Berita Utama

KEK Likupang: Jangan Rampas Kehidupan Nelayan dan Mangrove di Paputungan

Oleh: Findamorina Muhtar

Minahasa Utara, BeritaManado.com – Pukul 05.00, nelayan Desa Paputungan seharusnya sudah bersiap untuk melaut.

Sero atau alat pancing berupa pagar-pagar yang akan menuntun ikan menuju perangkap, akan dibawa ke perahu.

Sekali tarik, puluhan ikan pasti terjaring.

Itu sudah cukup untuk sehari makan puas bersama seluruh anggota keluarga.

Tarikan selanjutnya, untuk dijual kepada tibo — pedagang ikan — di pasar.

Bisa juga nelayan menjual langsung ikan tangkapannya ke pasar besar.

Bagi nelayan Desa Paputungan di Kecamatan Likupang Barat, pasar paling ramai berada di Desa Likupang II Kecamatan Likupang Timur.

Jaraknya 20-25 menit naik motor, melewati beberapa desa.

Desa Paputungan hanya berukuran kecil.

Luasnya sekitar 350 hektar, atau 50 kali luas lapangan sepak bola.

Secara administratif, Desa Paputungan masuk dalam wilayah Kecamatan Likupang Barat di Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), dengan total penduduk sebanyak kurang lebih 879 jiwa, 257 Kepala Keluarga (KK), tersebar di empat dusun.

Pesisirnya, dikelilingi mangrove untuk menjaga abrasi.

Masyarakatnya dominan berprofesi sebagai nelayan dan petani kebun.

Untuk ke Paputungan, kita bisa menempuh 60 menit berkendara dari Kota Manado ke arah Bitung dengan menyusuri area pantai.

Akses jalan Paputungan kini sudah bisa dilalui dua bus. Jalanpun sudah dihotmix.

Di Kabupaten Minahasa Utara, mulai dari Kecamatan Wori, Likupang Barat dan Likupang Timur, deretan pasir menjulur memanjang terus melewati lengkungan pantai ke arah timur ke pinggir laut Kota Bitung, sebuah daerah prioritas Super Hub Kawasan Timur Indonesia.

Sayang, kehidupan manis nelayan dan petani mulai terusik ketika tahun 2018 PT Bhineka Mancawisata (PT BMW) bersiap-siap untuk menguasai lokasi tanah di Desa Paputungan.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara