Tahuna, BeritaManado.com – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) melaksanakan Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Tahun 2022 ini di Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
Adapun tuan rumah adalah Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST).
Sidang yang berlangsung tanggal 28-31 Januari 2022 itu dihadiri oleh sekitar 372 orang pimpinan gereja dan lembaga mitra secara luring maupun daring.
Persidangan ini dimaksudkan untuk berdoa bersama, merayakan kasih dan pimpinan Tuhan bagi gereja-gereja di masa sulit akibat pandemi Covid-19, serta membicarakan kegiatan pelayanan gereja-gereja di Indonesia.
Kali ini, Sidang MPL-PGI bergelut dengan pikiran pokok “Spiritualitas Keugaharian: Membangun Keadaban Publik demi Pemeliharaan Bumi sebagai Sakramentum Allah” di bawah terang Tema: Aku adalah yang Awal dan yang Akhir (bdk. Wahyu 22:12-13).
Pikiran pokok tersebut ingin menegaskan 3 hal, yang kemudian menjadi pesan sidang MPL-PGI 20022, yaitu: spiritualitas ugahari, keadaban publik, dan pemeliharaan bumi sebagai sakramentum Allah.
1. Spiritualitas Ugahari
Gereja-gereja anggota PGI berkomitmen untuk menghidupi spiritualitas ugahari.
Pandemi Covid-19 makin menyadarkan gereja tentang betapa pentingnya berugahari.
Di hadapan ancaman virus, gereja menyadari bahwa semua manusia adalah makhluk yang terbatas dan rapuh, sekaligus dikaruniai daya untuk bertahan dan menang atas kesulitan.
Untuk bertahan dan berhasil, manusia tak dapat melakukannya sendiri.
Manusia membutuhkan sesamanya dan mesti menggunakan sumber daya alam secara bijak.
Spiritualitas mapalus dari Sulawesi Utara makin memperkuat nilai hidup saling menopang ini.
Keserakahan manusia mengakibatkan rusaknya relasi antar manusia dan merusak pula relasi dengan ciptaan lain.
Pandemi sepanjang dua tahun ini menolong kita untuk makin hidup hemat, bertenggang rasa dengan sesama, berbagi sumber daya untuk mampu mengatasi dampak pandemi, dan tidak merusak keseimbangan alam melalui eksploitasi yang tak terkendali.
Spiritualitas ugahari yang bertujuan membangun kehidupan yang adil dan sejahtera hendaknya dapat memelihara harapan dan semangat seluruh warga, khususnya yang selama ini sulit beroleh akses terhadap kehidupan bersama yang adil.
Dengan berjuang dan bekerja keras, segenap lapisan masyarakat hendaknya dapat bersinergi dan berkolaborasi memanfaatkan segenap potensi karunia Tuhan yang dapat dikelola bersama untuk kebaikan bagi semua.
2. Keadaban Publik

