Waktu yang dihabiskan Alex Mendur untuk belajar seluk beluk dunia fotografi sekitar 6 tahun, hingga dirinya tampak mahir mempraktekkan teknologi dalam fotografi.
Jadi dapat dikatakan bahwa disamping bekerja di perusahaan Belanda tersebut, Alex juga sambil belajar alat-alat fotografi hingga tahun 1926 dan selanjutnya ia bekerja di perusahaan fotografi milik Inggris di Bandung.

Tidak lama mengadu nasib di Bandung, Alex pindah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan Jerman yaitu Kodak yang juga bergerak di bisnis penjualan alat-alat fotografi.
Di Jakarta, Alex berkenalan dengan Keluarga Wowor yang juga berasal dari Manado yang mempunyai anak perempuan bernama Emmy Agustina Wowor yang akhirnya dinikahi pada tahun 1929 di Jakarta dan tinggal di daerah Mangga Besar.
Alex akhirnya mencoba melamar pekerjaan harian Belanda terkemuka pada saat itu yaitu bernama “De Java Bode”, dimana surat kabar tersebut dianggap terkenalkarena terbit di Batavia dari abad 19 sampai dengan Perang Dunia II.
Pada saat yang sama, Alex Mendur sebenarnya juga sedang bekerja di Majalah Actuaeel Wereld Nieuws En Sport In Beeld sebagai juru foto antara tahun 1931-1934 yang berstatus sebagai anak perusahaan dari Harian De Java Bode.
Tahun 1932 saat Alex Mnedur berusia 25 tahun, Alex Mendur akhirnya diterima bekerja di De Java Bode sebagai wartawan foto.
Waktu itu, wartawan foto di Jakarta baru Alex Mendur dan dua orang dari Belanda serta bekerja selama kurang lebih tiga tahun (1932-1935).
Namun demikian, pengalaman yang diperoleh di De Java Bode tidak bisa dilupakan, sudah termasuk didalamnya memndidik adiknya Frans Soemarto Mendur menjadi juru foto.
Pada awal penjajahan Jepang, Alex Mendur dan kehidupan keluarganya sempat mengalami masa suram, namun di sisi lain ia ditunjuk Pemerintah Jepang untuk bekerja sebagai Kepala bagian Kantor Berita Domei.
Kantor Berita Domei ini kelak setelah Indonesia merdeka Namanya berubah menjadi Kantor Berita Antara, dimana nama tersebut diambil karena Soemanang dahulu pernah menerbitkan mingguan di Kota Bogor bernama “Perantaraan”.

Untuk mnedapatkan penghasilan tambahan, Alelx Mendur dan Adam Malik bekerja sama dengan mencatut kamera serta jam tangan dan hal itu disenangi oleh Jepang karena menyukai kamera “Leica serta jam tangan “Mido”.
Jepang Menyerah Sampailah pada suatu momen dimana Jepang terdesak oleh karena tindakan sekutu yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki masi ng-masing dengan bom atom pada tahun 1945.
Saat itu Sudah menjadi informasi yang diketahui banyak orang, bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu dan secara karena secara berantai kabar tersebut sampai ke telinga rakyat bahwa Indonesia akan merdeka dan akan segera memproklamasikannya.
Maka, setelah adanya perundingan antara Jepang dan Presiden Soekarno – Mohamad Hatta, dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang tugasnya yaitu mempersiapkan serta melaksanakan proklamasi kemerdekaan serta mengesahkan rancangan Undang-Undang Dasar yang disusun oleh BPUPKI.
Tanggal 17 Agustus 1945, sekitar pukul 10.00 WITA bertempat di Jalan Pegansaan Timur 56 tersiar kabar bahwa akan dilakukan proklamasi kemerdekaan oleh Presiden Soekarno dan Mohamad Hatta.
Hal ini memicu instinct jurnalistik Alex Mendur setelah mengetahui kabar tersebut dari Zahrudi yang bekerja di Kantor Berita Domei tanggal 16 Agustus 1945.
Bagi Alex, hal itu merupakan momentum bersejarah yang tidak boleh dilewatkan. Oleh karena itu, tepat pada 17 Agustus 1945, Alex Mendur menuju Jalan Pegangsaan Timur 56 bersama sang adik Frans Mendur dengan tetap mewaspadai situasi agar tidak diketahui oleh tantara Jepang.
