
Kawangkoan, BeritaManado.com — Alex Mendur dan Frans Mendur adalah dua tokoh asal Kawangkoan Kabupaten Minahasa yang memiliki andil besar dalam penyebarluasan momen bersejarah perjuangan dan kemerdekaan Indonesia melalui karya-karya foto jurnalistiknya.
Hal itu sebagaimana diceritakan cucu dari Alex Mendur, Piere Mendur yang saat ini menjadi penjaga kompleks Tugu Pers Mendur Kawangkoan.
Alex Impurung Mendur dilahirkan di Desa Talikuran (sekarang Kelurahan Talikuran) Kawangkoan tanggal 7 November 1907 di dari pasangan suami istri August Mendur dan Ariance Mononimbar di sebuah rumah panggung khas Minahasa.
Sebagai anggota keluarga Kristen, Alex Mendur dibaptis waktu berusia 3 bulan oleh Pndeta Reimper di Gereja Protestan (Indishe Kerk) Kawangkoan, yaitu gereja Pemerintah Hindia Belanda dan akhirnya mendapatkan nama baptis menjadi Alexius Impurung Mendur.
Saat usia sekitar 6 tahun Alex Mendur masuk Sekolah yang masih berstatus gouvernement yang bernama Volkschool Gouvernement dengan kepala sekolah E. Lapian (ayah dari BW. Lapian.

Alex Mendur akhirnya berhasil menyelesaikan sekolahnya pada tahun 1918 di usia 11 tahun, dimana waktu itu sekolah yang saat ini bernama Sekolah Dasar (SD) dan hanya sampai kelas 5.
Namun sayang, saat itu Alex Mendur tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena faktor tidak ada biaya dan beban finansial semakin terasa berat saat kelahiran adik-adiknya, yaitu Juliana Mendur, Bernard Mendur, Frans Soemarta Mendur, Hein Mendur, Paul Mendur, Margoce Mendur, Cinstanse Mendur, Tientje Mendur dan Catoce Mendur.
Hal itu mendorong Alex Mendur berpikir dan berupaya mencari jalan keluar untuk meringankan beban ekonomi sang ayah, karena sebagai anak yang tertua, ia merasa bertanggung jawab terhadap kehidupan adik-adiknya.
Alex pun membantu orangtua berdagang dan bertani sambil belajar bahasa Inggris dari buku-buku pemberian gurunya sewaktu masih bersekolah.
Hingga dewasa, Alex Mendur bekerja keras terus mencari jalan untuk tetap meringankan beban ekonomi keluarganya.
Sempat dilanda kebingungan, akhirnya jalan keluar mulai nampak dengan terdengarnya kabar ada ada saudara Alex Mendur pulang ke Kawangkoan dari tanah Jawa.

Dia adalah Anton Nayoan asal Desa Tondegesan yang telah sekian tahun merantau di tanah Jawa dan bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan Belanda yang menjual alat-alat dan bahan keperluan dan perlengkapan fotografi.
Setelah bertemu, Anton Nayoan berniat untuk mengajak Alex Mendur untuk ikut bersamanya ke tanah Jawa dan hal itu ditanggapi positif oleh Alex sendiri.
Alex sendiri memang telah memiliki keinginan yang kuat untuk merantau ke tanah Jawa dengan maksud untuk belajar hidup mandiri dan mencari pengalaman guna meringankan beban ekonomi keluarganya.
Niat untuk merantau ke tanah Jawa disampaikan kepada kedua orangtuanya dan sempat mendapatkan penolakan dengan alasan Alex belum cukup umur untuk hidup jauh dari keluarga.
Berkat bantuan Anton Nayoan yang gigih meyakinkan orangtua Alex, akhirnya permintaan untuk pergi ke tanah Jawa dikabulkan.
Sebelum berangkat ke tanah Jawa, kerabat dan keluarga Alex Mendur diundang ke rumah untuk mengadakan jamuan perpisahan melepas Alex ke tanah Jawa. Begitu tiba di Jawa, Alex Mendur diperkenalkan dengan dunia fotografi di perusahaan Belanda tempat Anton Nayoan bekerja.
Alex akhirnya mendapat tugas untuk menekuni bidang teknologi yang masih baru pada waktu itu, dimana pengetahuan yang diberikan Anton Nayoan tentang fotografi dirasakan sangat bermamnfaat dan menjadi modal untuk menjalani hidup selanjutnya. Alex mulai belajar fotografi dari dasar, yaitu mulai dari mencuci film, mengeringkan sampai siap menjadi foto, dimana semua proses yang dilaluinya itu dilakukan dengan penuh kesabaran.
Waktu yang dihabiskan Alex Mendur untuk belajar seluk beluk dunia fotografi sekitar 6 tahun, hingga dirinya tampak mahir mempraktekkan teknologi dalam fotografi.
Jadi dapat dikatakan bahwa disamping bekerja di perusahaan Belanda tersebut, Alex juga sambil belajar alat-alat fotografi hingga tahun 1926 dan selanjutnya ia bekerja di perusahaan fotografi milik Inggris di Bandung.

Tidak lama mengadu nasib di Bandung, Alex pindah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan Jerman yaitu Kodak yang juga bergerak di bisnis penjualan alat-alat fotografi.
Di Jakarta, Alex berkenalan dengan Keluarga Wowor yang juga berasal dari Manado yang mempunyai anak perempuan bernama Emmy Agustina Wowor yang akhirnya dinikahi pada tahun 1929 di Jakarta dan tinggal di daerah Mangga Besar.
Alex akhirnya mencoba melamar pekerjaan harian Belanda terkemuka pada saat itu yaitu bernama “De Java Bode”, dimana surat kabar tersebut dianggap terkenalkarena terbit di Batavia dari abad 19 sampai dengan Perang Dunia II.
Pada saat yang sama, Alex Mendur sebenarnya juga sedang bekerja di Majalah Actuaeel Wereld Nieuws En Sport In Beeld sebagai juru foto antara tahun 1931-1934 yang berstatus sebagai anak perusahaan dari Harian De Java Bode.
Tahun 1932 saat Alex Mnedur berusia 25 tahun, Alex Mendur akhirnya diterima bekerja di De Java Bode sebagai wartawan foto.
Waktu itu, wartawan foto di Jakarta baru Alex Mendur dan dua orang dari Belanda serta bekerja selama kurang lebih tiga tahun (1932-1935).
Namun demikian, pengalaman yang diperoleh di De Java Bode tidak bisa dilupakan, sudah termasuk didalamnya memndidik adiknya Frans Soemarto Mendur menjadi juru foto.
Pada awal penjajahan Jepang, Alex Mendur dan kehidupan keluarganya sempat mengalami masa suram, namun di sisi lain ia ditunjuk Pemerintah Jepang untuk bekerja sebagai Kepala bagian Kantor Berita Domei.
Kantor Berita Domei ini kelak setelah Indonesia merdeka Namanya berubah menjadi Kantor Berita Antara, dimana nama tersebut diambil karena Soemanang dahulu pernah menerbitkan mingguan di Kota Bogor bernama “Perantaraan”.

Untuk mnedapatkan penghasilan tambahan, Alelx Mendur dan Adam Malik bekerja sama dengan mencatut kamera serta jam tangan dan hal itu disenangi oleh Jepang karena menyukai kamera “Leica serta jam tangan “Mido”.
Jepang Menyerah Sampailah pada suatu momen dimana Jepang terdesak oleh karena tindakan sekutu yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki masi ng-masing dengan bom atom pada tahun 1945.
Saat itu Sudah menjadi informasi yang diketahui banyak orang, bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu dan secara karena secara berantai kabar tersebut sampai ke telinga rakyat bahwa Indonesia akan merdeka dan akan segera memproklamasikannya.
Maka, setelah adanya perundingan antara Jepang dan Presiden Soekarno – Mohamad Hatta, dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang tugasnya yaitu mempersiapkan serta melaksanakan proklamasi kemerdekaan serta mengesahkan rancangan Undang-Undang Dasar yang disusun oleh BPUPKI.
Tanggal 17 Agustus 1945, sekitar pukul 10.00 WITA bertempat di Jalan Pegansaan Timur 56 tersiar kabar bahwa akan dilakukan proklamasi kemerdekaan oleh Presiden Soekarno dan Mohamad Hatta.
Hal ini memicu instinct jurnalistik Alex Mendur setelah mengetahui kabar tersebut dari Zahrudi yang bekerja di Kantor Berita Domei tanggal 16 Agustus 1945.
Bagi Alex, hal itu merupakan momentum bersejarah yang tidak boleh dilewatkan. Oleh karena itu, tepat pada 17 Agustus 1945, Alex Mendur menuju Jalan Pegangsaan Timur 56 bersama sang adik Frans Mendur dengan tetap mewaspadai situasi agar tidak diketahui oleh tantara Jepang.
Tiba di lokasi akan dibacakan proklamasi kemerdekaan, baik Alex dan Frans, sama-sama mempersiapkan kamera yang dibawa.
Waktu itu yang mengambil foto hanya dua orang saja yaitu Alex Mendur dan Frans Mendur, dimana keduanya berhasil mengabadikan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia dengan kamera merk Leica. Setelah selesai, Alex dan Frans langsung bergegas untuk kembali ke kantor untuk memproses filmnya, namun sialnya, hasil karya Alex dalam bentuk film yang sedang dikeringkan dirampas oleh tantara Jepang.

Beruntung, berkat kecerdikan Frans Mendur, film yang ada padanya tidak langsung dicetak, melainkan ditimbun di dalam tanah selama.
Barulah setelah kondisi terasa aman, film milik Frans Mendur yang berisikan detik-detik berjsejarah bangsa Indonesia itu dilakukan proses cetak.
Menurut penuturan Piere Memndur yang saat ini tinggal dan menjaga lokasi Tugu Pers Mendur di Kelurahan Kinali Kawangkoan Utara ini, bahwa hasil liputan Frans Mendur itulah yang saat ini bisa dilihat oleh masyarakat lua dan tercantum di berbagai buku sejarah yang ada di sekolah-sekolah.
