Setelah peristiwa bersejarah itu, Alex dan Frans Mnedur tetap berkomitmen untuk bekerja di bidnag fotografi sambil mengabadikan presitiwa-peristiwa penting terkait perjalanan bangsa Indonesia dan akhirnya menjadi titik awal kehidupan yang baru bagi Alex dan Frans.
Berdirinya IPPHOS Sesudah kemerdekaan Indonesia, Alex Mnedur bekerja di Harian Merdeka yang didirikan oleh BM. Diah dan ia sering didatangi oleh wartawan-wartwan yang berasal dari luar negeri untuk meminta foto-foto tentang tokoh-tokoh bangsa seperti Presiden Soekarno, Mohamad Hatta, Sutan Syahrir dan tentu saja foto saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, serta tidak ketinggalan foto-foto para pemuda pejuang, rapat raksasa di Lapangan Ikada pada 19 September 1945.
Dari situlah muncul ide untuk mendirikan kantor berita foto, dimana tujuannya yaitu agar bisa lebih memperluas karya-karya foto jurnalistik kedua kakak beradik ini.
Untuk maksud ini, Alex Mendur bertemu rekan seprofesi seperti JK. Umbas, FF. Umbas dan sang adik Frans Mendur, dengan maksud berdiskusi tentang segala sesuatu yang dibutuhkan dalam rangka pendirian kantor berita foto tersebut.

Akhirnya, didirikanlah sebuah kantor berita foto, akan tetapi saat itu belum ada Namanya dan juga belum berbadan hukum seperti sebutan saat ini yaitu Perseroan Terbatas (PT), namun sudah beroperasi sejak tahun 1945.
Karena seringnya wartawan asing seperti dari United Press, Frans Agency serta duta-duta lain dari Amerika Serikat seperti FBI, maka kantor berita foto yang didikan Alex Mendur dan beberapa rekan seprofesi semakin dikenal luas.
Dari wartawan asing itulah tercetus sebutan “Indonesian Press Photo”, maka timbulah ide dari Frans Umbas untuk memberi nama Indonesian Press Photo Service atau disingkat IPPHOS.
Tanggal 2 Oktober 1946, kantor berita foto Alex Mendur resmi berbadan hukum dengan nama resminya NV. IPPHOS Coy Ltd, dimana dalam dokumen pendirian perusahaan tercantum nama-nama pendiri antara lain Alex Mendur sendiri, Frans Mendur, JK. Umbas, FF. Umbas, Alex Mamusung.
Seiring perjalanan waktu, IPPHOS diperkuat oleh M. Jacob, Aniem Abdul Rachman dan sejumlah rekan seprofesi lainnya.

Dalam menjalankan usahanya, IPPHOS menembpati sebuah gedung bekas perusahaan Belanda yaitu Fermont & Cuipers yang berlokasi di Jalan Mqlenvliet Oost (sekarang Jalan Hayam Wuruk) Nomor 30 Jakarta.
Dengan didiirikannya IPPHOS, tidak juga membuat usaha Alex Mendur dan kawan-kawan seprofesi mulus, kakrena harus berpikir bagaimana menyimpan negatif film tentang perjuangan yang paling penting dan tidak dimiliki orang lain agar tidak rusak.
Alex Mendur sendiri yang melakukan tugas tersebut dan untuk itu dia menghubungi Angkatan 45 untuk mengupayakan penyimpanan negatif film tersebut dan hal itu mendapatkan respon yang baik.
Dalam dokumen akte pendirian perusahaan IPPHOS, dijelaskan bahwa maksud dan tujuan adalah mendirikan foto press nasional serta membuat semacam dokumentasi bertemakan perjuangan, melakukan koordinasi seluruh sumber daya tenaga yang ada di seluruh kepulauan Indonesia, termasuk didalamnya mendidik para pemuda untuk memiliki kepedulian terhadap dunia fotografi.
Saat memulai pekerjaan di IPPHOS Alex Mendur bermodalkan kamera merk Leica bauta Jerman, sedangkan FF. Umbas menggunakan kamera bermerk Roll Eiflex.
Diluar tanggung jawab utama sebagai wartawan foto di IPPHOS, Alex Mendur dan FF. Umbas juga melakoni usaha sampingan untuk keperlua foto berbagai kegiatan lain seperti acara perkawinan, sunata, kematian, pesta ulang tahun dan acara-acara keluarga.

