Tiba di lokasi akan dibacakan proklamasi kemerdekaan, baik Alex dan Frans, sama-sama mempersiapkan kamera yang dibawa.
Waktu itu yang mengambil foto hanya dua orang saja yaitu Alex Mendur dan Frans Mendur, dimana keduanya berhasil mengabadikan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia dengan kamera merk Leica. Setelah selesai, Alex dan Frans langsung bergegas untuk kembali ke kantor untuk memproses filmnya, namun sialnya, hasil karya Alex dalam bentuk film yang sedang dikeringkan dirampas oleh tantara Jepang.

Beruntung, berkat kecerdikan Frans Mendur, film yang ada padanya tidak langsung dicetak, melainkan ditimbun di dalam tanah selama.
Barulah setelah kondisi terasa aman, film milik Frans Mendur yang berisikan detik-detik berjsejarah bangsa Indonesia itu dilakukan proses cetak.
Menurut penuturan Piere Memndur yang saat ini tinggal dan menjaga lokasi Tugu Pers Mendur di Kelurahan Kinali Kawangkoan Utara ini, bahwa hasil liputan Frans Mendur itulah yang saat ini bisa dilihat oleh masyarakat lua dan tercantum di berbagai buku sejarah yang ada di sekolah-sekolah.
Setelah peristiwa bersejarah itu, Alex dan Frans Mnedur tetap berkomitmen untuk bekerja di bidnag fotografi sambil mengabadikan presitiwa-peristiwa penting terkait perjalanan bangsa Indonesia dan akhirnya menjadi titik awal kehidupan yang baru bagi Alex dan Frans.
Berdirinya IPPHOS Sesudah kemerdekaan Indonesia, Alex Mnedur bekerja di Harian Merdeka yang didirikan oleh BM. Diah dan ia sering didatangi oleh wartawan-wartwan yang berasal dari luar negeri untuk meminta foto-foto tentang tokoh-tokoh bangsa seperti Presiden Soekarno, Mohamad Hatta, Sutan Syahrir dan tentu saja foto saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, serta tidak ketinggalan foto-foto para pemuda pejuang, rapat raksasa di Lapangan Ikada pada 19 September 1945.
Dari situlah muncul ide untuk mendirikan kantor berita foto, dimana tujuannya yaitu agar bisa lebih memperluas karya-karya foto jurnalistik kedua kakak beradik ini.
Untuk maksud ini, Alex Mendur bertemu rekan seprofesi seperti JK. Umbas, FF. Umbas dan sang adik Frans Mendur, dengan maksud berdiskusi tentang segala sesuatu yang dibutuhkan dalam rangka pendirian kantor berita foto tersebut.

Akhirnya, didirikanlah sebuah kantor berita foto, akan tetapi saat itu belum ada Namanya dan juga belum berbadan hukum seperti sebutan saat ini yaitu Perseroan Terbatas (PT), namun sudah beroperasi sejak tahun 1945.
Karena seringnya wartawan asing seperti dari United Press, Frans Agency serta duta-duta lain dari Amerika Serikat seperti FBI, maka kantor berita foto yang didikan Alex Mendur dan beberapa rekan seprofesi semakin dikenal luas.
Dari wartawan asing itulah tercetus sebutan “Indonesian Press Photo”, maka timbulah ide dari Frans Umbas untuk memberi nama Indonesian Press Photo Service atau disingkat IPPHOS.
Tanggal 2 Oktober 1946, kantor berita foto Alex Mendur resmi berbadan hukum dengan nama resminya NV. IPPHOS Coy Ltd, dimana dalam dokumen pendirian perusahaan tercantum nama-nama pendiri antara lain Alex Mendur sendiri, Frans Mendur, JK. Umbas, FF. Umbas, Alex Mamusung.
Seiring perjalanan waktu, IPPHOS diperkuat oleh M. Jacob, Aniem Abdul Rachman dan sejumlah rekan seprofesi lainnya.

Dalam menjalankan usahanya, IPPHOS menembpati sebuah gedung bekas perusahaan Belanda yaitu Fermont & Cuipers yang berlokasi di Jalan Mqlenvliet Oost (sekarang Jalan Hayam Wuruk) Nomor 30 Jakarta.
Dengan didiirikannya IPPHOS, tidak juga membuat usaha Alex Mendur dan kawan-kawan seprofesi mulus, kakrena harus berpikir bagaimana menyimpan negatif film tentang perjuangan yang paling penting dan tidak dimiliki orang lain agar tidak rusak.
Alex Mendur sendiri yang melakukan tugas tersebut dan untuk itu dia menghubungi Angkatan 45 untuk mengupayakan penyimpanan negatif film tersebut dan hal itu mendapatkan respon yang baik.
Dalam dokumen akte pendirian perusahaan IPPHOS, dijelaskan bahwa maksud dan tujuan adalah mendirikan foto press nasional serta membuat semacam dokumentasi bertemakan perjuangan, melakukan koordinasi seluruh sumber daya tenaga yang ada di seluruh kepulauan Indonesia, termasuk didalamnya mendidik para pemuda untuk memiliki kepedulian terhadap dunia fotografi.
