Karena perannya yang sangat vital dan menentukan tersebut, maka industri harus dibangun dan dikembangkan secara kokoh dan kuat sehingga memberi andil yang besar bagi terwujudnya program pembangunan nasional.
Untuk itu industri harus didorong kemampuannya untuk menghasilkan produk barang dan atau jasa yang mampu bersaing dengan dunia luar baik segi kualitas maupun harganya. Sekaligus mampu bertahan/tegak/survive jika terjadi krisis. Untuk mewujudkan Industri seperti ini, maka peran penelitian sangat penting dan mendasar.
Jika ini terwujud, maka Kemandirian Bangsa yang diamanatkan oleh Presiden RI Pertama Ir. Soekarno akan terwujud dan akan berkembang menjadi bangsa yang kokoh, kuat, disegani, dihormati dan diperhitungkan bangsa lain.
Dalam kenyataan ini tidak terjadi.
Industri/produk yang menguasai hajat hidup orang banyakpun tidak berkembang. Seperti beras, gula, garam, dll.
Fakta kita harus impor, sedang potensi dalam negeri begitu besar. Produk-produk dari teknologi maju mayoritas kita impor. Jika kita siapkan suatu dana penelitian untuk membangun teknologi yang mengolah air laut menjadi garam dengan kualitas terbaik, maka kita akan menjadi eksportir garam yang handal.
Demikian pula dengan beras. Kita bisa kembangkan penelitian untuk hasilkan bibit-bibit unggul padi(seperti yang dihasilkan BATAN dengan teknologi nuklir) dengan produksi yang berlipat ganda, sehingga bisa mengurangi impor malah kita bisa ekspor.
Demikian pula dengan industri maju lainnya seperti produk kapal laut, pesawat terbang, mobil, senjata, energi, dll.
Jika ada sinergi antara industri dan dunia penelitian, Indonesia mampu melakukannya.
Mengapa ini terjadi?
Sudah jadi rahasia umum karena ada konspirasi orang dalam dan luar (popular saat ini disebut MAFIA) untuk membuat Indonesia terus bergantung pada produk luar negeri, karena ada keuntungan besar yang diraih mereka.
Contoh konkrit yang sedang hangat-hangatnya terjadi perdebatan di masyarakat tentang VAKSIN NUSANTARA dan Teknologi Cuci Otak kreasi dari Dokter Terawan.
Prestasi yang dicapai ini yang dirasakan masyarakat yang menjadi kebanggaan bangsa, seharusnya didukung Pemerintah dengan memberi biaya penelitian untuk pengembangannya sehingga vaksin tersebut bisa diproduksi massal untuk kepentingan rakyat serta di ekspor.
Demikian pula penderita untuk berobat cuci otak dari luar negeri akan banyak masuk ke Indonesia yang semuanya berdampak pada masuknya devisa. Namun ini dihambat dan dihebohkan karena ada pihak-pihak yang tidak nyaman dan takut kehilangan keuntungan tanpa peduli dengan penderitaan rakyat.
Bertolak dari hal-hal tersebut diatas, maka jabatan Ketua Dewan Pengarah BPIP ex-officio menjadi Ketua Dewan Pengarah BRIN yang dijabat oleh Megawati Soekarnoputri bagi Penulis adalah tepat karena kebutuhan riel saat ini.
Peran Presiden Jokowi untuk mewujudkan pertumbuhan Industri Yang kuat dan kokoh dalam menunjang pembangunan nasional menuju Kemandirian Bangsa, maka sosok Megawati sebagai tokoh bangsa dan tokoh politik yang memiliki pengaruh luas horizontal dan vertikal, sangat dibutuhkan karena tantangan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut diatas (para Mafia) sangat berat dimana melibatkan berbagi pihak yakni oligarki oknum penguasa dan pengusaha, birokrat, politisi, cendekiawan, penegak hukum, dll.
Peran Megawati antara lain adalah mengarahkan agar dana-dana penelitian di tahun-tahun yang akan datang meningkat, pembangunan SDM peneliti meningkat, laboratorium dan peralatan teknologi penelitiannya dibaharui dan diganti yang canggih, penelitian harus bersinergi dengan dunia industri (baik barang maupun jasa), koordinasi dari berbagai lembaga berjalan sinergis, dukungan politik terjamin, yang semuanya terarah untuk terwujudnya kemandirian bangsa yang rakyatnya hidup adil yang berkemakmuran dan makmur yang berkeadilan dalam bingkai NKRI berlandaskan Pancasila.
Penulis:
Markus Wauran
Wakil Ketua Dewan Pendiri HIMNI.