Hal itu dilakukan dalam rangka untuk membiayai pengeluaran dalam operasional IPPHOS dan untuk urusan administrasi kantor, tanggung jawab itu diserahkan kepada JK. Umbas dan Alex Mamusung.
IPPHOS pun terus berkembang hingga bisa membuka kantor cabang di Yogyakarta tahun 1946 dan pengelolaannya diberikan kepercayaan kepada Frans Mendur dan Alex Mamusung.
Selanjutnya tahun 1948 dibukan juga Kantor Cabang IPPHOS di Semarang, Palembang, Ujung Pandang dan setahun kemudian pada 1949 juga hadir di Surabaya, Manado, bandung dan Medan dengan status Kantor Perwakilan.
Saat Sutan Syahrir menjadi Perdana Menteri, IPPHOS semakin kuat perkembangannya, karena saat itu Bung Syahrir menginginkan kegiatan-kegiatan pemerintah dapat diabadikan dalam bentuk foto.
Dari situlah Alex Mendur mulai berkenalan dengan banyak pejabat negara, tak terkecuali Presiden Soekarno, Mohamad Hatta dan Alex Kawilarang.
Karena kedekatan dengan Bung Karno, pada suatu saat ketika sang Proklamator berada di Istana Yogyakarta, Alex Mendur bersama JK. Umbas dan juga Frans Mendur diundang untuk berbincang-bincang tentang perkembangan IPPHOS.
Tidak hanya saat itu saja, Alex Mendur ternyata sering diajak untuk sarapan bersama Presiden Soekarno di Istana Yogyakarta dan hal serupa juga terjadi saat mereka berada di kediamannya Bung Hatta.
Seiring waktu berjalan, karya-karya jurnalisitk IPPHOS mendapatkan komentar positif dari Adam Malik bahwa “Foto lebih berharga daripada penulisan fakta (kenyataan) suatu peristiwa itu sendiri. Kalau tulisan dapat dipalsukan, tetapi foto tidak bisa”.
Masa jaya IPPHOS terjadi pada tahun 1950-an, dimana kantoer berita ini berhasil mengeuasainkerta koran berkat usaha FF. Umbas yang berupaya mencari kertas koran dan foto, serta sempat menguasai pasara Eropa dengan menjadi penyalur tunggal.
Masa kejayaan IPPHOS pun dilengkapi dengan diangkatnya FF. Umbas menjadi Menteri Muda Urusan Perekonomian pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II.
Hal itu ternyata membuat operasional IPPHOS agak pincang dan menuntut Alex Mendur berupaya untuk mengatasinya, meski setelah tugas-tugas sebagai Menteri usai pada tahun 1956 FF. Umbas kembali bekerja di IPPHOS, namun situasi sudah lain dari sebelumnya.

Masalah terbesar IPPHOS saat itu, ketika para pendiri seperti mulai lanjtu usia yaitu tidak ada orang yang lebuh muda mau meneruskan usaha tersebut, menyusul meninggalnya Alex Mendur karena sakit.
Tahun 1955, Alex Mendur diangkat menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesian (PWI) saat Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jaya (Jakarta) dan juga mendapatkan berbegai penghargaan sebagai apresiasi terhadap seluruh karyanya bersama IPPHOS.
5 Desember 1984 merpakan terakhir kalinya Alex Mendur berkunjung ke Kantor IPPHOS dan dua hari berselang ia sakit di bagian prostat, dimana terjadi pengapuran pada saluran kencing sehingga dilakukan tindakan operasi pada 13 Desember 1984.
Setelah sempat berdoa pada 30 Desember 1984, Alex Mendur menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Advent Bandung sekitar pukul 4.30 pagi pada hari Minggu dan dimakamkan keesokan harinya di lahan pemakaman Pandu Bandung dalam usia 77 tahun.
Kini, Piere Mendur yang juga sempat merasakan bekerja sebagai wartawan IPPHOS mengharapkan suatu saat kelak spirit Alex Mendur dan Frans Mendur dapat menjadi motivasi bagi wartawan-wartawan zaman millenial saat ini untuk berkarya dengan motivasi yang tulus.
“Semoga pegabdian Alex dan Frans Mendur ini menjadi kenangan yang akan selalu diingat oleh generasi muda saat ini khususnya teman-teman wartawan. Mudah-mudahan suatu saat IPPHOS akan kembali bangkit dan meneruskan harapan serta cita-cita Alex dan Frans Mendur,” harapnya.
(Frangki Wullur)
