada 30 Desember 1984, Alex Mendur menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Advent Bandung sekitar pukul 4.30 pagi pada hari Minggu dan dimakamkan keesokan harinya di lahan pemakaman Pandu Bandung dalam usia 77 tahun.
Kini, Piere Mendur yang juga sempat merasakan bekerja sebagai wartawan IPPHOS mengharapkan suatu saat kelak spirit Alex Mendur dan Frans Mendur dapat menjadi motivasi bagi wartawan-wartawan zaman millenial saat ini untuk berkarya dengan motivasi yang tulus.
