
Penulis: Tim Redaksi
Pemerintah terus memperkuat ekosistem ekonomi desa melalui integrasi Kopdes Merah Putih, BUMDes, dan pengembangan desa tematik berbasis potensi lokal.
Langkah ini diproyeksikan memperluas pemasaran hasil produksi masyarakat desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga di ribuan desa di Indonesia.
Program tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Asta Cita Presiden, dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menggandeng 10 asosiasi desa sebagai mitra strategis agar implementasinya berjalan optimal di seluruh wilayah.
Kolaborasi ini dinilai penting karena melibatkan 75.266 desa yang memiliki karakteristik dan potensi ekonomi berbeda-beda.
Karena itu, sinergi antara koperasi, BUMDes, dan pemerintah desa menjadi kunci agar manfaat program dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengatakan pihaknya terus menjalin koordinasi dengan asosiasi desa untuk memastikan seluruh program pemerintah dapat terlaksana sesuai target.
“Jadi 10 asosiasi desa ini menjadi mitra strategis Kementerian Desa untuk memastikan program Bapak Presiden melalui Asta Cita yang ke-6 itu benar-benar terlaksana, termasuk Koperasi Desa Merah Putih dan kami memang dari Asta Cita keenam itu ada 12 aksi bangun desa, di antara itu desa tematik,” ujar Yandri dalam keterangannya kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026.
Kopdes Merah Putih dan BUMDes Saling Melengkapi
Yandri menjelaskan, Kopdes Merah Putih nantinya akan menjalankan fungsi sebagai offtaker yang bekerja sama dengan BUMDes dalam menyerap sekaligus memasarkan hasil produksi masyarakat desa.
Dengan konsep tersebut, koperasi tidak diposisikan sebagai pesaing BUMDes, melainkan menjadi mitra yang saling melengkapi.
Menurutnya, setiap desa akan mengembangkan potensi ekonomi sesuai karakteristik wilayah masing-masing, mulai dari sektor pertanian hingga komoditas unggulan lainnya.
“Para petani sesuai dengan potensi desa masing-masing, karena jumlah desa banyak sekali 75.266, dengan berbagai potensi yang ada, tentu nanti masing-masing Kopdes bekerja sama dengan BUMDes memastikan semua produk desa itu sesuai dengan potensinya, akan dipastikan bisa mendapatkan manfaat bagi para penduduk desa,” jelas Yandri.
Ia menambahkan, optimalisasi potensi desa akan menjadi fokus ketika operasional koperasi berjalan secara penuh. Selain mendukung peningkatan ekonomi masyarakat, hasil usaha koperasi juga akan memberikan kontribusi bagi pemerintah desa.
“Nanti kalau sudah jalan, kami pasti akan maksimalkan fungsinya melalui potensi desa masing-masing, pasti. Apalagi yang dipakai kan dana desa dan apalagi nanti dari keuntungan itu ada 20 persen dari Kopdes itu akan menjadi pendapatan asli desa. Jadi pemerintah desa dengan segala unsurnya punya kepentingan, Kopdes ini berhasil dan sukses karena ada efek positifnya kepada desa, termasuk sisanya yang 80 persen akan kembali ke rakyat di desa itu,” ungkap Yandri.
Desa Tematik Didorong Sesuai Potensi Lokal
Selain penguatan Kopdes Merah Putih dan BUMDes, Kemendes PDT juga melanjutkan pengembangan desa tematik yang telah dijalankan selama sekitar satu tahun terakhir.
Yandri menyebut, sejumlah desa tematik kini telah berkontribusi sebagai pemasok program MBG melalui BUMDes.
“Banyak desa tematik ini menjadi penyuplai MBG, banyak. Jadi hampir seribu bahkan BUMDes itu menjadi penyuplai utama MBG,” ungkap Yandri.
Ke depan, pengembangan desa tematik akan terus disesuaikan dengan potensi ekonomi masing-masing daerah, baik di sektor pertanian, perikanan maupun perkebunan.
