
Megawati Soekarnoputri menegaskan kembali sikapnya yang menolak invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003, bahkan saat hubungan pribadinya dengan Presiden AS George W. Bush ketika itu tetap terjalin baik.
Ketua Umum PDI Perjuangan itu menyampaikan hal tersebut dalam pertemuan dengan Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar Irak untuk Indonesia, Ammar Hameed Saadallah Al-Khalidy, di kediamannya di Menteng, Jakarta, Senin (27/4/2026).
Pertemuan berlangsung hangat dengan membahas situasi terkini di Timur Tengah sekaligus mempererat hubungan historis Indonesia–Irak yang tahun ini memasuki usia ke-76.
“Saya ini berteman dengan George W Bush, Presiden AS saat itu, tapi sikap politik kami berbeda, saya menolak serangan AS terhadap Irak tahun 2003 saat saya masih Presiden Indonesia,” kata Megawati.
Irak Simpan Jejak Sejarah Kunjungan Soekarno ke Baghdad
Al-Khalidy mengawali perbincangan dengan mengenang kunjungan Presiden Soekarno ke Baghdad pada 1961. Ia menyebut dokumentasi kunjungan bersejarah itu masih tersimpan hingga hari ini.
“Kami masih menyimpan film dokumenter kunjungan bersejarah tersebut,” ujar Al-Khalidy.
Diplomat Irak itu juga mengapresiasi konsistensi sikap Megawati dalam menjaga kedaulatan negara-negara Timur Tengah, khususnya ketika ia menjabat sebagai Presiden Indonesia.
“Hubungan Indonesia dan Irak sudah masuk tahun ke-76, kami terus berharap tetap kuat dan hangat, kami juga tahu sikap Ibu Megawati saat menjadi presiden yang menolak serangan terhadap Irak tahun 2003,” tuturnya.
Soal kondisi geopolitik terkini, Al-Khalidy menegaskan posisi resmi pemerintah Irak yang menolak seluruh bentuk eskalasi militer di kawasan.
“Pemerintah kami secara resmi mengutuk serangan AS dan Israel ke Iran, namun juga mengutuk serangan balasan Iran terhadap negara-negara tetangganya. Kami menolak perang ini, kami menjunjung tinggi mekanisme dialog, negoisasi dan perdamaian,” tegasnya.
Megawati: Serangan ke Negara Berdaulat Langgar Piagam PBB
Merespons paparan tersebut, Megawati menyatakan bahwa serangan terhadap negara merdeka merupakan pelanggaran serius terhadap Piagam PBB dan Dasa Sila Bandung.
Ia juga mengenang kunjungannya ke Amerika Serikat pasca-tragedi 11 September 2001 sebagai pemimpin asing pertama yang menemui Presiden Bush untuk menyampaikan simpati sekaligus memberikan batasan tegas.
“Saya presiden pertama yang datang ke AS setelah peristiwa 11 September bertemu Presiden Bush menyampaikan simpati saya dan mengutuk terorisme, tapi saya juga menyampaikan penolakan saya mengaitkan terorisme dengan ajaran Islam,” tegas Megawati.
Diskusi turut menyentuh warisan pemikiran Bung Karno, khususnya pidato “To Build the World Anew” yang disampaikan di PBB pada 1960.
Al-Khalidy mengaku kagum dengan visi Soekarno yang sudah melontarkan gagasan reformasi PBB jauh sebelum isu tersebut ramai dibahas sejak 1993.
“Ternyata Bung Karno sudah melontarkan ide reformasi PBB di tahun 1960 melalui pidatonya, jauh sebelum pembahasan masalah reformasi PBB yang ramai dibahas sejak tahun 1993,” ungkap Al-Khalidy.
Di penghujung pertemuan, Megawati menyerahkan cendera mata berupa buku-buku Bung Karno, biografi politiknya dalam bahasa Arab, serta kemeja tenunan Endek dari Bali.
“Harapan saya, kalau Yang Mulia memakai baju ini akan selalu ingat saya dan Indonesia,” kata Megawati sambil tersenyum, disambut hangat oleh Al-Khalidy, “Tentu yang Mulia.”
