Berita Utama

Momen Haru di Dili: Megawati Bertemu Eks Kader PDI Timor Timur Usai 27 Tahun Berpisah

Momen Haru di Dili: Megawati Bertemu Eks Kader PDI Timor Timur Usai 27 Tahun Berpisah
Megawati Soekarnoputri dengan eks kader PDI Timor Timur di KBRI Dili, Kamis (9/7/2026). (Foto: Monang Sinaga).

Penulis: Rim Redaksi

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dili, Timor-Leste, menjadi saksi pertemuan penuh emosi antara Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri dengan ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) yang menetap di ibu kota Timor-Leste itu, Kamis (9/7/2026) malam waktu setempat.

Acara ramah tamah tersebut turut dihadiri keluarga besar Megawati, termasuk Puti Guntur Soekarno dan Romy Soekarno, bersama sejumlah petinggi PDI Perjuangan seperti Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto, Ketua DPP Bintang Puspayoga, Ahmad Basarah, Andreas Pareira, hingga Andi Widjajanto.

Yang membuat suasana malam itu istimewa, hadir pula sejumlah warga lokal Timor-Leste yang dulunya merupakan pengurus PDI di wilayah Timor Timur sebelum jajak pendapat pemisahan pada 1999.

Megawati mengungkapkan rasa harunya berada di gedung KBRI Dili yang menurutnya terasa layaknya rumah sendiri.

Ia berharap gedung perwakilan Indonesia itu terus menjadi tempat berlindung bagi seluruh WNI di Timor-Leste, sekaligus mengingatkan warga yang hadir untuk senantiasa menjunjung kehormatan bangsa sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

Kesaksian yang Mengguncang Panggung

Suasana hangat berubah khidmat saat beberapa mantan pengurus PDI era 1990-an diberi kesempatan naik panggung membagikan kenangan mereka.

Martin Anastasio, pengurus PDI Perjuangan Timor Timur periode 1996–2000, membuka kesaksian dengan mengenang tekanan dan intimidasi berat yang dihadapi kader partai menjelang gejolak referendum 1999.

Di tengah situasi genting itu, ia dan rekan-rekannya memilih tetap setia pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi serta instruksi dari Ketua Umum.

“Saya tetap memilih jalan organisasi. Saya lebih rela meminta Mama Megawati harus hadir langsung ke Timor Timur saat itu untuk membantu meneduhkan situasi dan menyelesaikan permasalahan yang ada,” ungkap Martin, disambut tepuk tangan riuh hadirin.

Kesaksian berikutnya datang dari Cesar Aleixo Brandao, mantan Ketua Ranting PDI-P Kecamatan Atauro di Pulau Kambing.

Begitu mendapat kabar dari Sekretaris PDI Provinsi kala itu, Roni Hutagaol, bahwa “Mama Mega” telah mendarat di Dili, Cesar nekat menyeberangi lautan selama tiga jam menggunakan kapal dari Pulau Atauro demi bisa hadir.

Cesar juga menceritakan pengalaman pahitnya menghadapi interogasi dan penahanan oleh aparat keamanan setempat akibat memegang teguh mandat “jalan tengah” yang mengutamakan perdamaian sesuai arahan Megawati.

“Saya mengalami banyak sekali ujian fisik dan mental saat itu, tapi saya bersyukur karena Tuhan Yang Mahakuasa tetap melindungi saya,” ujar Cesar sambil menahan haru.

Pesan Demokrasi yang Tersimpan 27 Tahun

Momen paling menyentuh datang ketika Cesar membuka kembali ingatan tentang pertemuan singkat 15 menit di kawasan Pantai Farol pada Juli 1999, tak lama sebelum referendum digelar.

Dalam pertemuan itu, Megawati menyampaikan pesan yang hingga kini masih ia simpan erat.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara