
Penulis: Tim Redaksi
Olly Dondokambey Dampingi Megawati Terima Dubes Rusia, Kenang Sejarah Panjang Persahabatan Dua Bangsa
Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai pertemuan bersejarah di kediaman Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2026).
Megawati menerima kunjungan Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, dalam sebuah pertemuan yang sarat makna diplomatik dan historis.
Turut mendampingi Megawati dalam pertemuan tersebut, mantan Gubernur Sulawesi Utara sekaligus tokoh senior PDI Perjuangan, Olly Dondokambey.
Pembicaraan berlangsung sangat akrab dan hangat, diselingi canda tawa, sekaligus mengulik kembali lembaran sejarah panjang hubungan Rusia dan Indonesia yang telah terjalin sejak tahun 1950, ketika negeri beruang merah itu masih bernama Uni Soviet.
Doktor Kehormatan dan Bintang Persahabatan
Kedekatan Megawati dengan Rusia bukan sekadar hubungan diplomatik formal. Pada tahun 2003, Megawati menerima gelar Doktor Kehormatan dari Moscow State Institute of International Relations (MGIMO), salah satu institusi akademik bergengsi di Rusia.
Pengakuan itu berlanjut pada 2021, ketika Presiden Vladimir Putin secara resmi menganugerahkan State Order of Friendship kepada Megawati atas kontribusinya yang dinilai luar biasa dalam mempererat hubungan antara Rusia dan Indonesia.
Warisan Bung Karno: Fondasi Persahabatan yang Kokoh
Kedekatan yang dirasakan hari ini sesungguhnya berakar jauh ke belakang, dibangun oleh tangan sang proklamator, Presiden Soekarno.
Bung Karno menjalin persahabatan erat dengan pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev, yang pernah berkunjung langsung ke Indonesia pada tahun 1960.
Bung Karno sendiri tercatat empat kali mengunjungi Uni Soviet: pada 1956, 1959, 1961, dan 1964 — sebuah intensitas diplomasi personal yang mencerminkan betapa strategisnya hubungan kedua bangsa kala itu.
Uni Soviet adalah mitra sejati Indonesia di masa-masa terberat. Dukungannya tidak tanggung-tanggung – mencakup bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, kesehatan, hingga militer.
Stadion GBK dan GANEFO: Buah Persahabatan yang Masih Berdiri Tegak
Ketika Indonesia diremehkan dunia soal kesiapan menyelenggarakan Asian Games, Bung Karno tidak berdiam diri.
Ia berangkat ke Uni Soviet, dan pulang membawa sesuatu yang mengubah wajah bangsa: dana pembangunan Stadion Gelora Bung Karno (GBK) – venue kebanggaan yang kita saksikan hingga hari ini, tempat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962.
Tak berhenti di sana. Dengan dukungan Uni Soviet pula, Indonesia mampu menggelar olimpiade tandingan bersejarah: Games of the New Emerging Forces (GANEFO) pada 1963, sebuah pernyataan keras Soekarno melawan dominasi Barat di panggung olahraga dunia.
Ketika Amerika Berkata Tidak, Uni Soviet Berkata Ya
Salah satu babak paling dramatis dalam sejarah ini terjadi di awal 1960-an, ketika Indonesia berjuang merebut Irian Barat dari cengkeraman Belanda. Indonesia meminta bantuan Amerika Serikat, namun Washington berkata tidak.
Bung Karno lalu mengetuk pintu Moskow. Jawabannya berbeda sepenuhnya: Indonesia menerima pesawat pembom Tupolev-16, jet tempur MiG, kapal selam, beserta para teknisi yang mendampinginya. Irian Barat pun akhirnya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Sejarah berulang di era kepresidenan Megawati. Ketika Indonesia didera embargo militer Amerika Serikat dan Inggris pada 2003, Presiden Vladimir Putin hadir sebagai mitra yang tidak meninggalkan di saat sulit.
Dari kunjungan Megawati ke Rusia kala itu, Indonesia mendapatkan pesawat tempur Sukhoi dan membuka jalan bagi kerja sama strategis di bidang kedirgantaraan, sebuah tonggak pertahanan yang dampaknya masih dirasakan hingga kini.
